Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Tantangan Golkar Pasca-Setnov

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2017 13:50 1:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2017 13:50
Bagikan
Penetapan status tersangka Setya Novanto (setnov) oleh KPK atas kasus Korupsi E-KTP
Bagikan

Oleh: Ridwan Budiman

 

Penetapan status tersangka Setya Novanto (setnov) oleh KPK atas kasus Korupsi E-KTP, memunculkan situasi pelik bagi Partai Golkar. Partai yang pernah berjaya di era Orde Baru itu setidaknya menghadapi dua tantangan penting ke depan.

Pertama, Pilkada Serentak 2018, khususnya di Jawa Barat. Kedua, regenerasi kepemimpinan di internal Partai Golkar.

Dua momentum ini harus dilakukan secara paralel, cepat, namun juga hati-hati. Karena jika proses konsolidasi tidak selesai, faksi-faksi yang ada di tubuh Golkar berpotensi menjadi kontraproduktif bagi partai yang memiliki suara kedua terbesar di Jawa Barat itu.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Diketahui, dalam proses Pilkada Jawa Barat, Partai Golkar telah memutuskan untuk mendukung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sebagai Bacagub. Meskipun awalnya surat penetapan tersebut diduga hoaks, namun fakta belakangan menegaskan bahwa surat yang ditandangani langsung oleh Setya Novanto tersebut adalah sikap resmi institusi.

Keputusan Partai Golkar dukung Ridwan Kamil di provinsi berpenduduk terbesar di Indonesia ini tak ayal memunculkan friksi di internal Partai Golkar. Imbasnya, Ketua DPD Partai Golkar Dedi Mulyadi ikut terseret konflik karena menilai proses penetapan tersebut tidak melalui jenjang pengkaderan serta mekanisme yang lazim.

Secara politik elektoral, sebenarnya PDI Perjuangan pemegang kunci terbesar perolehan suara di Pemilu 2014. Partai besutan Megawati ini mampu untuk mencalonkan sendiri Pilgub Jabar 2018 karena memeroleh jumlah minimal 20 kursi. Sedangkan Golkar hanya berada di urutan kedua dengan perolehan 17 kursi. Sedangkan, PKS memiliki 12 kursi setara dengan Partai Demokrat.

Namun di tengah gelombang isu penistaan agama, ketiadaan figuritas di internal PDIP Jawa Barat, serta konfigurasi sosio-religiusitas masyarakat atas persepsi yang dibangun terhadap partai ini, praktis hanya Golkar dan PKS saja yang memegang kendali Pilgub Jabar.

Selaras di tingkat daerah, di tingkat nasional pun berimpilkasi mendesak untuk regenerasi kepemimpinan ketua umum. Beberapa nama telah muncul, dengan masing-masing dukungan dari proksi politiknya. Ada yang berlatar belakang menteri, politisi di DPR, hingga pengurus di internal Golkar yang saat ini masih menjabat.

Melihat Masa Depan Golkar

Jika membaca sejarah, khususnya di beberapa buku tentang Partai Golkar, misalnya di The Golkar Way, terjadi pergeseran corak kepemimpinan di internal Partai Golkar. Sejak Orde Baru hingga reformasi, Golkar berhasil membangun sistem kelembagaan politik yang kuat karena memiliki jaringan yang terstruktur secara rapi dengan melibatkan militer dan birokrasi.

Di bawah kendali Soeharto sebagai presiden kala itu, muncul adagium ABG (ABRI, Birokrasi, dan Golkar). Triangle kekuatan politik Orde Baru itu terus melanggengkan kekuatan dalam struktur patront client terhadap rezim saat itu.

Dampaknya, Golkar menjadi organisasi yang tidak otonom (Tandjung, 2007). Berbagai sikap dan keputusan politiknya tidak dapat terlepas dari Soeharto sebagai great father-nya. Dalam fase ini, Golkar berhasil membangun basis ideologi dan struktur yang solid karena ditopang oleh penguasa sebagai basis utama ekonomi-politik.

