Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Maunya Mengolok Pigai, Tapi Ruhut Kepeleset Menghinanya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Desember 2020 10:11 10:11 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2020 08:52
Bagikan
Natalius Pigai (rmOL)
Bagikan

Oleh: Ady Amar

 

Hidayatullah.com | Ruhut Sitompul, siapa tidak kenal dengannya. Mantan pengacara, yang lalu banting setir jadi politisi. Berawal di Partai Golkar, lalu lompat ke Partai Demokrat, dan lalu ke PDI Perjuangan.

Orang lalu menyebutnya dengan politisi ‘kutu loncat’. Ruhut tampaknya selalu ‘hinggap’ pada partai penguasa. Saat Soeharto berkuasa, dia ada di Partai Golkar. Lalu saat Partai Demokrat menjadikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden, ia ada di partai itu. Dan saat Partai Demokrat tampak terhuyung, Ruhut cekatan melompat meninggalkan partai itu.

Lalu ngenger mengadu peruntungan di PDI Perjuangan. Tapi tampaknya di partai barunya, ia belum mendapat posisi. Tidak jelas Ruhut berkhidmat pada Jokowi selaku presiden, atau pada ibu Megawati, pemilik PDI Perjuangan.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Satu “kelebihan” Ruhut sebagai politisi adalah sikapnya yang tidak punya rasa malu memuji-muji presiden yang sedang berkuasa. Kita masih ingat bagaimana dia memuji-muji SBY setinggi langit, lalu setelah tidak di partai Demokrat, ia beralih memuji-muji presiden Jokowi pun dengan berlebihan.

Sayang sikapnya yang sudah sampai tahap ‘menjilat-jilat’ itu belum juga buahkan hasil buatnya. Sedikit pun tidak dilirik presiden Jokowi, juga ibu Megawati. Entah kenapa… melas juga melihatnya.

Maka untuk memperlihatkan kesungguhannya dalam membela Jokowi, Ruhut acap bersikap di luar azas kepatutan. Menyerang siapa saja yang “mengganggu” presiden dan, atau menteri-menterinya. Tentu ini kreatif yang dibangun semata agar dedikasinya bisa terlihat.

Kreatifitasnya itu tidak dibangun dengan nalar sewajarnya. Terkadang tampak dungu, sebagaimana filsuf Rocky Gerung menjulukinya, dalam berbagai kesempatan talk show di televisi.

Tapi kali ini Ruhut bukan saja melakukan kedunguan, tapi tindakan konyol berupa penghinaan pada anak manusia bernama Natalius Pigai.

Penghinaan Tak Sepantasnya

Ruhut Sitompul gagap menggunakan media sosial, dan karenanya ia menulis asal menulis, tanpa memperhitungkan akibat dari apa yang ditulisnya. Biasa bicara sekenanya, seperti perdebatan di televisi dengan modal nekat asal bicara.

Kebiasaan debat di televisi atau talk show dengan lagak menyerang lawan dengan terkadang banyolan konyol, itu tanpa sadar dibawanya dalam bersosial media. Maka lambat laun akan membuatnya blunder.

Dan itu ditunjukkan saat menanggapi cuitan Natalius Pigai, putra asal Papua dan mantan anggota Komnas HAM. Itu terkait ucapan Natal Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Natalius Pigai sebelumnya (27/12/2020), membagikan tangkapan layar berita berjudul “Menag: Selamat Natal 2020, Rayakan dengan Sederhana dan Terus Berbagi Kasih”.  Natalius Pigai memandang ucapan non kristiani (menteri Agama), itu dianggapnya tidak tulus, berlebihan.

Tidak perlu umbar kata seakan2 solider. Ketika umat sigi, Pendeta & katekis dibunuh, jasmin dan piladelphia tidak pasti. Kemana aja. Kita butuh konkrit. Sy ini bukan sj umbar kata2 tapi Ketua Tim Pembela Ulama, umat Islam dan kasus2 yg mendera mereka atas dasar ukuwah insaniah. pic.twitter.com/gM5OPrKZpf

— NataliusPigai (@NataliusPigai2) December 28, 2020

Maka dia tidak butuhkan ucapan selamat Natal dari menteri Agama, Pak Yaqut Cholil Qoumas.  Buatnya itu tradisi berlebihan, tidak semestinya disampaikan non kristiani.  Ia menyarankan agar umat non kristiani sebaiknya menjalankan agamanya dengan benar.

