Oleh: Teuku Zulkhairi
TIDAK ada yang bisa menyatukan umat Islam selain Al-Quran. Itulah kesimpulan paling berlasan untuk menilai Aksi Bela Islam II juga sering disebut Aksi 212 di Jakarta yang diikuti umat Islam dari seluruh Indonesia. Beberapa pihak mengatakan, aksi tersebut adalah yang terbesar semenjak lahirnya Republik Indonesia.
Belum pernah ada aksi serupa sebelumnya yang mampu menghadirkan jumlah massa yang begitu banyak. Al-Quran menjadi magnet yang menyatukan umat Islam dari apapun latar belakang kelompoknya. Sebelum aksi tersebut, beberapa kawan penulis membicarakan rencananya mengikuti aksi bela Islam 212 ke Jakarta. Beberapa di antaranya penulis ketahui menghutang disana-sini untuk membeli tiket pesawat.
“Apakah kita rela tidak menjadi bagian dari umat Islam yang membela Al-Quran saat dinista?,” kata seorang teman penulis menjelaskan motivasinya mengikuti Aksi 212 ke Jakarta.
Di media online dan sosial media, kita juga dapati kabar peserta aksi 212 dari Ciamis yang berjalan kaki menuju Jakarta. Di jalanan mereka disambut penuh haru oleh masyarakat. Sebagian yang lain tetap mengikuti aksi meksipun dicegah dengan berbagai cara. Menakjubkan.
Kesadaran untuk membela Al-Quran yang dinista oleh Ahok akhirnya menghimpun umat Islam dari berbagai kalangan menjadi lautan massa di Jakarta. Beberapa foto dari udara menunjukkan, massa bukan hanya membludak di Monumen Nasional (Monas), namun juga memenuhi hingga ke Patung Kuda, Cempaka Putih, dan seterusnya.
Namun, selalu ada alasan kalangan tertentu untuk nyinyir menyikapi aksi-aksi yang dilakukan oleh umat Islam, mulai dari tuduhan “ditunggangi pihak tertentu”, “dibayar”, “ditunggangi Islam radikal” dan sebagianya. Tujuannya tidak lain adalah untuk melemahkan semangat umat Islam dalam membela Al-Quran. Begitulah mereka mencoba menutupi kebenaran. Namun, kebenaran akan tetap terlihat meskipun ditutup-tutupi.
Allah Shalallhu ‘Alaihi Wassallam berfirman: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah 32).
Apa yang luar biasa dari Aksi 212 tersebut bukan hanya tentang bagaimana umat Islam bisa bersatu, tapi juga aksi yang berlangsung dengan cara sangat Islami.
Umat Islam tentu sangat marah dengan penistaan agama oleh yang dilakukan oleh Ahok, namun kemarahan itu mampu mereka tunjukkan dengan wajah Islam yang ramah. Artinya, umat Islam di Indonesia sangat semangat dan tegas membela Islam, namun mereka tetap santun dan damai. Baik massa aksi, maupun para tokoh umat Islam.
Oleh sebab itu, Aksi 212 tersebut telah menunjukkan bagaimana kelas umat Islam Indonesia kepada dunia. Di dalam negeri, hampir semua headline media memuji aksi tersebut sebagai aksi yang damai.
Beberapa media nasional juga memberi judul headline exellant surprise untuk Aksi 212 tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa aksi santun seperti ini memang telah berada di level yang fenomenal dan mengagumkan sebagaimana penulis ulas di rubrik opini Harian Republika dengan judul “Demo Level Peradaban”, Sabtu (03/12/2016).
Melanjutkan persatuan
Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana melanjutkan persatuan umat Islam. Persatuan adalah hal yang begitu ditekankan dalam Al-Quran. Sebab, dengan persatuan lah berbagai tantangan yang dihadapi oleh umat Islam bisa diselesaikan. Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok memberi kita pelajaran, bahwa umat Islam bisa bersatu. Dan ketika umat Islam bersatu, suara umat Islam akan didengar dan akan menggetarkan musuh-musuh Islam dan kaum munafik.
Allah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran:103).
Sangat jelas Allah Subhanahu Wata’ala meminta umat Islam untuk bersatu, dan melarangnya dari bercerai berai. Ibarat sapu lidi yang jika disatukan akan bisa menyapu debu-debu dan kotoran. Begitu juga persatuan umat Islam, merupakan kekuatan untuk menghadang segala upaya memecah belah bangsa yang dilakukan musuh-musuh negara dan agama.
