Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mimpi al-Ma’mun

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Juli 2009 17:07
Bagikan
Bagikan

oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi*

hidayatullah.com–Dalam kitabnya Fihrist Ibn Nadim menceritakan, pada suatu hari al-Ma’mun, khalifah Abbasiyah ke VII, bermimpi. Disamping tempat tidurnya duduk persis seperti berhadap-hadapan dengan sopan seorang berkulit putih berwajah kemerah-merahan, beralis tebal, berkepala setengah gundul. Dengan rasa terkejut al-Ma’mun bertanya:”Siapa kamu?”

“Saya Aristotle” Jawab orang itu.

Ia terkesima tapi senang. Ia kemudian bertanya lagi:

“Bolehkah saya bertanya sesuatu?”

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

“Bertanyalah !”Jawab Aristotle.

“Apa itu kebaikan?”

“Kebaikan adalah apa yang ada dalam pikiran” jelas Aristotle.

Tidak cukup dengan jawaban itu ia bertanya lagi:”Lalu apa lagi”?

“Kebaikan itu apa yang baik dalam hukum” jawabnya

“lalau apa lagi” katanya

“Kebaikan adalah apa yang baik untuk publik?”

“Lalu apa lagi?” tanyanya

“Lagi?” Tanya Aristotle balik “Itu saja, tidak ada lagi”.

Dialog dalam mimpi al-Ma’mun belum berakhir disitu. Dalam riwayat lain masih ada fragmen dialog yang jarang disebut. al-Ma’mun berkata: ”Beritahu saya lagi sesuatu?”

Aristotle lalu menjawab “Siapapun yang memberi nasehat anda tentang emas, ambillah ia sebagai emas, tapi bagi anda yang penting adalah keesaan (Tuhan)”.

Mimpi boleh jadi hanya merupakan kegelisahan jiwa (waswasat al-nafs). Dapat pula merupakan isyarat dari langit. Sebab, sabda Nabi, ia adalah salah satu dari 46 pertanda kenabian,. Al-Ghazzali bahkan menganggap mimpi bisa menjadi penghubung antara a lam al-mulk dengan a lam al-malakut. Jika mimpi al-Ma’mun termasuk kategori ini maka ta’bir kata-kata Aristotle itu bisa dijelaskan.Bahkan menurut Ibn Sirin, al-Nablisi dan penafsir mimpi lainnya mimpi dapat di ta’wil kan secara ilmiyah.

Ta’wil-nya mungkin begini: Aristotle menganggap akal atau pikiran dan masyarakat sebagai sumber kebenaran. Aristotle tidak mengenal wahyu dan Yunani bukan tempat nabi-nabi diturunkan. Menganggapnya sebagai nabi juga mustahil. Nabi pasti membawa missi tauhid, sedangkan Aristotle tidak. Konsep Tuhannya, Unmoved-Mover (Penggerak yang tak tergerakkan) adalah hasil spekulasi pemikiran. Jumlahnya banyak, meskipun kualitasnya satu. Itu mungkin sebabnya mengapa dalam mimpi al-Ma’mun ia mengatakan “bagi anda yang penting adalah keesaan Tuhan”. Dus, konsep Tuhan Aristotle dan al-Ma’mun berbeda. Yang pasti Tuhan Aristotle tidak untuk disembah dan bukan pencipta yang aktif.

Konsep Tuhan dalam Islam ditentukan oleh wahyu bukan akal. Meski Ibn Taymiyyah ataupun Ibn Tufayl menganggap fitrah manusia dapat menemukan Tuhan, tapi mereka percaya bahwa akal masih harus disempurnakan oleh wahyu (fitrah munazzalah).

Apakah mimpi al-Ma’mun termasuk ru’ya salihah (mimpi yang benar) wallahu a’lam. Yang jelas setelah mimpi itu al-Ma’mun memulai gerakan penterjemahan karya-karya Yunani, Persia, Sanksekerta kuno dan lain-lain kedalam bahasa Arab. Ini proyek riil bukan mimpi. Inilah diantara gerakan yang menjadi pemicu berkembangnya peradaban Islam.

