Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Peran Media dalam Global War on Terorrisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Oktober 2017 19:53 7:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Oktober 2017 19:53
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Hanif Kristianto

 

MEDIA menjadi pihak yang paling memiliki kuasa dalam global war on terorrisme (GWOT). Peranannya mampu mengarahkan opini dan persepsi publik. Terkadang lucu dan menggemaskan dalam kaitan GWOT. Terlebih jika pelaku teror itu bukan Muslim dan berciri-ciri Muslim. Sudah bisa dibaca penyebutannya sekadar pelaku kejahatan atau tindakan kriminal. Peristiwa penembakan di Las Vegas dan kejadian serupa di Amerika Serikat menjadi bukti nyata. Begitu pula yang pernah terjadi pada Bom Alam Sutera di Indonesia.

Sebaliknya, jika pelakunya Muslim dan berciri-ciri Muslim, maka gorengannya berita semakin gurih dan renyah. Tak ada kata garing. Peristiwa bom di Paris, London, dan Jakarta menjadi berita laris manis. Dunia pun menyatakan bela sungkawa mendalam, disertai dengan tanda (#) hastage di media sosial.

Kritisisme Media

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pelaku media mainstream  saat ini dapat dipahami akan lebih tendensius jika berkaitan dengan Islam dan Muslim. Pada titik inilah kritisisme media diuji publik terkait keberimbangan pemberitaanya. Meski terorisme bukanlah fenomena baru, namun pemaknaanya menemukan kebaruan pada awal abad 21 setelah peristiwa WTC 11 September 2001. Kebaruan makna terorisme ini bisa disimak di Time Line of Terorrist yang disusun oleh US Departement of Defense.

Dalam rentang waktu yang dibuat meluputi tahun 1960-1969, 1980-1989, 1990-1999, dan 2000-2006, terdapat pergeseran kevendereungan peristiwa terorisme. Sebagai misal sebelum era 2000-2006, hampir semua kejadian yang dirujuk sebagai kegiatan teroris tidak terkait dengan Islam maupun Timur Tengah. Justru pada era 2000-2006, kecenderungan ini berbalik 180 derajat dan hamoir semuanya terkait dengan Islam dan atau Timur Tengah (http://www.army.mil/terrorism/1989-1980/index.html).

Jejaring media mainstream  yang mengglobal tampaknya menyepakati kebaruan definisi tersebut. Makna terorisme sering ditafsirkan tunggal berdasar kepentingan media dan kekuasaan. Tak ubahnya lambat laun narasi dibangun hanya demi kepentingan bisnis dan ekonomi. Kalaulah umat Islam dikorbankan demi kepentingan ini bagi mereka tak masalah. Pikirannya sederhana: ideologi Islam sebagai musuh bersama demi kepentingan dunia.

Baca: “War on Terrorism”, Alibi AS untuk Memerangi Islam

Tak bisa dipungkiri GWOT akhirnya memasuki ranah politik. Penggunaan kata teroris sarat muatan politis, yakni penciptaan dan pencitraan yang diposisikan sebagai lawan dari kemapanan yang legitimate. Sebagaimana dinyatakan oleh Cox (2004:318).

“Kata ‘teroris’ digunakan oleh otoritas yang mapan untuk menekankan ketidakabsahan pelaku kekerasan tidak beraturan. Orang-orang itu lebih memilih kata-kata seperti ‘pejuang kebebasan’ dan ‘martir’ yang mengklaim legitimasi alternatif .”  (Beyond Empire and Terror: Critical Reflections on the Political Economy of World Order).

Nasib Media ke Depan

Jika media tidak bisa melepas kepentingan dalam GWOT maka akan banyak ditinggalkan pemirsa. Kecenderungan pemberitaan yang tendensius akan sangat mudah terbaca. Publik pun akhirnya mewartakan kejadian sesungguhnya melalui citizen journalism. Media sosial menjadi media paling efektif sebagai pembanding dan penyeimbang pemberitaan. Ada hal-hal baru dan menarik yang tidak terberitakan di media mainstream .

Pemberitaan peristiwa terorisme di media cenderung pada hegemoni dan monsterisasi. Hal ikhwal yang di awal memang menakutkan, namun seiring kecerdasan berfikir manusia akan tergerak mencari jawaban. Publik pun tak akan kekurangan untuk melakukan kontra pemberitaan. Pernyataan Ideologi sebagai ideologi setan dan inspirasi kekerasan, tampaknya akan mengalami kebuntuan. Pasalnya, beberapa peristiwa teror pelakunya bukan Muslim atau terinspirasi ide kekerasan.

Peristiwa demi peristiwa akan semakin menyibak kekonyolan GWOT yang dilakukan di setiap negara. Begitu pun upaya untuk menanggulangi terorisme dengan beragam program akan mangkrak dan tak berguna.

Baca: Mayoritas Paling Menderita kasus Terorisme adalah Negara Muslim [1]

Media harus kembali ke jalan yang benar. Islam dan umatnya jangan terus dideskreditkan dan dipojokkan. Jika media ingin tetap eksis dalam pemberitaan dan menjadi rujukan kebaikan, bersikap kritis dan adillah. Bela kepentingan publik, bukan kepentingan pemilik konglomerasi media atau penyedia jasa.

Di sinilah kritisisme media dipertanyakan. Akankah media ke depan bisa menjadi bagian dari jurnalisme profetik dan kebenaran? Atau sebaliknya menjadi jurnalisme hoax atau fake?

Penulis peminat masalah media dan politik

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:11 September 2001fakeGlobal War on TerorrismeGWOThoaxjurnalismemediaMuslim media mainstreamterrorWTC
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menteri Pertahanan Israel Sanjung Bashar Assad telah Menang
Tulisan selanjutnya Wali Kota Risma: Dolly Berubah Jadi Kampung Produktif

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Berita
2 September 2026 20:21
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?