Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Belajar Dari Musharraf Dan Saakashvili [3]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 September 2008 09:18
Bagikan
Bagikan

Suntikan Nyali untuk SBY

Hidayatullah.com–Sesungguhnya Amerika Serikat sekarang bukan Amerika di tahun 2003, ketika petama kali pasukannya menyerang Iraq. Lima tahun berperang membuat pamor negeri adikuasa itu melorot. Kekuatan militernya menurun, terutama karena armada udaranya masih menggunakan pesawat tua.

Inilah negeri dengan utang luar negeri terbesar di dunia, lebih 9 triliun dollar. Krisis keuangan kini melanda. Sejumlah bank tutup, perusahaan raksasa terguncang. Pengangguran naik.

Apa yang terjadi di Georgia, negeri kecil pecahan Uni Soviet di kawasan Kaukasus, menjadi bukti nyata bahwa Amerika sekarang bukan Amerika yang dulu. Sekarang tentara Rusia menguasai beberapa kota di sana sebagai balasan atas serangan tentara Georgia terhadap dua provinsinya – New Ossetia dan Abkhazia — yang ingin memisahkan diri dan bergabung dengan Rusia. Sementara Amerika tak berbuat apa-apa.

Persis ketika mata dunia tertuju ke Beijing untuk pembukaan olimpiade, Georgia menyerang New Ossetia, menyebabkan tak sedikit jatuh korban, termasuk sejumlah tentara penjaga perdamaian Rusia di ibu kota Tskhinvali. Rusia langsung membalas.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Tak cukup hanya mengamankan dua provinsi sengketa tapi tentara Rusia menduduki kota strategis Gori yang terpaut hanya 40 km dari ibukota Tbilisi, dan kota pelabuhan Poti. Pelabuhan itu diduduki setelah kapal Rusia menenggelamkan kapal Georgia di Laut Hitam.

Presiden Georgia, Mikheil Saakashvili, teman dekat Amerika Serikat dan Eropa, ternyata salah perhitungan. Ia tak menduga reaksi Rusia begitu cepat dan keras, sementara teman-temannya begitu lamban, terutama untuk menanggapi gerak maju tank-tank Rusia. Sebenarnya itu gampang dicari penyebabnya. Sekitar 30% sampai 40% gas untuk Eropa disuplai Rusia.

Mereka tentu enggan cari perkara dengan Rusia hanya karena Georgia. Tanpa gas Rusia, orang Jerman atau Perancis bisa menggigil kedinginan di musim dingin yang akan datang dalam beberapa bulan ini. Maka Presiden Perancis Nicolas Sarkozy hanya bisa mengusahakan gencatan senjata yang tampaknya kurang dipatuhi Rusia.

Amerika Serikat? Ternyata para pejabat negeri adikuasa itu cuma bisa berteriak-teriak, mengancam-ancam, tanpa gerakan konkret dan bermakna, kecuali mengirim bantuan tenda dan obat-obatan. Lalu Menlu Condoleezza Rice berkunjung ke Tbilisi.

Wajar kalau Presiden Mikheil Saakashvili mengeluhkan pertemanannya dengan Amerika dan Eropa. ‘’Ketika Georgia diserang, kami harus bertanya: Kalau Barat tidak bersama kami, siapa lagi?,’’ tulis Mikheil Saakashvili seakan putus asa di koran The Washington Post, 14 Agustus 2008.

Yang terlihat aktif membantu Georgia justru pers Amerika Serikat. Mereka menggebu-gebu menyerang Rusia. Mereka tak lagi mempersoalkan bahwa Georgia merupakan pihak pertama mencari masalah. Sikap ‘’patriotisme’’ pers Amerika masih sama saja dengan dulu, ketika mereka ramai-ramai mendukung Presiden Bush menyerbu Iraq.

Di mana Presiden Bush? Apakah Amerika akan menyerang Rusia? Ternyata tidak. ‘’Saya tak melihat prospek penggunaan militer oleh Amerika Serikat ,’’ kata Menteri Pertahanannya, Robert Gates.

Bagi Rusia, Georgia di bawah Presiden Mikheil Saakashvili tak lain dari proyek Amerika Serikat dan sekutu Eropanya. Maka dengan sikap Amerika sekarang, jelas Presiden Saakashvili hanya akan menjadi korban. Nasibnya bisa menyerupai Presiden Pakistan Pervez Musharraf, teman dekat Amerika dalam perang melawan teror.

Kebencian rakyat Pakistan kepada Musharraf karena selama ini dia dianggap antek Amerika Serikat yang bekerja untuk kepentingan Amerika dengan menindas rakyatnya sendiri. Kini Musharraf diambang kejatuhan dan Amerika Serikat tak bisa berbuat apa-apa. Sejarah mencatat banyak pemimpin bernasib sama dengan Musharraf: karir politik berakhir tragis karena menjadi antek Amerika Serikat.

Karena itulah Presiden SBY harus mendapat suntikan keberanian agar jangan menjadikan Indonesia satelit Amerika Serikat. Ia tak usah meniru Saakashvili atau Musharraf. Presiden SBY harus berani menolak surat 40 anggota Kongres.

Mereka tampak ketagihan karena sebelumnya, surat sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat kepada Presiden SBY menyebabkan polisi menangkap bekas pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi PR dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Artinya, polisi beraksi karena surat Kongres Amerika.

Karena itu pula selain kasus Papua, Amerika kembali menekan Indonesia dalam kontrak sewa transponder Satelit Palapa C2 milik PT Indosat kepada jaringan televisi Al-Manar milik Hizbullah dari Lebanon. Al-Manar tak disukai Amerika Serikat karena bersikap kritis terhadap peran Amerika di Timur Tengah. Amerika berharap PT Indosat membatalkan kontrak bisnis itu sehingga siaran Al-Manar tak bisa dipirsa di daerah ini.

Sikap seperti itu bukan baru. Tentara Amerika malah pernah mengebom kantor televisi Al-Jazeera di Baghdad dan Kabul. Presiden Bush pernah mengungkapkan rencananya kepada Perdana Menteri Inggris Tony Blair, untuk menggunakan serangan militer menghancurkan kantor pusat Al-Jazeera di Doha, Qatar. Jaringan televisi itu dituduh Bush selalu berkampanye menjelek-jelekkan Amerika. Untung rencana itu dibocorkan sebuah koran dan menghebohkan Inggris. Al-Jazeera pun selamat.[Habis/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Temuan Ilmiah Modern: Syukur Menambah Nikmat !
Tulisan selanjutnya Tren Makanan Berlabel Halal di China

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kompleks Makam Imam Al-Bukhari Kembali Dibuka Usai Renovasi Besar-Besaran

Berita
24 September 2026 16:26
Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi
Pemerintahan Baru Kolombia Dukungan AS Memutus Hubungan Diplomatik dengan Iran
Wajib Halal Oktober 2026, Pemerintah Kedepankan Pembinaan
Saudi Jatuhkan 2 Drone dan 2 Misil Houthi

Terbaru

  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?