Oleh: Inggar Saputra
KRISIS kemanusiaan akibat perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama tiga tahun semakin mengerikan. Berdasarkan data Organisasi Pemantau HAM Suriah (SOHR) menyebutkan, sejak berkecamuk perang saudara sepanjang Maret 2011 hingga Januari 2014 koran tewas sudah mencapai 136.227 orang. Selain itu sebanyak 2 juta wanita dan anak-anak mengalami keperihan mendalam di tenda pengungsian. Kondisi itu mengisyaratkan, bagaimana perang menjadi alat efektif dan pembunuh nomor satu dalam kehidupan manusia. Masyarakat dunia juga disadarkan, tragedi kemanusiaan belum selesai meski dunia sudah dua kali mengalami perang dunia. Sebab perang masih melanda dunia khususnya di negara berkembang seperti Arab dan Afrika.
Akibat perang memang sungguh mengerikan, dimana jumlah korban tewas terus bertambah setiap hari. Apalagi kekerasan melibatkan dua kelompok besar yakni kelompok oposisi dan rezim militer Bashar Al-Assad. Saat ini, serangan udara terus dilancarkan pasukan rezim untuk menaklukan kota Aleppo yang menjadi basis perlawanan oposisi. Akibat serangan itu, bencana kemanusiaan terjadi di Suriah. Ratusan ribu jiwa melayang, anak-anak kelaparan, wanita menjadi janda dan tekanan psikologis berkepanjangan dialami korban perang.
Kondisi ini bertambah menyedihkan ketika membaca data Syrian Network for Human Right dimana antara Desember – Mei 2012 sebanyak 125 wanita dan dua anak-anak dijadikan sandera dalam konflik. Sungguh mengenaskan, akibat perang wanita dan anak-anak kehilangan perlindungan dan haknya untuk mendapatkan hidup yang penuh kedamaian. Melihat realitas lapangan yang semakin memburuk, kita layak bertanya apakah masih ada solusi damai dalam menyelesaikan krisis di Suriah?
Kondisi perang Suriah memang bukan sebuah persoalan yang mudah ditebak kapan akan berakhir Sejak meletus pertama kali, kalangan oposisi Suriah tidak semudah negara lainnya dalam menjinakkan rezim. Terbukti, rezim Presiden Bashar Al Assad hingga kini masih bertahan. Dengan mengandalkan para loyalisnya, Assad berusaha mengerahkan pasukannya untuk membunuh secara kejam oposisi dan masyarakat sipil. Logika berfikir rezim “haus darah” ini sudah hilang dan mengalami kebuntuan yang mendalam.
Adanya perjanjian gencatan senjata melalui perundingan Geneva II seperti berjalan setengah hati, sekedar basa-basi sehingga tak mencapai kata sepakat. Kalangan oposisi meminta dibentuknya pemerintahan transisi untuk mengakhiri perang saudara di Suriah. Langkah itu ditolak kubu rezim Assad, yang berbalik menuding oposisi sebagai jaringan terorisme internasional yang selayaknya diperangi bersama. Dengan pemutarbalikan fakta dari perlawanan ke rezim diktator menjadi isu terorisme, Assad berusaha menggalang dukungan Barat agar berpihak kepadanya. Namun tampaknya, negara Barat masih menimbang ulang apakah akan memberikan dukungan kepada penjahat kemanusiaan tersebut.
Kegagalan mediasi sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Pasalnya, mediasi tidak memiliki arah yang jelas dalam menciptakan upaya damai. Gagasan pemerintahan transisi cenderung absurd, sebab pemerintahan Assad terlanjur memandang perang sebagai langkah satu-satunya menyelesaikan konflik Suriah. Tidak mengherankan, jika sebagian masyarakat Suriah lebih mengharapkan bantuan senjata dibandingkan menghabiskan waktu di meja perundingan. Mereka sudah terlalu lama dan merasa bosan hidup dalam tekanan rezim Assad yang selalu menindas rakyat Suriah.
Kegagalan mediasi juga disebabkan kuatnya kepentingan antara negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Arab Saudi dan Iran.
Kepentingan masing-masing negara membuat Suriah bagaikan medan pertempuran yang disesaki bara api, tak pernah padam dari peluru dan bom.
Lagi pula, hari gini, masih percaya Amerika Serikat dan Rusia yang bisa memainkan politik bermuka dua. DI satu sisi seolah mendukung oposisi, namun juga berpotensi mengalihkan dukungan kepada rezim Assad.
