Oleh Bahrul Ulum*
Hidayatullah.com–Cepat atau lambat, setiap orang akan kembali ke akhirat. Perpindahan ini sering diistilahkan dengan kematian. Sejatinya akhirat kehidupan yang hakiki. Sebab di dalamnya manusia akan merasakan keabadian.
Hanya ada dua kondisi yang dialami di sana, bergelimang nikmat atau merintih dalam adzab dan siksaan. Kondisi seperti ini dialami sejak manusia di alam kubur di mana di dalamnya ada kenikmatan dan juga ada adzab.
Apa yang dirasakan di akhirat berkaitan erat dengan ulah di dunia. Tidak ada perbuatan yang terabaikan. Catatan Allah SWT sangat detail dan semua amalan tetulis dengan rinci.
Adilnya hukuman dan pembalasan Allah SWT tidak saja dirasakan manusia, tapi juga hewan. Dalam sebuah Hadits disebutkan tandukan seekor kambing kepada kambing lain ada perhitungan dan balasannya.
Hewan hakikatnya bukan makhluk yang dibebani perintah dan larangan (mukallaf). Tapi Allah SWT tetap memberlakukan qishos dan saling membalas. Syaikh Utsaimin berkata, “Allah ingin memperlihatkan kesempurnaan sifat adil-Nya kepada anak cucu adam.” (Syarah Riyadusshohin, 1/241)
Apalagi menyangkut hak sesama mansuia. Semua akan mendapatkan haknya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan agar semua sengketa diselesaikan sebelum wafat. Karena jika di dunia penyelesainnya lebih mudah. Sedangkan di akhirat, tidak.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (Riwayat Al-Bukhari).
Setiap manusia akan menuntut haknya. Tidak ada penyelesaian kecuali menebus. Orang yang mendzalimi harus menyerahkan sebagian kebaikannya kepada orang yang didzaliminya. Jika tak lagi memiliki kebaikan, ia akan memikul sebagian keburukan orang yang pernah didzaliminya.
Itulah sebabnya ada di antara manusia yang bangkrut dan celaka di akhriat. Bukan karena tidak membawa kebaikan. Ia celaka karena amal kebaikannya terkuras untuk menebus kedzaliman yang pernah diperbuatnya.
أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Hati-Hati Bertindak
Pertanggung jawaban itu akan semakin berat jika berkaitan dengan kebijakan. Sebab dampak dari satu kebijakan tidak saja menimpa satu atau dua orang, tapi banyak orang. Kebijakan yang dzalim tentu akibatnya tidak ringan. Sebab yang menjadi sasaran kedzaliman sangat banyak. Alhasil, penyelesainnya sangat rumit. Satu kebijakan dzalim pasti sangat merepotkan baginya. Apalagi jika jumlah kebijakan tersebut meruah. Sulit dibayangkan dahsyatnya kesulitan yang akan melilit dirinya.
Memang kesulitan itu terkadang tak langsung dirasakan di dunia. Bahkan tak jarang para pelaku bergelimang nikmat. Situasi tersebut bukan tanda mereka lolos dari hukuman. Sebab Allah SWT terkadang menunda siksaan para pelaku kedzaliman.
Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Ibrahim [14]: 42)
Itu sebanya, sebagian salaf lebih memilih menghindari jabatan. Sebagian lain mengambilnya dengan penuh kehati-hatian. Karena mereka mengetahui beratnya pertanggung jawabannya di akhirat. Umar bin Khattab misalnya. Dengan segala prestasi yang menghiasi lembaran hidupnya sangat khawatir jika rakyatnya susah akibat kebijakannya. Sehingga terkadang ia menyamar sebagai rakyat biasa agar bisa mengetahui secara langsung kondisi dan keluhan rakyatnya.
Berbuat adil adalah perintah sangat penting dalam Islam. Ia berlaku umum tanpa memandang latar belakang. Kepada orang yang sangat kita benci sekalipun kita diperinthakan berbuat adil.
Pada zaman Ali bin Abi Thalib, pernah terjadi peristiwa menghebokan. Baju besi milik khalifah dicuri. Dugaan tertuju kepada seorang Yahudi, warga minoritas kala itu. Tapi meski demikian, prosedur peradilan islam tetap berjalan normal. Status Ali sebagai khalifah yang berperkara dengan Yahudi yang minoritas sedikitpun tak mempengaruhi jalnnya sidang. Ali tetap diminta menghadirkan bukti. Tapi pada akhirnya Ali tak bisa membuktikan hingga akhirnya Syuraih, hakim kala itu memutuskan bahwa baju besi itu adalah milik si Yahudi.
Keadilan adalah kebutuhan setiap manusia. Jika ia tegak maka kedzaliman akan lenyap. Menegakkan keadilan hanya ada satu caranya. Yaitu cara yang diajarkan oleh Dzat yang Maha Adil yaitu Allah. Selama manusia tidak kembali kepada cara tersebut mustahil keadilan bisa terwujud.
*Pengajar di STAIL Hidayatullah Surabaya
Tonton video Sang Penakluk Hati Kaum LGBT di sini