Panglima TNI, Gatot Nurmantyo di acara ILC TV One bulan lalu dengan sangat jelas memaparkan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia berupa upaya pihak-pihak asing untuk menguasai kekayaan alam negeri ini.
Dalam paparannya, Panglima TNI menjelaskan peta tantangan bangsa Indonesia saat ini. Selain persoalan wilayah Laut China Selatan, Tiongkok yang memberikan potensi konflik dengan ketidakmauannya diatur dalam Zona Lautan, juga dijelaskan cara Tiongkok menggunakan perang candu untuk memisahkan Hongkong dan Taiwan. Dan Indonesia, 2 juta atau 5% penduduk Indonesia telah positif terkena Narkoba.
Sungguh merupakan tantangan yang sangat serius dihadapi oleh bangsa Indonesia, bahwa jika Narkoba telah merusak generasi muda bangsa ini, maka apa yang bisa diharapkan bangsa ini di masa depan selain hanya kehancuran? Apalagi, bermacam cara Narkoba dimasukkan dari Cina ke Indonesia, termasuk melalui pipa-pipa beton (Tribunnews.com, Selasa, 14 Juni 2016) yang semua itu adalah untuk menghancurkan bangsa ini.
Sungguh, tantangan berat yang sangat membutuhkan adanya persatuan dan kesatuan umat Islam untuk menghadapinya. Apalagi, adanya penyusupan kepentingan asing dalam internal bangsa Indonesia juga sudah menjadi rahasia umum. Kepentingan pemodal asing menjadi lebih diutamakan sehingga nasib pribumi kian terpnggirkan. Inilah kondisi terkini yang dihadapi bangsa Indonesia.
Terkait Ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama, pada suatu ketika Amien Rais mengatakan; “”Dia (Ahok) hanya menyembah konglomerat pemodal, orang kecil itu ditendang dan dihina. Dalam sejarah tidak ada orang sombong menang. Jadi kita sama-sama lawan dajal ini. Karena dia pro pemodal asing dan aseng,” kata Amien Rais, tempo.co, (18/9/2016).
Begitulah cara Amin Rais menjelaskan kepada bangsa ini tentang adanya pihak-pihak yang menjadi “pelayan” atas kepentingan asing. Adanya upaya “menjajah” bangsa Indonesia oleh pihak asing bahkan sampai pada tahap pengibaran bendera China di Maluku Utara yang semakin menegaskan adanya ancaman terhadap kedaulatan Republik Indonesia, (Sindonews, 28/11/2016).
Terkait dengan perintah agar umat Islam bersatu dalam surat Ali Imran ayat 103 di atas, Imam Al-Qurthubi menjelaskan tafsir ayat ini, “Sesungguhnya Allah Swt memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena bahwasanya perpecahan merupakan kebinasaan dan persatuan (jama’ah) merupakan keselamatan.” (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159). Pentingnya persatuan ini juga diterjemahkan Buya Hamka dalam lagu “Panggilan Jihad” yang menyerukan persatuan bagi para pemimpin Islam dimana pun berada. Salah satu bait lirik lagu yang dikabarkan dahulu kerap diputar Radio Republik Indonesia (RRI) setiap kali santapan rohani usai shalat Subuh saat itu berbunyi: “Putera puteri Islam harapan agama. Majulah serentak genggamkan persatuan, kalam Tuhan Mari kita memuji mari kita memuja. Peganglah persatuan, kalam Tuhan.
Bait lainnya berbunyi: Kalam suci menyentuh kalbu berjuang. Maju serentak mencapai kemenangan. Untuk negara, bangsa dan keadilan, pangilan jihad hidupkan.
Pada bait lain berbunyi: “Kalam ilahi menutut persatuan, Perpecahan meruntuhkan kekuatan, pertikaian menguntungkan musuh Tuhan. Hanya iman tauhid dapat menyatukan, tuntutan agama menjadi tujuan”. Akhir kita, harapan kita, di hadapan segudang tantangan yang dihadapi bangsa ini, semoga umat Islam terus bersatu. Wallahu a’lam bishshawab.*
Penulis adalah Sekjend PW Bakomubin Prov. Aceh. Mahasiswa Program Doktor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh