Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Warung Kopi dan Diskriminasi

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 8 Juni 2020 09:19 9:19 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 8 Juni 2020 09:18
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag

 

Hidayatullah.com | KEHIDUPAN dunia saat ini sedikit demi sedikit telah tergantikan dengan beragam aplikasi dan media. Termasuk dalam kehidupan sosial, pertemanan dan pertemuan pada masa ini banyak dilakukan di dunia maya. Beragam istilah muncul menggatikan istilah-istilah lama, sebagai contoh dulu dikenal istilah citizen yang menunjukkan arti dari penduduk kota, wargakota, warganegara, atau penghuni kota. Namun dengan berkembangnya internet kepopuleran istilah tersebut mulai tergeser dengan kata netizen atau warganet sebuah lakuran, kata campuran dari kata warga (citizen) dan Internet yang artinya “warga internet” (citizen of the net). Kata tersebut menyebut seseorang yang aktif terlibat dalam komunitas maya atau internet pada umumnya.

Gun gun Heryanto menjelaskan bahwa istilah netizen sudah cukup lama menjadi kata yang dipahami oleh masyarakat terutama pengguna internet. Secara konseptual, istilah netizen bisa kita temukan dalam tulisan akademisi dari Columbia University, Michael Hauben, yang mendefinisikannya sebagai: orang atau warga internet (a ner citizen) yang terkoneksi secara global. Secara fisik hidup di suatu negara tetapi satu sama lain terhubung melalui jejaring internet. Bagi Hauben inilah tatanan dunia baru yang menghubungkan manusia baik secara pribadi maupun kolektif, pada saat ini semua orang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pengatan mereka secara luas.

Perkebangan dunia netizen pada saat ini percis seperti bayangan salah satu penggagas utamanya yaitu J.C.R Licklider yang menginisiasi program the advanced Research Projects Agency Network (ARPARNET) yang berada di bawah kementrian pertahanan Amerika. Program ini bertujuan untuk menyusun proyek universal dan sebagai laboratoriun penelitian di Amerika. Karena jasanya ini, Licklider diberi julukan nabinya internet (a prophet of the net).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dengan istilah netizen ini, ungkapan “dunia tak seluas daun kelor” yaitu daun tumbuhan yang luasnya tidak lebar dari telapak tangan yang mengisyaratkan bahwa dunia itu luas sekali, perlu dikaji ulang. Luasnya dunia juga sering dipertontonkan dalam dialog film-film koboi Amerika seperti Wild West, yang menggabarkan America di abad ke-17 an, tempat di mana orang begitu mudah meninggal dan dengan cara yang mengejutkan. Salah seorang koboi berkata “di tempat mu matahari terbit tapi di sini matahari terbenam”. Menurut Roger Ebert, matahari terbenam di awal film adalah simbol berakhirnya sebuah era. Barat dalam film koboi sering digambarkan dengan tanah tak bertuan, hutan liar yang penuh kekerasan. Sam B. Girgus dalam buku Clint Eastwood’s America menuliskan “Selama lebih dari seratus tahun sejarah film, para sutradara sibuk mengajari penonton tentang hidup, cinta, masyarakat, dan kompleksitas pengalaman,” namun ternyata slogan dan usaha tersebut masih menjadi sebuah halusinasi.

Menurut Imam Syamsi Ali tokoh muslim paling berpengaruh di New York versi New York magazine, slogan dan usaha yang dilakukan oleh Amerika tersebut, salah satunya bertujuan untuk menutupi sejarah gelap negara ini, seperti Permasalahan ras (rasisme), ketidakadilan (injustice) dan perlakuan diskriminatif (discrimination) terhadap minoritas. Pada minggu ini 30 kota di 50 negara bagian terjadi kekisruhan-kekisruhan, bahkan kerusuhan, kekerasan dan penjarahan. Kejadian ini dipicu oleh kematian seorang warga hitam (Afro) bernama George Floyd di kota Minneapolis di negara bagian Minnesota oleh aparat Kepolisian di kota itu. Bagi Syamsi kejadian ini ibarat kobaran bara api dalam sekam yang telah lama tersembunyi oleh kepura-puraan di Amerika.

Syamsi Ali berpendapat bahwa perilaku rasis sebagian orang di negara itu sebagai ‘dosa asal’. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sejarah, ketika Christopher Columbus menemukan salah satu pulau bagian dari Amerika, dia bertemu dengan penduduk asli yang dia sebut sebagai bangsa Indian, karena dia bermaksud untuk berlayar ke India, tapi tersesat di benua tesebut. Ya, bangsa Indian merupakan penduduk asli benua Amerika, benua yang nama diambil dari penjelajah Italia Amerigo Vespucci yang kemudian menjadi jajahan bangsa Eropa.

