Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Zona Hitam Pendidikan Online

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2021 17:03 5:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Agustus 2021 17:03
Bagikan
ilustrasi pembelajaran jauh
Bagikan

Oleh: Wildan Hasan

Hidayatullah.com | TELAH  dua tahun kita hidup bersama Covid-19. Semua aktifitas kehidupan berubah drastis. Interaksi dan transaksi memadati dunia maya karena tidak boleh ada pertemuan fisik khawatir corona menerpa. Kita dipaksa segera akrab dengan era disrupsi meski sama sekali belum siap.

Hasilnya seperti reformasi 98, prematur. Serba nanggung, tidak jelas, tidak tepat dan minim hasil.

Aspek paling menderita akibat Covid-19 adalah dunia pendidikan. Meskipun pendidikan tidak harus melulu melalui institusi bernama sekolah, harus diakui sekolah belum tergeser sebagai wasilah mainstream yang dipercaya oleh rakyat untuk mendapatkan pendidikan. Visur corona memang memberi peringatan dan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja.

Mengingatkan bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak, banyak hikmah bisa kita ambil dari musibah pandemi ini.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Akan tetapi realita menunjukkan kepada kita bahwa kita belum siap untuk beralih model pendidikan. Masalah klasik sejak awal pandemi berupa ketiadaan alat (laptop, HP), ketiadaan jaringan, ketiadaan dana untuk membeli kuota internet, ketidakmampuan orang tua mengajar baik karena kesibukan maupun tidak memiliki kemampuan mengajar, plus yang muncul-muncul akhir-akhir ini kecenderungan anak didik kecanduan hp dan internet.

Anak menghabiskan waktu dengan hp di tangannya berbelas jam lamanya setiap hari dapat dibayangkan ekses negatif bagi fisik dan psikisnya. Di samping para orang tua mengalami tekanan mental cukup berat selain beban harus mendampingi anak melakukan pembelajaran di rumah juga beban tugas-tugas pekerjaan rumah dan tempat kerjanya yang harus diselesaikan.

Kondisi ini bisa menimbulkan stress yang mengkhawatirkan. Apabila orang tua stress kemungkinan besar anak tidak akan mendapatkan pendampingan dan pengajaran yang baik di rumah. Akhirnya anak dibiarkan bebas belajar sendiri di rumah dengan hp di tangannya tanpa pengawasan.

Tingkat stress yang semakin meningkat bisa menimbulkan dua hal. Pertama, orang tua akan mencari solusi dengan mendiskusikan persoalan tersebut dengan Guru dan sekolah anaknya. Kedua, orang tua melepas tanggung jawab dan tidak lagi peduli dengan pendidikan anaknya. Cukup melihat anaknya belajar, ikut PTS-PAS, wisuda, dapat ijazah, selesai. Tanpa peduli kualitas pendidikan yang didapatkannya bisa jadi sangat rendah.

Salah satu kelemahan model pendidikan daring adalah sulit tercapainya pendidikan adab kepada peserta didik. Pendidikan adab tidak tersedia di internet. Pendidikan adab tersedia pada interaksi langsung melalui peneladanan dan pembiasaan.

Di era disrupsi, pengetahuan dan keterampilan apa pun bisa didapatkan dan dipelajari di internet tanpa harus duduk dibangku sekolah dan bangku kuliah. Saatnya nanti apabila kompetensi lebih dihargai daripada ijazah, sekolah dan kampus akan ditinggalkan.

Sebagaimana dikatakan Rocky Gerung, ijazah itu adalah tanda pernah sekolah saja bukan tanda pernah berfikir. Kita khawatir anak-anak belajar di sekolah tanpa fikiran.

Sekolah hanya sekedar untuk menggugurkan kelaziman bersekolah anak Indonesia. Apalagi jika niatnya keliru, sekolah bukan untuk menuntut ilmu tapi agar dapat ijazah yang akhirnya bisa digunakan untuk mencari kerja. Itulah yang kemudian membuat sekolah menjadi mahal dan mengakibatkan rusaknya mutu pendidikan.

Apabila kondisi di atas masih berlangsung sampai satu tahun ke depan, apalagi bertahun-tahun berikutnya kiranya pendidikan kita akan kolaps. Pendidikan kita berada di zona hitam.

Orang tua akan bersikap tatkala terjadi akumulasi kekecewaan, ketidakmampuan dan kemarahan terhadap sekolah khususnya dan pemerintah. Orang tua (khususnya yang menyekolahkan anak di sekolah swasta) merasa mereka telah membayar untuk biaya pendidikan tetapi pembelajaran dilaksanakan di rumah dan mereka sendiri yang akhirnya mengajari anak meskipun ada panduan dari guru di sekolahnya.

Sekolah negeri mungkin tidak khawatir akan keberlangsungan sekolahnya. Semua ditanggung oleh pemerintah. Mestinya sekolah swasta dipastikan semuanya berjalan baik oleh pemerintah karena sekolah-sekolah swasta besar jasanya membantu program pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kepada pemerintah nampaknya kekesalan orang tua pada ketidakjelasan dan ketidakmampuan menanggulangi pandemi sehingga PPKM atau apa pun namanya terus diterapkan entah sampai kapan yang imbasnya lembaga-lembaga pendidikan tetap tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Di tengah kondisi demikian seyogyanya pemerintah segera melakukan langkah-langkah taktis, strategis dan mendasar agar persoalan pendidikan di masa pandemi cepat tertanggulangi. Tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena masa depan bangsa dipertaruhkan.

Kita tidak bisa memaksa diri untuk berpura-pura optimis masa depan bangsa akan baik-baik saja apabila proses pendidikan saat ini sejatinya tidak sedang baik-baik saja. Berikan kebijakan sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka dengan syarat dan ketentuan berlaku, sebagaimana aktifitas hidup di sektor lainnya yang bahkan berjalan normal tanpa mematuhi syarat dan ketentuan.

Hari ini kita dalam kondisi darurat pendidikan. Bukan hanya darurat ekonomi.

Saatnya harus memilih, pendidikan jauh lebih penting daripada soal perut. Terutama menjaga dan merawat kondisi kejiawaan anak-anak.

Prioritas kita tidak dulu soal pencapaian target pembelajaran tapi bagaimana menjaga kesehatan mentalitas anak-anak bangsa. Bagaimana pun, tatap muka adalah model pembelajaran terbaik. Allahu a’lam.*

Orang tua murid, tinggal di Bekasi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:belajar daringpandemi Covid-19Pendidikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mungkinkan Dajjal Itu Kita?
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Malaysia Jajaran Menteri Berikan Ucapan Selama Berdirinya Kampus Universitas Muhammadiyah Malaysia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?