Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Akhir Cerita Hagia Sophia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Juli 2020 21:02 9:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Juli 2020 21:02
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Haykal

 

Hidayatullah.com | BEBERAPA hari lalu pengadilan administrasi utama Republik Turki telah mencabut status Hagia Sophia (Ayasofya) sebagai museum dengan membatalkan keputusan kabinet tahun 1934.

Pencabutan status Hagia Sophia kemarin ini juga turut diikuti dengan dekrit Presiden Erdoğan bahwa kepengurusan Hagia Sophia (sebagai museum) yang sebelumnya berada dibawah Kementrian Kebudayaan kini telah dilimpahkan ke Kementrian Urusan Agama atau Diyanet İşleri Başkanlığı serta dialih fungsikan menjadi sebuah masjid.

Rencananya bangunan Masjid Hagia Sophia akan dibuka kembali pada pelaksanaan shalat Jumat, 24 Juli ini dan dalam beberapa bulan ke depan setelah seluruh perbaikan interior bangunan selesai, baru akan dibuka dan difungsikan sebagai tempat ibadah secara permanen.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Jika hendak melihat sejarahnya sejenak, Hagia Sophia didirikan pertama kalinya pada tahun 360 masehi oleh Kaisar Costantine, lalu terbakar saat pemberontakan rakyat Bizantium pada 404 masehi.

Kemudian pada tahun 514, bangunan tersebut berhasil dibangun kembali atas perintah Kaisar Thodosios II (408-450).  Namun ia kembali runtuh pada 532 pada saat pemberontakan Nicea. Hanya dalam lima tahun berikutnya pada 537 Hagia Sophia dibagun kembali sebagai Katedral terbesar Kerajaan Romawi Timur atas perintah Kaisar Justinianus.  Bangunan inilah bentuk fisik yang bertahan hingga hari ini.

Pada tahun 1453, Sultan Mehmet II (Muhammad Al Fatih) telah menaklukkan Kostantinople dan mengalihfungsikan Hagia Sophia dari Katedral menjadi sebuah Masjid.

Untuk melestarikan fungsinya sebagai tempat ibadah Sultan Mehmet II (Sultan Muhammad Al Fatih) mendirikan Yayasan Wakaf Hagia Sophia, walaupun fungsinya diubah menjadi masjid namun uniknya ia tidak merubah nama daripada Hagia Sophia tersebut.

Ayasofya & yayasan waqafnya beroperasi selama 480 tahun sebagai masjid. Pada tahun 1934 kabinet mengeluarkan dekrit mengumumkan pengalihfungsian Ayasofya dari masjid menjadi museum.

Pada dekrit tersebut juga disebutkan peleburan waqaf dan menghancurkan beberapa tempat usaha milik waqaf ayasofya yang terletak disekitaran bangunan.

Uang yang dikelola oleh Ayasofya dibagikan ke institusi-institusi keagaaman lainnya, pemerintah saat itu mengklaim pengalihfungsian Ayasofya menjadi museum berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan (khususnya sejarah) sehingga turut didatangkan berbagai ilmuwan dari Amerika untuk menemukan kembali mozaik-mozaik Romawi yang sudah hilang.

Kini, saat Ayasofya dialihfungsikan kembali oleh Erdoğan banyak suara pro dan kontra. Sehingga tiap kubu saling mencari dalil untuk melegitimasi klaim pihaknya.

Yang kontra rata-rata beranggapan bahwa kebijakan ini telah mencemari pluralisme beragama dan toleransi, ada juga kubu sekuler di Turki mengekspresikan rasa kerisauannya mereka beranggapan bahwa ini merupakan awal dari tradisi menghapus jejak Ataturk.

Pada saat keputusan (Dekrit Kabinet 1934) bapak pendiri bangsa ini telah berhasil diubah dan diganti dengan sebuah keputusan lain, maka ini pertanda bahwa apapun ‘warisan’ dari bapak pendiri bangsa bisa diganti sewaktu-waktu.

Meraka juga beranggapan bahwa konversi Ayasofya menjadi masjid tidak menyelesaikan masalah apapun, masalah ekonomi, pengangguran, inflasi dll.

Kaum kanan Turki atau masyakarat konservatif beranggapan bahwa ini merupakan hasrat seluruh muslimin di Turki dan dunia. Hagia sophia adalah wasiat dari Sultan Fatih untuk tetap difungsikan sebagai masjid.

Salah satu yang sejak lama telah memperjuangkan konversi Ayasofya adalah pergerakan Milli Görüş, pergerakan yang dicetus oleh Necmettin Erbakan ini memang hampir selama 40 tahun belakang ini terus menyuarakan ide konversi tersebut.

Hampir setiap tahun saat perayaan Istanbul Fetih pada 29 May, mereka selalu mengorganisir shalat berjamaah di depan Ayasofya dan berdoa.

Pada akhirnya takdir memilih Erdoğan yang notabenenya merupakan kader Milli Görüş yang juga murid daripada Necmettin Erbakan untuk mengakhiri polemik.*

Mahasiswa Magister Sejarah Islam di Marmara University, Istanbul

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ErdoganHagia SophiaislamTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 16 Juli DPR Sidang Paripurna, Massa Siap Gelar “Aksi Cabut RUU HIP”
Tulisan selanjutnya Kerap Menyerang Stafnya Ibu Bos Korean Air Cuma Dihukum Percobaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Berita
31 Agustus 2026 06:08
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?