Adalah hak Natalius Pigai menyatakan keberatan atas ucapan selamat Natal dari non kristiani. Ia tidak perlukan ucapan lip service demikian. Tentu tidak ada yang salah dengan keberatannya itu.

Seperti juga hak Muslim, jika memilih tidak patut mengucapkan Selamat Natal pada umat kristiani. Ucapan yang bukan sekadar kata-kata pemanis, yang lalu dikatakan bagian dari toleransi. Bagi muslim itu masalah teologis.

Seorang Natalius Pigai faham akan perbedaan substansial antaragama. Makanya, itu diingatkan olehnya, “… sebaiknya (muslim)  menjalankan agamanya dengan benar”.

Tersirat Natalius Pigai mengajarkan, bahwa agama tidak perlu “dipolitisasi”, dan toleran itu bukan lalu mendegradasi ajaran agama yang diyakininya, lalu dipaksa disandingkan dengan agama lain. “Tiap ucapan Natal dari non-Kristiani jarang saya respons karena itu forum internum (urusan kami), bukan forum externum (urusan kita),” tegas Pigai.

Tapi justru menjadi aneh, saat Ruhut membalas “keberatan” Natalius Pigai, itu lewat Twitter (28/12/2020), dengan perkataan yang menunjukkan kualitasnya. “Jangankan menteri agama, saya saja yang beragama kristiani malas mengucapkan selamat Natal kepada Natalius Pigai”.  Sampai di sini tidak ada masalah dengan respons Ruhut itu.

Tapi lanjutan pernyataannya itu yang bermasalah, yang tidak seharusnya diutarakan. “… kaca saja takut lihat gantengnya Natalius Pigai”.

Natalius Pigai Aku saja yg penganut Kristen malas mengucapkan Selamat Natal utk Mu, krn congor kau asbun asal bunyi apalagi Menteri Agama RI ha ha ha kaca saja takut lihat gantengnya kau MERDEKA🙏🇮🇩.

— Ruhut Sitompul (@ruhutsitompul) December 28, 2020

Ganteng di sana tentu sebagai olok-olok, yang dimaksudkan sebagai perkataan berkebalikan (reverse words). Anak kecil pun faham antonim yang dilepaskan Ruhut itu.

Pernyataan penuh penghinaan yang tidak semestinya terlontar. Pernyataan menghina fisik seseorang, itu tabu disampaikan dalam pergaulan masyarakat beradab.

Maka abaikan saja apa yang disampaikan Ruhut itu, agar kita tidak terjebak pada pertentangan tidak semestinya, bahkan amuk yang menimbulkan kemarahan lebih luas kelompok tertentu.

Para arif biasa menyebut, bahwa pernyataan baik cuma muncul dari nalar dan budi yang baik, begitupun sebaliknya. Dari situ kualitas seseorang bisa dilihat.

Negeri ini butuh seorang Natalius Pigai yang selalu hadir dengan nalar sempurnanya. Tidak perlulah melihatnya dengan cermin/kaca untuk bisa menilainya.

Seorang semacam Ruhut Sitompul pastilah tidak mungkin bisa melihatnya, meski dengan kaca pembesar sekalipun: Natalius Pigai terlalu mewah untuk bisa di lihatnya.*

Kolumnis, tinggal di Surabaya

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Menteri AgamaMuslimNatalius PigaiRuhut Sitompulucapan selamat natalYaqut Cholil Qoumas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aa Gym Positif Covid-19: Ini Qadarullah, Protokol Kesehatan Lebih Disiplin, Protokol Doa Lebih Gigih
Tulisan selanjutnya Ikatan Hati Teman Seiman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?