Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Krisis Suriah, Naluri Kemanusiaan dan Peran Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Februari 2014 08:58 8:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Februari 2014 08:52
Bagikan
Seorang pria memegang jenazah seorang anak di antara korban-korban yang menurut aktivis Suriah tewas akibat serangan senjata kimia
Bagikan

Oleh: Inggar Saputra

KRISIS kemanusiaan akibat perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama tiga tahun semakin mengerikan. Berdasarkan data Organisasi Pemantau HAM Suriah (SOHR) menyebutkan, sejak berkecamuk perang saudara sepanjang Maret 2011 hingga Januari 2014 koran tewas sudah mencapai 136.227 orang. Selain itu sebanyak 2 juta wanita dan anak-anak mengalami keperihan mendalam di tenda pengungsian. Kondisi itu mengisyaratkan, bagaimana perang menjadi alat efektif dan pembunuh nomor satu dalam kehidupan manusia. Masyarakat dunia juga disadarkan, tragedi kemanusiaan belum selesai meski dunia sudah dua kali mengalami perang dunia. Sebab perang masih melanda dunia khususnya di negara berkembang seperti Arab dan Afrika.

Akibat perang memang sungguh mengerikan, dimana jumlah korban tewas terus bertambah setiap hari. Apalagi kekerasan melibatkan dua kelompok besar yakni kelompok oposisi dan rezim militer Bashar Al-Assad. Saat ini, serangan udara terus dilancarkan pasukan rezim untuk menaklukan kota Aleppo yang menjadi basis perlawanan oposisi. Akibat serangan itu, bencana kemanusiaan terjadi di Suriah. Ratusan ribu jiwa melayang, anak-anak kelaparan, wanita menjadi janda dan tekanan psikologis berkepanjangan dialami korban perang.

Kondisi ini bertambah menyedihkan ketika membaca data Syrian Network for Human Right dimana antara Desember – Mei 2012 sebanyak 125 wanita dan dua anak-anak dijadikan sandera dalam konflik. Sungguh mengenaskan, akibat perang wanita dan anak-anak kehilangan perlindungan dan haknya untuk mendapatkan hidup yang penuh kedamaian. Melihat realitas lapangan yang semakin memburuk, kita layak bertanya apakah masih ada solusi damai dalam menyelesaikan krisis di Suriah?

Kondisi perang Suriah memang bukan sebuah persoalan yang mudah ditebak kapan akan berakhir Sejak meletus pertama kali, kalangan oposisi Suriah tidak semudah negara lainnya dalam menjinakkan rezim. Terbukti, rezim Presiden Bashar Al Assad hingga kini masih bertahan. Dengan mengandalkan para loyalisnya, Assad berusaha mengerahkan pasukannya untuk membunuh secara kejam oposisi dan masyarakat sipil. Logika berfikir rezim “haus darah” ini sudah hilang dan mengalami kebuntuan yang mendalam.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Adanya perjanjian gencatan senjata melalui perundingan Geneva II seperti berjalan setengah hati, sekedar basa-basi sehingga tak mencapai kata sepakat. Kalangan oposisi meminta dibentuknya pemerintahan transisi untuk mengakhiri perang saudara di Suriah. Langkah itu ditolak kubu rezim Assad, yang berbalik menuding oposisi sebagai jaringan terorisme internasional yang selayaknya diperangi bersama. Dengan pemutarbalikan fakta dari perlawanan ke rezim diktator menjadi isu terorisme, Assad berusaha menggalang dukungan Barat agar berpihak kepadanya. Namun tampaknya, negara Barat masih menimbang ulang apakah akan memberikan dukungan kepada penjahat kemanusiaan tersebut.

Kegagalan mediasi sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Pasalnya, mediasi tidak memiliki arah yang jelas dalam menciptakan upaya damai. Gagasan pemerintahan transisi cenderung absurd, sebab pemerintahan Assad terlanjur memandang perang sebagai langkah satu-satunya menyelesaikan konflik Suriah. Tidak mengherankan, jika sebagian masyarakat Suriah lebih mengharapkan bantuan senjata dibandingkan menghabiskan waktu di meja perundingan. Mereka sudah terlalu lama dan merasa bosan hidup dalam tekanan rezim Assad yang selalu menindas rakyat Suriah.

Kegagalan mediasi juga disebabkan kuatnya kepentingan antara negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Arab Saudi dan Iran.

Kepentingan masing-masing negara membuat Suriah bagaikan medan pertempuran yang disesaki bara api, tak pernah padam dari peluru dan bom.