Sementara Arab Saudi dan Iran saling bersaing meneguhkan kepentingannya. Arab Saudi mendukung oposisi sedangkan Iran mendukung Assad yang cenderung berpaham Syiah.
Politik blok dukungan ini, semakin diperburuk dengan tindakan China dan Rusia yang menveto rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang berisi ancaman sanksi terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Tindakan dua negara adikuasa itu menegaskan sikap keduanya yang mendukung rezim Assad. Dampaknya fatal, kerja PBB dalam menghentikan konflik di Suriah menjadi mandul dan membuat utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan kecewa sehingga memutuskan mundur untuk mengemban tugas dalam menangani masalah di Suriah, pada akhir Agustus 2012 lalu.
Sekarang kita memang masih menunggu babak akhir perlawanan oposisi Islamis melawan rezim diktatorisme yang tak kunjung menyerah.
Dalam perkembangannya, rezim Assad terus memamerkan keangkuhan dengan membunuh rakyat sipil. Tanpa ampun, tentara pemerintah membunuh rakyat sipil dan melarang bantuan kemanusiaan memasuki kota penting yang dikuasai oposisi. Ini sungguh kejahatan luar biasa, sebab penduduk sipil tak berdosa dibiarkan mati secara perlahan dengan diblokadenya bantuan makanan, pangan dan obat-obatan. Padahal pemutusan jaringan ke dalam Suriah membuat rakyat sipil kelaparan.
Uluran Kaum Muslim Indonesia
Memburuknya kondisi dalam negeri Suriah jelas membutuhkan kehadiran dan dukungan negara muslim termasuk Indonesia.
Dalam pernyataan resminya, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Marty Natalegawa menegaskan pihaknya mendesak tiga hal strategis.
Pertama, konflik Suriah tidak dapat diselesaikan melalui solusi militer, harus melalui solusi politik yang komprehensif dan inklusif.
Kedua, dihentikannya kekerasan bersenjata harus menjadi prioritas dan kunci untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah.
Ketiga, bantuan kemanusiaan harus dapat disalurkan kepada kalangan sipil yang sangat memerlukan.
Selain ketiga langkah itu, kita mengharapkan pemerintah Indonesia bergerak cepat menggalang dukungan negara Islam untuk mendorong penyelesaian konflik Suriah.
Sebab sangat disayangkan, sampai sekarang, meminjam pernyataan Syafii Maarif (2013) sebagian besar penguasa di negara-negara Arab mengalami kelumpuhan akal sehat dan kesadaran nurani. Arab Saudi menempelkan kepalanya kepada belas kasihan Amerika. Sedangkan Iran terus membela rezim al-Assad yang kejam dan otoritarian untuk kepentingan nasionalisme negaranya yang menjadi berhala menggantikan posisi Islam.
Untuk itu, tak dapat ditawar lagi muslim Indonesia harus memainkan peran pentingnya dalam mendesak negara muslim membantu muslim Suriah.
Muslim Indonesia harus bergerak massif membantu rakyat Suriah dalam bentuk apa saja, tak terkecuali mengadakan demonstrasi di jalanan.
Demonstrasi diperlukan agar PBB, negara muslim dan pemerintah Indonesia tidak bersikap “pengecut” dan menerapkan politik basa-basi dalam memandang konflik Suriah.
Bagaimanapun, negara Barat sudah gagal menjalankan misi damai dalam Geneva II, sekarang tinggal menunggu peran negara muslim apakah mampu melaksanakan misi damai atau mengulang kegagalan negara Barat.
Dalam konteks demonstrasi, rasanya gerakan itu paling tepat dimainkan ormas dan gerakan mahasiswa/kepemudaan Islam. Mereka (ormas dan gerakan mahasiswa Islam-pen) jelas tidak boleh membisu dan harus bergerak mengadakan demonstrasi secara massif.
Rakyat Indonesia dan seluruh dunia perlu dikabarkan dan disadarkan mengenai kondisi kekinian Suriah yang mengalami bencana kemanusiaan terparah di abad modern. Selain itu, demonstrasi juga berfungsi memberikan dukungan moril kepada muslim Suriah sehingga tetap sabar dalam berjuang sampai tiba saatnya kemenangan Islam.*
Mahasiswa Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (UI)