Tidak ada istilah emansipasi wanita dalam Islam karena agama ini memandang perempuan dan laki-laki pada derajat yang sama
Oleh: Muhammad Faris
Hidayatullah.com | PEREMPUAN adalah saudara laki-laki yang diamanahi tanggung jawab dalam kepemimpinan dan keadilan. Islam agama paling ramah perempuan, karenanya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan kecuali dalam hal yang sifatnya biologis.
Hakikatnya, laki-laki dan perempuan adalah sama yang dijadikan sebagai pemimpin di muka bumi, keduanya akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki tercermin dalam nilai-nilai kemanusiaan dan hak sosial.
Seiring berkembangnya zaman, peran perempuan mengalami perubahan. Di masa lalu, perempuan hanya berperan di lingkup rumah tangga saja, namun masa kini selain sebagai ibu rumah tangga, perempuan dapat berperan menjadi pengacara, guru, pengusaha, politikus, pemberdaya masyarakat, sehingga lingkungan interaksi perempuan menjadi sangat luas.
Mereka tidak lagi difungsikan sebagai ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, dan anak bagi orang tuanya, juga difungsikan sebagai mitra kerja di dunia karirnya. Ruang kreativitas perempuan yang awalnya sedikit tertutup menjadi terbuka. Sehingga, perempuan mampu melebarkan sayap untuk mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat yang diinginkan, dengan tidak mengorbankan tanggung jawab domestiknya.
Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat mulia. Agama Islam sendiri pun sangat meninggikan derajat seorang perempuan sehingga menjadi salah satu aspek penting dalam beribadah kepada Allah.
Perempuan sendiri ialah sebuah nama/sebutan yang di pakai untuk setiap insan yang berjenis kelamin wanita dan itu sudah menjadi kodrat dari allah yang sudah di tetapkan. Pada dasarnya, perempuan memiliki hak khusus di mana ia harus dimuliakan semulia – mulianya seorang wanita dan jangan pula untuk kaum laki-laki ataupun bagi perempuan itu sendiri yang menganggap bahwasanya wanita itu ialah makhluk lemah ,makhluk yang tidak bisa melakukan banyak hal ,dll.
Perempuan menjadi modal suatu pengembangan masyarakat. Dilihat secara definisi, pengembangan masyarakat yaitu metode meningkatkan kualitas hidup seseorang yang berpengaruh terhadap proses-proses kehidupannya. Dengan kata lain, pengembangan masyarakat dapat memperbaiki kondisi kehidupan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Proses mengembangkan atau memberdayakan masyarakat dapat dikatakan sebagai dakwah bil-amal. Penjelasan tersebut dikemukakan oleh Sayyid Mutawil, dakwah lebih menekankan pada pengorganisasian dan pemberdayaan sumber daya manusia (khalayak dakwah) dalam melakukan berbagai petunjuk ajaran Islam (pesan dakwah), menegakkan norma sosial budaya (ma’ruf) dan membebaskan kehidupan manusia dari berbagai penyakit sosial (munkar).
Dengan kata lain dakwah yaitu mengorganisasikan kehidupan manusia dalam menjalankan kebaikan, menunjukannya ke jalan yang benar dengan menegakkan norma sosial budaya dan menghindarkannya dari penyakit social.
Dalam pengembangan masyarakat, dibutuhkan peran atau partisipasi aktif demi terwujudnya cita-cita bersama. Tentunya, peran tersebut tidak terlepas dari campur tangan pemerintah yang memberikan dukungan dalam birokrasi dan regulasi, selanjutnya masyarakat yang mendominasi pelaksanaan dengan tujuan masyarakat dapat melakukannya dengan mandiri.
Islam Agama Ramah Perempuan
Tidak ada istilah emansipasi wanita dalam Islam karena Islam memandang perempuan dan laki-laki pada derajat yang sama. Rasulullah ﷺ bersabda, anna al-mar’ata syaqaiqu ar-rijaali, (wanita itu saudara laki-laki). Dan Allah juga membedakan mereka dari segi ibadah dan ketaqwaan saja. Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan sebagai khalifah. Firman Allah :
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-Baqarah : 30).
Islam agama ramah perempuan, karena itu, Allâh swt. telah berbuat adil dan memberlakukan kesetaraan gender dengan terlebih dahulu ia harus menerima perjanjian dengan tuhannya.
Kesetaraan antara wanita dan laki-laki dalam al-Qur’an dapat dilihat dari fakta bahwa antara Adam dan Hawa merupakan aktor penting yang sama-sama aktif terlibat dalam drama kasih suci. Kisah kehidupan mereka di surga, karena beberapa hal, harus turun ke muka bumi, menggambarkan adanya kesetaraan peran yang dimainkan keduanya.
فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُورٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Qs.Al-A’raf : 22)
Sejalan dengan prinsip kesetaraan, maka laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak meraih prestasi dalam kehidupannya. Seperti firman Allah swt
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“ (Qs. An-Nahl : 97)
Memahami uraian di atas kita dapat memahami hal besar yang allah tetapkan bahwasamya kesetaraan antara kaum Adam dan Hawa baik perihal jenjang pendidikan, maupun ekonomi,sosial dan politik. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sederajat.
Perempuan – Perempuan Teladan dalam Al-Quran dan Sejarah Islam
- Asiah (istri firaun)
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
Artinya : “Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.”
- Siti maryam
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang sesama dengan kamu).” (QS. Ali Imram: 42)
Didalam hadist juga dijelaskan bahwasanya :
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid dan Aisyah.” (HR. Hakim 4853)
- Fatimah az-zahra
Dalam kitab fataawa adz-Dzahiriyyah di kalangan Hanafiyyah disebutkan bahwa :
“Sesungguhnya Fatimah tidak pernah mengalami haid sama sekali, saat beliau melahirkan pun langsung suci dari nifasnya setelah sesaat agar tiada terlewatkan salat baginya, karenanya beliau diberi julukan Az-Zahra”.*
Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan