Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Sekolah Tinggi Ilmu Kehidupan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 November 2020 21:50 9:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 November 2020 21:50
Bagikan
Ponpes Al Islah
Bagikan

Oleh: Heppy Trenggono

 

 

Hidayatullah.com | NAMANYA  STIT, singkatan dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, namun para mahasiswanya sering menyebut kalau STIT itu singkatan dari Sekolah Tinggi Ilmu Toko, Sekolah Tinggi Ilmu Ternak, Sekolah Tinggi Ilmu Tani, atau entah apa lagi kepanjangan yang cocok untuk STIT.   STIT Al-Islah Bondowoso, perguruan tinggi yang berada di ujung timur pulau Jawa ini sangat istimewa.

Ketika menghadiri wisuda sarjana angkatan yang ke empat, saya seperti melihat pengukuhan doktor dari pada wisuda sarjana. Lulusannya terlihat percaya diri. Ini modal besar bagi lulusan manapun, lulusan yang siap mengambil tanggung jawab, siap membangun, siap berjibaku dengan kerasnya kehidupan.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Selama menempuh pendidikan di STIT Al-Islah, tampaknya para mahasiswa tidak hanya diajarkan tentang pengetahuan yang bersifat akademik namun juga digembleng dengan berbagai keterampilan hidup seperti berdagang, berternak, bertani. Pantas mereka percaya diri ketika lulus.

Pendidikan di Indonesia ditantang untuk menjawab tuntutan bagaimana mempersiapkan generasi muda yang tangguh, yang mampu menjawab tantangan jaman. Setiap lulusan di Indonesia harus menghadapi pertanyaan, bagaimana nasib para lulusan baru ketika angka pengangguran yang ada saja sudah sangat tinggi, bahkan krisis ekonomi saat ini telah melahirkan 19 juta pengangguran baru di negeri ini.

Anehnya, perguruan tinggi di Indonesia secara umum tidak menghaslkan lulusan yang trampil, yang siap berkarya. Contoh sederhana, revolusi digital yang hari ini kita hadapi telah membuka begitu besar kesempatan untuk para lulusan bidang keahlian IT, pemprograman, dan keahlian lain terkait digital.

Namun kenyataannya dunia usaha sangat sulit bahkan sekedar untuk mendapatkan 1 orang tenaga IT developer yang yang siap bekerja saja, di tengah puluhan ribu lulusan yang dilahirkan setiap tahun oleh Perguruan Tinggi. Ini baru menyangkut satu keahlian, lalu bagaimana dengan bidang keahlian pertanian, perkebunan, perdagangan, perikanan, dan bidang keahlian yang lain?

Pendidikan di Indonesia yang kerap dikritik belum bisa mengantarkan konsep “link and match” harus berbenah diri, bagaimana pendidikan di Indonesia dapat mengantarkan generasi yang siap mengisi kehidupan, siap berpartisipasi dalam berbagai sektor pembangunan. Indonesia, yang dikarunia berbagai kekayaan alam yang melimpah hingga hari ini belum mampu menjadikan kekayaan alamnya sebagai alat untuk kesejahteraan anak bangsanya.

Bangsa ini kedodoran menghadapi derasnya arus globalisasi, bahkan semakin kesini ekonomi semakin liberal, kapitalisme semakin mendapat tempat merangsek berbagai sektor, membuat ruang gerak masyarakat semakin sempit dalam partisipasi ekonomi.

Apa yang dilakukan oleh STIT Al-Islah adalah sebuah inspirasi, para pimpinan inistitusi ini  mampu melihat benang merah persoalan yang dihadapi anak bangsa dan merumuskan bagaimana menjawab persoalan tersebut melalui pendidikan yang dilakukan sehingga menghasilkan lulusan yang siap hidup.

Institusi ini bisa menarik kesimpulan dimana kejayaan sebuah bangsa tidak serta merta terletak pada seberapa hebat kekayaan alamnya, namun terlebih adalah pada pembangunan karakter anak bangsanya.

Pembangunan karakter, di situlah letak pendidikan yang sesunggungnya, itulah yang disebut Tarbiyah. STIT mengimplementasikan Tarbiyah secara utuh, memaknai pendidikan secara utuh. Bahwa pendidikan tidak sekedar pengajaran, pendidikan meliputi pembangunan karakter, dimana keahlian hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan darinya.

STIT Al-Islah adalah institusi yang berada di tengah pondok pesantren Al-Islah, kota Bondowoso, Jawa Timur. Sebuah pondok berpengaruh yang dipimpin oleh seorang kyai visioner bernama KH. Thoha Yusuf Zakariya, Lc. STIT Al-Islah dipimpin oleh H. Muhammad Malik, M. Ag, sosok sederhana yang turut melahirkan institusi ini.

Jadi, kalau para mahasiswa mengartikan STIT ini dengan sebutan yang bermacam macam, saya sendiri lebih cocok menyebut STIT sebagai sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Kehidupan.*

Presiden Indonesia Islamic Forum (IIBF)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ilmu KehidupanSekolah TinggiSekolah Tinggi Ilmu TarbiyahSTITSTIT Al-Islah Bondowoso
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masa tinggal jamaah umrah Indonesia Akan Perketat Penerapan Protokol Kesehatan Jamaah Umrah
Tulisan selanjutnya MUI Luncurkan Buku “Prinsip dan Panduan Seni Islami”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?