Terlepas dari kesalahan penamaan suku tersebut, nasib dari bangsa ini sangatlah teragis, menurut salah seorang kolumnis dengan nama pena Giens, mengatakan bahwa suku Indian merupakan bangsa yang paling terzalimi. Baginya bangsa yang paling terzalimi adalah bangsa yang karakternya telah “terbunuh” secara sistematis sehingga eksistensinya seakan tertutupi “tabir”. Bangsa itu adalah bangsa yang meliputi Apache, Sioux, Cherokee, dll atau yang disebut dengan bangsa Indian di Amerika.

Perlakuan diskriminasi ini ibarat pepatah seperti “kacang yang lupa pada kulitnya”, para pendatang dari eropa dan sekitarnya itu, membuat sebuah skema yang menihilkan eksistensi dari kaum pribumi Idian, dan ternyata peraktek diskriminasi juga diberlakukan kepada warga hitam (Afro) yang dibawa oleh mereka sebagai budak-budak dari negara-negara jajahan mereka di Afrika. Sebagai bukti dari diskriminasi itu para Afro melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan Martin Luther King Jr, Malcom X, dan lain-lain di tahun 60-an.

Bukan hanya bangsa Indian dan Afrika Eropa (Apro) yang mendapat perlakuan diskriminasi, tapi juga komunitas Jepang, warga Latin, mexico dan Colombia juga mengalami hal serupa. Lebih dari itu pada awal kampanyenya Donald Trump dengan pongah mengangkat isu sentimen agama dengan mengatakan akan melarang datangnya para muslim ke negara ini. Bagi Syamsi Ali diskriminasi ini menyumbang poin terbesar kepada Islamopobia di negara tersebut. Dia berkata “Seringkali saya katakan di masa lalu sebelum pemerintahan Donald Trump Islamophobia itu ada di pinggir-pinggir jalan. Saat ini justru keluar dari White House dengan kebijakan yang terasa meminggirkan kaum minoritas”.

Sebagai penutup mari kita renungkan cerita berikut ini. Seorang Amerika masuk di sebuah warung kopi yang penuh dengan pengunjung, rata-rata mereka berkelompok duduk melingkar di sebuah meja bundar. Setelah mendapatkan tempat duduk, dia melihat seorang kulit hitam duduk menyendiri di sebuah meja di ujung warung kopi tersebut. Keisengannya muncul, dengan lantang dia memanggil pelayang dan menyuruhnya untuk menghidangkan makanan kepada semua pengunjung kecuali orang kulit hitam yang duduk di ujung tempat tersebut.

Dengan sigap para pelayan langsung mengambil makanan, dan membagikannya kepada para pengunjung, dan dengan sombongnya orang Amerika tersebut menatap ke arah orang kulit hitam yang tersenyum penung kehangatan kepadanya. Melihat reaksi baik yang diberikan oleh orang kulit hitam itu, kesombongannya bukan berkurang, tapi malah bertambah, kemudian dia memanggil kembali pelayang dan menyuruhnya untuk menghidangkan minuman kepada semua pengunjung kecuali orang kulit hitam yang duduk di ujung tempat kopi itu. Dan ketika dia menatap orang kulit hitam untuk kedua kalinya, dia kembali tersenyum dengan senyuman lebih bersahabat.

Heran dengan reaksi yang didapatkannya, orang Amerika itu bertanya kepada pelayan, kenapa orang kulit hitam itu tidak marah kepadanya, padahal dia sudah memperlakukannya secara diskriminasi. Dengan senyuman yang hangat dan bersahabat, pelayan itu menjawab kalau orang kulit hitam itu adalah pemilik warung kopi.

Cerita ini kami dapatkan dari beberapa grup whatapps yang berbasa arab, ketika membacanya kami menemukan betapa kesombongan bisa mempermalukan, kesombongan bisa membuat seorang lupa terhadap kebaikan orang disekitarnya, kesombongan itu pulalah yang menyebabkan Iblis tidak mau menerima perintah Allah untuk memberikan salam kepada Adam.

Pada tatanan dunia saat ini yang semakit sempit, di mana orang bisa masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu, alangkah bijak kalau usaha menghilangkan diskriminasi bukan hanya menjadi bahan diskusi, tapi sebuah aksi nyata yang diperaktekan dalam kehidupan.*

 

Penulis adalah dosen Stai Darunnajah Jakarta dan Bogor, seorang entrepreneur dengan brand “thebukukita”

 

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatASdiskriminasinetizenras
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya New Normal dan Kebiasaan Buruk Kita
Tulisan selanjutnya Din Syamsuddin: Saya Loyal Tapi Kritis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?