Hidayatullah.com | AKU bukan pecinta bola. Gak ngerti tentang bola. Bahkan sejak lahir bisa kuperkirakan berapa kali aku nonton pertandingan bola. Kira-kira 3-5 kali. Jangan tanya kenapa, karena aku justru gak punya alasan kenapa harus menontonnya.
Tapi, beberapa hari lalu, di tengah banyaknya tugas sekolah, tiba-tiba aku pengen nonton final AFF Thailand VS Indonesia leg pertama.
Pengen, sekadar untuk pengalihan isu pikiran.
Baru beberapa menit nonton, detak jantung dan perasaanku mendadak labil. Oh, sekuat inikah mental penonton bola? Mengamati detail pergerakan cepat jagoan dan lawan di lapangan, tanpa bisa menebak dengan pasti ending-nya. Durasi sport jantung lumayan lama. Syukur ada sukam Al-Haliib yang menambah imun jiwaa.
Sesekali kubuka kolom komen penonton. Ngeri. Di tengah keringat pemain yang bercucuran, wajah lelah, cedera, tatapan kekecewaan ketika wasit bertindak samting. Penonton online tanpa beban melemparkan komen pedas, kasar, meski gak sedikit yang mengemas sindiran dengan lawakan:
“Boikot thai tea”
“Barusan dapet info lagi, katanya leg 2 diganti adu pantun”
“Saking santainya pelatih Thailand order makanan dulu, ayo Indonesia ambil kesempatan ini”
“Kiper thailand jarang banget keliatan jangan-jangan udah pulang”
“Selama di final ketemu Thailand pasukan Gajah kalah oleh burung Garuda pasukan Gajah hanya bisa di kalahkan oleh burung Ababil”.
” It’s my dream mas”
(Penonton layangan putus nyasar nonton bola, ciee yang dua kali emosi)
Selesai nonton, aku merenungi kekecewaan massal penonton. Apa yang terjadi di lapangan itu sama seperti kehidupan yang kita jalani dalam sebuah amanah.
Bola itu ibarat mimpi umat, hanya saja kita dan tim yang diberi kepercayaan untuk menggiringnya menuju gawang. Maka kita harus siap memenuhi harapan penonton yang kadang gak peduli dengan lelahmu, lukamu, bahkan menambahnya dengan komen pedas level 10.
Gak mudah menggiring mimpi di tengah kawalan musuh yang mungkin itu adalah kemalasan, kelalaian, dan kebodohan kita sendiri.
So, jangan gengsi mengoper bola mimpi ke teman dengan peran yang tepat. Mereka ada, emang untuk membantu kita mewujudkan goal.
Berlari sendirian di tengah luasnya lapangan akan melelahkanmu. Tumbang sebelum goal terwujud. Ayoo 2022 : “Work smarter, not harder!”
Demikian. Salam dari emak-emak yang akhirnya tetap memilih nonton tutorial masak dan nemanin anak nonton Nussa Rara.*
Itha M. Salbu | Guru dan IRT di Balikpapan