Namun perlu dicatat bahwa peradaban Islam tidak berkembang hanya karena terjemahan karya-karya asing. Sebab ummat Kristen Syriac juga tahu karya-karya Yunani, tapi tidak mampu berkembang seperti ummat Islam saat itu. Islam berkembang utamanya karena keunikan pandangan hidupnya. Karena pandangan hidupnya maka peradaban Islam menyerap atau meminjam unsur-unsur peradaban lain. Proses penyerapan atau pinjam meminjam dalam peradaban, kata Prof.Alparslan, adalah alami. Tapi meminjam bukan hanya menterjemah. Ada mekanisme dan proses ilmiyah selanjutnya. M.Rekaya dalam The Encyclopedia of Islam menulis bahwa al-Ma’mun mengadopsi dan mengadapsi (adopted and adapted) khazanah pemikiran asing “according to the requirement of Islamic Civilization.” Inilah paparan singkat mekanisme dan proses meminjam konsep asing,

Tidak lebih dari seabad dari proses adopsi konsep asing itu ummat Islam telah mampu “menghasilkan karya asli.” Ini diakui William Mac Neil dalam karyanya The Rise of the West. Cara baru penggunaan angka-angka simbol matematik al-Khawarizmi, ensiklopedia kedokteran Abu Bakar al-Razi, sejarah dunia dari kosep penciptaan al-Tabari dan lain-lain membuktikan hal itu. Bagi Thomas Brown, (The Oxford History of Medieval Europe) keberhasilan dan kekuatan ummat Islam terletak pada kemampuan mereka mengembangkan “sinthesa yang orisinal dan kuat”.

Rekaya benar, penterjemahan barulah proses adopsi. Sesudah itu diikuti oleh proses adapsi konseptual. Disinilah pandangan hidup Islam memainkan peran sentralnya. Konsep Tuhan, konsep hidup, konsep manusia, konsep dunia dll, menjadi penapis konseptual. Penapisan konseptual terkadang memerlukan perubahan paradigma (paradigm shift). Jika demikian maka inilah yang dinamakan al-Attas sebagai proses Islamisasi. Al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan lain-lain mencoba mengislamkan berbagai konsep Yunani. Karena begitu kompleksnya konsep-konsep asing itu kekurangan terjadi disana sini. Itulah sebabnya mengapa al-Ghazzali merasa perlu menulis Tahafut al-Falasifah, dan Fakhr al-Din al-Razi perlu menulis Matalib al-aliyah. Demikian seterusnya.

Jika kini konsep-konsep yang dikembangkan al-Ash‘ari, al-Ghazzali, al-Razi, al-Suyuti, al-Baidawi dll, diganti dengan konsep-konsep Emmanuel Kant, Derrida, Emilio Betti, Paul Rycour dsb, maka kita justru akan set back ke periode adopsi konsep-konsep. Lebih-lebih jika konsep-konsep sentral dalam pandangan hidup Islam juga digusur oleh konsep-konsep asing. Yang terjadi bukan Islamisasi konseptual tapi justru invitasi konsep-konsep asing tanpa koreksi dan kritik. Apakah salahnya “mengundang” konsep asing “kerumah” kita? Apa salahnya menggunakan konsep asing? Memang tidak salah, asalkan tamu yang diundang tidak berubah menjadi tuan rumah. Dan asal konsep-konsep asing dengan kerancuan konseptualnya tidak dibiarkan tanpa koreksi. Pepatah kuno mengatakan Amici vitias si feras, facias tua, membiarkan kesalahan kawan – tanpa koreksi – berarti menjadikannya milik anda.

Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Luka Lama Menjelang Pemilu
Tulisan selanjutnya Kerancuan Wacana Titik Temu Agama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?