Kaderisasi yang berhasil dari proses ideologisasi politik ini munculah tokoh yang bernama Akbar Tandjung. Sosok yang lebih berwatak akademisi ini berhasil menjaga marwah Partai Golkar di tengah turbulensi politik saat reformasi terjadi.

Partai Golkar bertransformasi menjadi partai yang lebih mandiri, salah satunya karena tidak lagi mendapatkan aliran dana, khususnya dari Yayasan Dakab yang memang sengaja dibentuk oleh Soeharto bertujuan untuk pendanaan Partai Golkar.

Aturan perundang-undangan pun diubah. Birokrasi dan Militer (ABRI) harus menjadi organ vital negara yang harus bersikap netral. Fakta ini berakibat dua hal: Golkar menjadi lebih independen dalam mengambil kebijakan politik, tapi di sisi lain kehilangan basis massa besar yang berasal dari unsur militer dan sipil.

Tak ayal, kondisi membuat Partai Golkar harus cepat melakukan perubahan yang transformatif dan adaptif menjadi catch-all party. Sistem yang dibangun bukan lagi otokratik, tapi oligarki. Pengambilan kebijakan bukan lagi ditentukan oleh satu orang, tapi oleh beberapa kelompok kekuatan.

Sistem unggul (merit system) tercipta. Termasuk kalangan pengusaha (politisi saudagar) pun menghiasi struktur partai berlambang pohon beringin ini. Konsekuensi politik ini menjadi relevan di saat negara tidak lagi menjadi aktor tunggal pendukung anggaran, juga di tengah  persaingan politik yang kian plural.

Meskipun demikian, pasca kepemimpinan Akbar Tandjung, ketokohan Partai Golkar menjadi lebih merata. Siapa yang punya kekuatan ekonomi, dia lah yang lebih berkuasa. Partai Golkar tidak lagi bekerja atas dasar political driven tapi economic driven.

Bukan lagi dibangun berdasarkan ideologi yang mengakar. Tapi, hubungan patront-client dibentuk berdasarkan siapa pemilik modal yang paling besar. Tak ayal, seorang ketua partai dapat menjadi pimpinan DPR sekaligus, karena proses pendanaan partai sepenuhnya bergantung kepada siapa saudagar yang mampu membiayai partai.

Pasca Setnov

Kondisi Golkar yang terjadi saat ini, seperti era 20 tahun silam di atas dengan beberapa faktor determinan. Krisis kepemimpinan di tengah konstelasi politik yang harus segera direspon secara cepat. Setya Novanto telah memilih Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt) untuk menyelamatkan Golkar. Idrus Marham dikenal sebagai sosok yang dingin dan rasional dalam menghadapi polemik.

Meskipun demikian, Idrus Marham lebih dikenal sebagai politisi berlatar belakang akademisi. Secara historis, politisi yang berlatar belakang akademisi relevan untuk menjaga marwah partai di kala krisis, namun tidak memiliki sumber daya kekuatan ekonomi-politik yang mampu menggerakkan untuk menghadapi ekspansi yang diperlukan menghadapi kontestasi politik elektoral, seperti Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Dua indikator pemilu di atas harus menjadi acuan untuk Partai Golkar segera berbenah dan menentukan ketua umum secara definitif dengan meminimalisir gejolak dari masing-masing faksi. Jika Golkar berhasil melalui krisis ini dengan meraih banyak kemenangan di Pilkada serentak 2018, bukan tidak mungkin akan menjadi pesaing utama PDI Perjuangan di Pemilu 2019. Tapi, jika sebaliknya, Golkar akan kembali identik dengan kapal Titanic yang megah namun karam (A Sinking Titanic).*

Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik CIDES Indonesia, alumni Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, dan Aktivis Literasi Jakarta 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Ulama Memahami Zaman, Mencarikan Solusi Setiap Persoalan”
Tulisan selanjutnya Pseudo Science dan Ranjau Akidah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?