Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Dilema Karakter Wartawan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Juni 2021 10:14 10:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Juni 2021 10:14
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | SEORANG pimpinan ormas Islam pernah mengemukakan keheranannya kepada saya tentang tingkah polah wartawan yang menurutnya “kurang adab”. Saya lalu bertanya mengapa beliau sampai pada kesimpulan itu?

Beliau kemudian bercerita tentang bagaimana cara wartawan masuk ke ruangan, duduk di kursi, mengajukan pertanyaan, sampai menyodorkan alat rekam ke dekat mulut beliau. Saya tersenyum mendengar cerita itu. Saya lalu menjelaskan kepada beliau tentang dilema karakter wartawan.

Dulu, di masa awal menjadi jurnalis, saya kerap diberi nasehat oleh para jurnalis senior agar selalu menempatkan narasumber, siapa pun dia, sejajar dengan posisi kita. Di mata wartawan, seorang pejabat dan rakyat sama saja. Begitu juga seorang hartawan tak ada bedanya dengan karyawan. Semua sama, semua sumber berita! Tak ada yang boleh diposisikan berbeda.

Ya. Saya bisa memahami tujuan dari nasehat itu. Seorang jurnalis yang kagum berlebihan kepada seorang selebritis, misalnya, tentu akan sulit bersikap kritis ketika sang selebritis harus ia kritisi. Rasa kagum akan mengaburkan pandangannya. Laporannya pun tak akan obyektif.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Begitu juga rasa hormat yang berlebihan kepada seorang pejabat akan menyulitkan sang wartawan menggali informasi lebih dalam kepadanya. Bahkan, sang wartawan tak akan bisa mendesaknya, meminta waktunya lebih banyak, atau menawar informasi-informasi yang off the record. Akibatnya, ia  hanya akan memperoleh data “apa adanya”.

Saya teringat kepada seorang reporter alumni sebuah pesantren besar untuk mewawancarai pimpinan pesantren tempat ia dulu mondok. Pimpinan pesantren tersebut seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh masyarakat yang berpengaruh.

Hasilnya, dangkal, sangat normatif, dan sudah tentu tak menarik. Mengapa? Karena sang wartawan tidak menempatkan dirinya sejajar dengan narasumbernya. Ia malu dan sungkan. Ia telah menempatkan narasumber berada di atasnya.

Keadaan seperti Ini juga berlaku bila sang wartawan menempatkan narasumber berada di bawahnya. Ia akan memandang remeh narasumbernya. Keinginannya untuk menggali informasi dari narasumber akan hilang, atau setidaknya berkurang. Instingnya menjadi tumpul. Data-data penting menjadi luput dari pengamatannya.

Jadi sebenarnya tak ada yang salah dengan nasehat para jurnalis senior tadi. Hanya saja, jika sang wartawan sering menempatkan siapa pun lawan bicaranya sejajar dengan dirinya, maka lama-lama hal itu akan menjadi kebiasaan. Dan, kebiasaan lama-lama akan berubah menjadi karakter.

Saat itulah, jika tak hati-hati, seorang wartawan akan kehilangan adab. Ia merasa tak perlu memint izin terlebih dahulu untuk duduk di sebuah kursi, tak perlu menghadapkan posisinya ke arah lawan bicaranya ketika wawancara, bahkan tak ada lagi basa-basi ketika memulai wawancara.

Tampaknya, sang wartawan yang tadi disebutkan oleh pimpinan ormas Islam, telah mengidap penyakit “kurang adab” ini. Bahkan, saya pernah mendengar seorang narasumber marah ketika diwawancarai seorang narasumber karena alat rekam sang wartawan diulurkan ke arah mulut narasumbernya, sedang wajah sang wartawan melihat ke arah yang lain. Ini betul-betul tidak sopan!

Seharusnya seorang wartawan, selain memposisikan narasumbernya sejajar dengan dirinya, juga harus mampu membuat nyaman narasumber selama berada di dekatnya. Jika narasumber telah nyaman, maka tak akan ada kesenjangan antara wartawan dan narasumber. Jarak tak akan terpaut jauh, posisi pun tak akan njomplang. Wawancara akan mengalir lancar. Informasi akan terkorek dengan dalam.

Mana mungkin sang narasumber merasa nyaman jika tak ada adab yang ditunjukkan sang wartawan. Yang ada malah emosi. Catat! Menunjukkan adab yang baik adalah cara ampuh membuat nyaman narasumber.

Adab ini penting dalam semua profesi, tak hanya jurnalis. Tak heran jika para ulama selalu mendahulukan adab sebelum ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Ibnu al Mubarok juga menjelaskan, “Kami mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan ilmu (hanya) 20 tahun.” Wallahu a’lam *

Penulis seorang wartawan, pengurus MUI Pusat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bekas Menteri Portugal: Islam Bukan Agama Asing, Ia sudah Ada di Eropa Sejak Abad ke-8
Tulisan selanjutnya Mantiq Tuan A. Hassan dalam Ilmu Tauhid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?