Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Islamofobia dan Obrolan Meja Makan di Inggris

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2011 08:51 8:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2011 08:51
Bagikan
Bagikan

Oleh: Fiyaz Mughal

Pidato yang disampaikan di Leicester bulan lalu oleh salah satu ketua Partai Konservatif yang berkuasa, Baroness Sayeeda Warsi, di mana ia menyatakan bahwa “Islamofobia telah masuk dalam obrolan meja makan malam”, menyulut berbagai debat dan diskusi tentang tema obrolan di meja makan orang Inggris. Dengan kata lain, Warsi hendak menegaskan bahwa di sebuah negara yang toleran dan inklusif, yang memiliki sejarah panjang imigran dan integrasi ini; menjadi anti-Muslim ternyata telah menjadi hal yang semakin lumrah.

Kerja yang kami lakukan selama enam tahun terakhir di Faith Matters, sebuah organisasi yang bertujuan untuk menciptakan kohesi masyarakat di antara berbagai komunitas agama di Inggris, menunjukkan bahwa Warsi memang benar – baik tentang sentimen anti-Muslim maupun sejarah integrasi di Inggris.

Kita telah mendengar secara terbuka sentimen anti-Muslim di sebagian masyarakat. Ketika kami mempublikasikan hasil penelitian tentang komunitas Muslim, kami selalu menerima tanggapan dari orang-orang yang mempunyai stereotipe paling buruk tentang Muslim.

Namun, ada juga orang-orang dari komunitas penganut agama maupun bukan-penganut-agama yang mencoba menjalin hubungan dan membangun pengertian dengan komunitas Muslim, karena mereka mengerti bahwa sikap menyalahkan tidak akan mampu membangun masyarakat yang sehat dan berkelanjutan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan daripada stereotipe, adalah tren untuk merendahkan status Muslim dalam masyarakat dalam blog, situs dan grup Facebook yang melontarkan retorika anti-Muslim. Saya pernah menghadiri acara kampus dan makan malam di mana Muslim dipandang sebagai masyarakat “bermasalah”, dan topik diskusi sorenya mengupas ekstremisme Muslim – yang kemudian berubah menjadi sekadar diskusi tentang semua orang Muslim.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Membawa isu ini ke tengah perbincangan memang berguna. Meski demikian, sekadar mengangkat isu ini serta membiarkannya ‘menggantung di udara’ dapat merusak kohesi masyarakat. Itulah mengapa sangat penting bagi organisasi sipil dan lainnya yang mendukung hubungan antarkomunitas agar segera mencerna komentar Warsi, dan mengadakan diskusi-diskusi akar rumput dan program-program sosial yang melawan prasangka dan perpecahan yang muncul.

Penting agar pemerintah Inggris mendukung upaya semacam itu melalui agenda Big Society (Masyarakat Besar) yang dirancang untuk memampukan komunitas lokal untuk lebih banyak membuat keputusan sendiri, dan memungkinkan perusahaan swasta dan lembaga amal untuk menyediakan layanan-layanan yang biasanya disediakan oleh negara. Yang lebih penting lagi, pemerintah sendiri seharusnya terus menumbuhkan hubungan komunitas yang kuat dan mendorong integrasi yang sehat dengan bertindak sebagai fasilitator dan penyebar ide-ide sosial yang baik.

Dalam pidatonya, Warsi juga menyatakan bahwa Muslim tengah dikotak-kotakkan dalam kubu “moderat” dan “ekstrem”, dan bukannya dilihat sebagai individu. Ini sangat penting mengingat hal itu memengaruhi komunitas Muslim dan persepsi-diri pemuda Muslim Inggris. Kini, bagi sebagian orang, jika seorang pemuda Muslim minum alkohol, pergi ke klub malam dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan ‘gila’ yang diasosiasikan dengan anak muda, ia dianggap orang moderat, orang yang ’menyesuaikan diri’ dan ‘tidak membahayakan’.

Tapi bayangkan seorang pemuda yang berjenggot. Bayangkanlah ia sebagai orang yang tak pergi ke klub, bar dan kegiatan-kegiatan selepas-kerja pada umumnya. Bagi sebagian orang, orang ini adalah gambaran seorang ekstremis.

Sikap kasar semacam itu tidak saja keliru, tapi juga bisa berbahaya mengingat sensitivitas yang meninggi seputar ekstremisme dan terorisme. Jangan kita merancukan kesalehan beragama atau kebiasaan sosial dalam masyarakat Muslim dengan ekstremisme. Ini dua hal yang berbeda.

Jadi bagaimana kita bisa mengurangi obrolan makan malam yang penuh prasangka?

Penting untuk menunjukkan keberagaman komunitas Muslim guna melawan citra kejam dan rapuh tentang Muslim yang membumbui perbincangan penuh prasangka. Adanya keberagaman komunitas Muslim, entah dalam hal pemikiran, pengamalan agama ataupun latar belakang, perlu ditunjukkan dan disebarluaskan melalui kampanye iklan, pers dan media sosial. Kita tidak boleh meremehkan kekuatan media sosial dalam membentuk pandangan dan persepsi akar rumput.

Selain itu, komunitas yang mempertahankan identitas mono-kultural mereka perlu diberi insentif sosial, seperti anggaran komunitas kecil – yang dikelola di tingkat daerah oleh otoritas setempat yang bermitra dengan warga – untuk menjalin hubungan dengan, dan melibatkan, komunitas-komunitas lain.

Ini juga berarti bahwa para politisi perlu menekankan bahwa, bekerjasama dan mengembangkan hubungan dengan beragam komunitas akan meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapi dunia yang semakin mengglobal. Kita semua bisa memainkan peran dengan memerangi prasangka batin kita, meskipun masih banyak hal yang perlu dilakukan sebelum Muslim kehilangan posisi mereka yang bisa menyulut kecemburuan karena telah menjadi penganut agama yang paling sering dibicarakan sekarang ini.

Fiyaz Mughal adalah Pendiri dan Direktur Faith Matters, sebuah organisasi yang berjuang menyelesaikan konflik dan menciptakan kohesi masyarakat di Inggris dan Timur Tengah. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menyaksikan Detik-Detik Tumbangnya “Sang Tirani”
Tulisan selanjutnya Ada Upaya Politisasi dan Pengkambinghitaman Kelompok Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Berita

Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Berita
3 September 2026 15:08
Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Terbaru

  • Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?