Lagi pula, hari gini, masih percaya  Amerika Serikat dan Rusia yang bisa memainkan politik bermuka dua. DI satu sisi seolah mendukung oposisi, namun juga berpotensi mengalihkan dukungan kepada rezim Assad.

Sementara Arab Saudi dan Iran saling bersaing meneguhkan kepentingannya. Arab Saudi mendukung oposisi  sedangkan Iran mendukung Assad yang cenderung berpaham Syiah.

Politik blok dukungan ini, semakin diperburuk dengan tindakan China dan Rusia yang menveto rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang berisi ancaman sanksi terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Tindakan dua negara adikuasa itu menegaskan sikap keduanya yang mendukung rezim Assad. Dampaknya fatal, kerja PBB dalam menghentikan konflik di Suriah menjadi mandul dan membuat utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan kecewa sehingga memutuskan mundur untuk mengemban tugas dalam menangani masalah di Suriah, pada akhir Agustus 2012 lalu.

Sekarang kita memang masih menunggu babak akhir perlawanan oposisi Islamis melawan rezim diktatorisme yang tak kunjung menyerah.

Dalam perkembangannya, rezim Assad terus memamerkan keangkuhan dengan membunuh rakyat sipil. Tanpa ampun, tentara pemerintah membunuh rakyat sipil dan melarang bantuan kemanusiaan memasuki kota penting yang dikuasai oposisi. Ini sungguh kejahatan luar biasa, sebab penduduk sipil tak berdosa dibiarkan mati secara perlahan dengan diblokadenya bantuan makanan, pangan dan obat-obatan. Padahal pemutusan jaringan ke dalam Suriah membuat rakyat sipil kelaparan.

Uluran Kaum Muslim Indonesia

Memburuknya kondisi dalam negeri Suriah jelas membutuhkan kehadiran dan dukungan negara muslim termasuk Indonesia.
Dalam pernyataan resminya, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Marty Natalegawa menegaskan pihaknya mendesak tiga hal strategis.

Pertama, konflik Suriah tidak dapat diselesaikan melalui solusi militer, harus melalui solusi politik yang komprehensif dan inklusif.

Kedua, dihentikannya kekerasan bersenjata harus menjadi prioritas dan kunci untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah.

Ketiga, bantuan kemanusiaan harus dapat disalurkan kepada kalangan sipil yang sangat memerlukan.

Selain ketiga langkah itu, kita mengharapkan pemerintah Indonesia bergerak cepat menggalang dukungan negara Islam untuk mendorong penyelesaian konflik Suriah.

Sebab sangat disayangkan, sampai sekarang, meminjam pernyataan Syafii Maarif (2013) sebagian besar penguasa di negara-negara Arab mengalami kelumpuhan akal sehat dan kesadaran nurani. Arab Saudi menempelkan kepalanya kepada belas kasihan Amerika. Sedangkan Iran terus membela rezim al-Assad yang kejam dan otoritarian untuk kepentingan nasionalisme negaranya yang menjadi berhala menggantikan posisi Islam.

Untuk itu, tak dapat ditawar lagi muslim Indonesia harus memainkan peran pentingnya dalam mendesak negara muslim membantu muslim Suriah.

Muslim Indonesia harus bergerak massif membantu rakyat Suriah dalam bentuk apa saja, tak terkecuali mengadakan demonstrasi di jalanan.

Demonstrasi diperlukan agar PBB, negara muslim dan pemerintah Indonesia tidak bersikap “pengecut” dan menerapkan politik basa-basi dalam memandang konflik Suriah.

Bagaimanapun, negara Barat sudah gagal menjalankan misi damai dalam Geneva II, sekarang tinggal menunggu peran negara muslim apakah mampu melaksanakan misi damai atau mengulang kegagalan negara Barat.

Dalam konteks demonstrasi, rasanya gerakan itu paling tepat dimainkan ormas dan gerakan mahasiswa/kepemudaan Islam. Mereka (ormas dan gerakan mahasiswa Islam-pen) jelas tidak boleh membisu dan harus bergerak mengadakan demonstrasi secara massif.

Rakyat Indonesia dan seluruh dunia perlu dikabarkan dan disadarkan mengenai kondisi kekinian Suriah yang mengalami bencana kemanusiaan terparah di abad modern. Selain itu, demonstrasi juga berfungsi memberikan dukungan moril kepada muslim Suriah sehingga tetap sabar dalam berjuang sampai tiba saatnya kemenangan Islam.*

Mahasiswa Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (UI)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:suriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB Kecam Kebijakan Vatikan yang Memungkinkan Pastor Memperkosa
Tulisan selanjutnya Mematikan! China Umumkan Virus Flu Burung Strain Baru

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?