Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Begini Cara Media Mengaburkan Kasus Tolikara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Juli 2015 06:17 6:17 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Juli 2015 04:08
Bagikan
Sejumlah kios dan satu masjid yang hangus terbakar
Bagikan

Oleh: Abdul Hakim

SEBUAH masjid Baitul Muttaqieb di Tolikara, Papua dibakar saat shalat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan yang mengaburkan kebenaran.

Berikut ini cara media mengaburkan kasus pembakaran Masjid Baitul Muttaqien di Tolikara Papua:

Pertama,  yang dibakar adalah mushollah

Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushollah. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushollah. Istilah mushollah tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushollah itu kecil, tidak dipakai shalat Jum’at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Kedua, Yang dibakar adalah kios

Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushollah. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul “Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala”

Ketiga, Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam

Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari Jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.

Keempat, Mengubah berita menjadi bias

Laman Metrotvnews misalnya, diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul “Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara” menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”. Isi berita pun diubah, yang semula menyebut “Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut” diubah menjadi “Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.”

Kelima, Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah

Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.

Keenam,  Tidak menyebut tindakan teror

Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris.

Ketuju, Membesar2kan info jatuhnya korban dari pihak non-Muslim

Mereka juga membelokkan opini dengan menciptakan opini lain seakan-akan jatuhnya korban dari pihak non-Muslim. 1 orang tertembak mati dan yang lainnya luka-luka.

Ingat dimana-mana yang namanya korban adalah obyek perbuatan kejahatan, dalam hal ini tentu saja pihak Muslim yg diserang, jika ada yang terluka dari pihak penyerang maka bukan “korban/victim” dalam artian sebenarnya, itu konsekuensi perbuatan jahat.

Kedelapan, Menciptakan opini bahwa mereka diserang

Mereka membuat berita bahwa sebenarnya kelompok non-Muslim mau datang untuk berdialog bukan menyerang, tiba-tiba aparat penjaga menyerang mereka. Ini tidak masuk akal, mana mungkin aparat tiba-tiba menyerang tanpa ada kondisi yang menurut aparat mengancam keselamatan atau membahayakan.

Fitnah mereka luar biasa bahwa mereka berani menyudutkan/mengorbankan aparat keamanan Indonesia sebagai pihak yang patut disalahkan. Ini juga menyadarkan kita betapa akses dan peran umat Islam dalam pemerintahan kita begitu lemah.

Kesembilan, Presiden tidak mengeluarkan sikap

Sikap presiden yang diam saja, bahkan cenderung cuek dengan aksi terorisme di Tolikara, semakin mengaburkan substansi masalah. Sikap aparat menjadi bingung karena seakan-akan belum mendapat restu bertindak dari kepala negara, maka tindakan merekapun setengah hati, sehingga proses pencarian fakta menjadi berlarut.*

Aktivis sosial Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kekerasanmediametro TVPapuapembakaran masjidPembakaran Masjid Tolikara Papuaterorismetolikara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pertama Kalinya Majalah Pro-ISIS Kecam Erdogan dan Turki
Tulisan selanjutnya Komnas HAM Sesalkan Pemerintah Tak Punya Sense of Crisis Tragedi Tolikara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

Berita
2 September 2026 15:07
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?