Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pendidikan Berbasis Industri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 September 2021 13:38 1:38 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 September 2021 13:38
Bagikan
pendidikan
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com | Sudah beberapa tahun belakangan ini, program studi berbasis ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin) di perguruan tinggi Islam mengalami kelesuan. Sepi peminat. Pada Februari 2017 Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyebutkan, minat mahasiswa yang belajar pada program studi (Prodi) agama menurun.

”Ini tantangan yang harus segera diatasi oleh PTKIN. Saat ini, kita membutuhkan expertise atau ilmuwan yang ahli dalam bidang ilmu hadith, perbandingan madzhab dan filsafat agama,” ujarnya.

Apalagi sejak perguruan tinggi Islam berstatus “Institut” bertransformasi menjadi “Universitas”, program studi keagamaan kalah saing dengan peminat pada jurusan ilmu-ilmu sosial, sains dan teknologi.

Prodi filsafat agama, ilmu hadis dan perbandingan agama menjadi yang terendah peminatnya.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pada seleksi tahun 2021 ini, UIN (Universitas Negeri) Jakarta telah menerima 888 mahasiswa. Ada sepuluh program studi yang paling banyak diminati; Manajemen, Psikologi, Ilmu Keperawatan, Farmasi, Ilmu Kesehatan, Akuntansi, Teknik Informatika, Sastra Inggris, Kesehatan Masyarakat, Sosiologi.

Proyek integrasi ilmu, yang ‘memadukan’ ilmu-ilmu berbasis syariah dengan ilmu-ilmu humaniora dan sains, yang dikembangkan sejak awal tahun 200-an di PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) juga tidak mengangkat animo minat calon mahasiswa untuk memilih ilmu-ilmu keagamaan.

Secara umum, pengembangan ilmu-ilmu pada program studi, baik sains, teknologi, sosial-humaniora maupun ulumuddin, memang diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan industri atau pengguna lulusan.

Badan Akreditasi Nasional ketika melakukan akreditasi program studi ulumuddin akan menanyakan kepada program studi tentang kurikulum atau mata kuliah yang sesuai dengan kebutuhan pengguna lulusan atau industri.

Maka, di sinilah program studi seperti filsafat agama, ilmu hadis atau sejarah Islam “ditantang” untuk menyusun kurikulum dan mata kuliahnya. Lulusan bekerja di mana? Tentu saja, program studi-program studi tersebut masih kalah dengan program studi sains, teknologi dan humaniora dalam menjawab “tantangan” tersebut.

Salah satu problematika program studi ulumuddin sejak beberapa tahun belakangan adalah soal ini. Belum lagi tantangan jauh lebih serius dari itu yaitu, framework Barat sekuler dalam studi ilmu-ilmu syariah, yang menggesar paradigma, metodologi, epistemologi dan worldview Islam.

Akan tetapi, perguruan tingggi berbasis pesantren, yakni universitas di bawah ‘payung’ pondok pesantren sepertinya tidak terlalu merisaukan tuntutan memenuhi kebutuhan industri. Meskipun, tidak sedikit pula perguruan tingggi berbasis pesantren mengikuti arus dan terjebak arus industrialisasi pendidikan ini.

Memang sudah sewajarnya, perguruan tinggi berbasis pesantren itu tidak terlalu dalam mengikuti alur model industrialisasi pendidikan tinggi. Orang pesantren biasanya tidak terlalu mikir panjang soal bekerja sebagai apa, di kantor apa setelah lulus.

Mereka cuma menginginkan ridha guru atau kiainya. Cukup. Dalam cara pandang pesantren ridha Allah Swt diperoleh dari ridho guru. Itulah adab.

Dari pengamatan tersebut, ilmu-ilmu keagamaan di perguruan tinggi berbasis pesantren yang bisa bertahan dan berkembang dengan baik. Bahkan pendidikan dengan model basis pesantren dapat diandalkan pada era sekarang.

Tetapi hendaknya perguruan tinggi di pesantren dapat berdiri di atas cara pandang Islam dalam studi-studi keislamannya. Justru, distingsi pesantren adalah tidak selalu ikut metodologi dan epistemologi sekular. Saya pernah menyampaikan kepada seorang kawan pengajar bahwa konsep universitas di bawah naungan pesantren itu dapat mengaplikasikan konsep universitas yang dirumuskan oleh Prof. Syed M Naquib al-Attas.

Pendidikan di pesantren bertujuan melahirkan lulusan yang baik. Orang yang baik itulah menurut Prof. Syed M Naquib al-Attas adalah insan adabi. Pendidikan, menurut beliau, adalah menanamkan adab ke dalam jiwa. Penanaman adab di pesantren biasanya melalui pendidikan tasawuf.

Belajar ilmu akidah atau kalam menurut imam al-Ghazali adalah:

حفظ عقيدة أهل السنة والجماعة وحراستها عن تشويش أهل البدعة

“Menjaga dan memelihara akidah Ahlussunnah wal Jam’ah dari gangguan ahlul bid’ah” (Imam al-Ghazali,Al-Munkidz min Ad-Dhalal). Selanjutnya, menurut Imam al-Ghazali, ilmu kalam dipelajari karena ilmu ini digambarkan bagaikan seperti obat. Ia mengatakan:

اعلم أن الأدلة التي نحررها في هذا العلم تجري مجرى الأدوية التي يعالج بها مرض القلوب

“Ketahuilah bawah dalil-dalil yang saya tulis dalam ilmu ini seperti obat yang dapat menyembuhkan penyakit hati” (Imam al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, 17).

Ketika saya mengajar mata kuliah sejarah peradaban Islam dan sejarah pemikiran Islam, saya selalu menjelaskan kepada mahasiswa cara pandang yang tepat dalam belajar sejarah. Di antaranya dengan belajar sejarah orang-orang dahulu kita mengambil pelajaran. Sehingga kita bisa menempatkan dengan benar tokoh-tokoh  terdahulu. Selain itu, kita dapat belajar bersikap dengan benar dalam perkembangan zaman sekarang ini.

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud telah mengingatkan problem institusi pendidikan tinggi modern sekarang telah berubah menjadi institusi yang pragmatik secara ekonomi di berbagai bidang. Tujuan pendidikan yang lebih utama demi memenuhi tuntutan industri dan perniagaan (Wan Mohd Nor Wan Daud, Peranan Universiti Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 57).

Institusi dengan tujuan demikian akan melahirkan “tukang-tukang” bukan “ilmuan-ilmuan”. Oleh sebab itu tujuan, orientasi dan desain perlu ditelah ulang kembali.*

Dosen IAI Dalwa Bangil

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmu agamaPendidikanPerguruan Tinggiulumuddin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya taliban provinsi Taliban Kepung Provinsi yang Dikuasai Pemberontak di Panjshir setelah Gagal Negoisasi
Tulisan selanjutnya Badan Standar Nasional Pendidikan Mendikbudristek Bubarkan Badan Standar Nasional Pendidikan, PKS: Mubazir dan Sembrono

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan

Berita
29 Agustus 2026 09:20
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?