Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Islamisasi Politik, Bukan Politisasi Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Januari 2021 13:06 1:06 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Januari 2021 11:11
Bagikan
Bagikan

Oleh: Adnin Armas

 

Hidayatullah.com  | DUNIA Barat modern memiliki pengalaman traumatis terhadap sejarah masa lalunya. Trauma ketika Dark Ages (Zaman Kegelapan) atau Medieval Ages (Zaman Pertengahan) menyebabkan dunia Barat menceraikan agama dari politik.

Di Zaman Pertengahan, gereja berada dalam zaman keemasan. Kekuasaan Paus ketika itu mutlak dan tidak tertandingi. Paus bahkan menentukan kekuasaan para raja di Eropa. Perintah Paus ditaati oleh para raja dan masyarakat.

Namun dalam perjalanan waktu, Paus tidak sanggup menjaga reputasi dan pengaruhnya. Paus tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang muncul. Bahkan permasalahan internal dalam ajaran Katolik menjadi persoalan tersendiri yang tidak bisa diatasi.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Kritik-kritik pun bermunculan terhadap ajaran Paus. Tokoh teologi, Martin Luther, bahkan menganggap Paus sebagai Anti-Kristus. Kritik-kritik semacam itu tentunya melemahkan kekuasaan Paus.

Saat gereja berkuasa, kebebasan masyarakat Barat dibungkam, perbedaan pendapat diinkuisi atau dipersekusi secara radikal, wanita ditindas, dan masyarakat dizhalimi. Berbagai kehidupan sosial yang buruk terjadi. Akhirnya, manusia modern Barat meyakini bahwa kebenaran, kebebasan, kemakmuran, dan kemajuan hanya bisa diraih dengan melepaskan pengaruh kekuasaan gereja.

Baca: Gereja dan Krisis Moral di Barat

Gereja yang begitu mencengkeram di Zaman Pertengahan berubah statusnya menjadi terpinggirkan di Zaman Modern Barat. Gereja tidak boleh lagi mencampuri politik. Gereja atau agama dianggap keyakinan individu yang menjadi urusan masing-masing dengan Tuhannya dan tidak boleh lagi mengatur kehidupan sosial.

Kehidupan sosial menjadi “penguasa baru”. Aturan-aturan yang berlaku dan ditaati adalah kontrak sosial yang disepakati mayoritas masyarakat. “Kedaulatan rakyat” sekarang menjadi “suara Tuhan”. Jadi, politik sekular –politik yang bercerai dari agama– bersumber dari pengalaman traumatis masyarakat Barat terhadap sejarah kelam mereka.

Dalam perkembangannya, bukan saja politik yang diceraikan dari agama. Tapi ilmu pengetahuan alam dan sosial –sumber bagi pandangan manusia tentang kehidupan dan nilai nilai kemanusiaan– juga dilepaskan dari agama. Sumbernya berasal dari rasio, bukan lagi berasal dari gereja atau agama.

Kuatnya pengaruh peradaban Barat modern memunculkan hegemoni stigma politisasi agama. Tatkala agama muncul dalam ranah politik, maka stigma politisasi agama diberikan.

Baca:  Infiltrasi Budaya Barat ke dalam Islam

Agama dianggap tidak tepat masuk ke ranah politik karena justru dianggap akan mencederai agama itu sendiri. Selain itu, penafsiran terhadap ajaran agama dianggap sangat beragam alias tidak ada penafsiran tunggal. Ranah publik juga dianggap tidak boleh diwarnai dengan satu agama yang partikular.

Berbagai perilaku dan contoh negatif politisasi agama ditonjolkan. Tujuannya untuk menunjukkan kesalahan gagasan politisasi agama. Penolakan politisasi gereja/agama yang awalnya berasal dari pengalaman traumatis masyarakat Barat, kemudian dijadikan gagasan yang universal.

Islamisasi Politik

Islam bersumber dari Wahyu. Jadi, Islam merupakan agama Wahyu. Bukan agama budaya.

Sebagai agama Wahyu, ada ajaran Islam yang pasti dan tetap. Contohnya shalat Shubuh pasti 2 rakaat. Pasti dikerjakan saat Shubuh, bukan waktu Isya’. Pasti imam berada di depan makmun. Pasti berwudhu atau bertayammum dulu sebelum shalat.

Puasa wajib pasti di bulan Ramadhan. Thawaf pasti mengitari Ka’bah. Haji pasti di daerah Makkah dan sekitarnya. Banyak lagi contoh-contoh kepastian dan ketetapan lainnya.

Perbedaan zaman dulu, sekarang, dan akan datang tidak akan pernah mengubah kepastian-kepastian tersebut. Perbedaan ruang geografis juga tidak akan mengubahnya. Sebabnya, sumber ajaran ini berasal dari Wahyu, yang universalitasnya diyakini kebenarannya oleh umat Islam di segala ruang dari zaman ke zaman, hingga ke akhir zaman.

Baca: Umat Islam Indonesia dan Politik

Islam juga “pasti” terkait dengan politik. Jika Islam dijauhkan, dipinggirkan, dan diceraikan dari politik, maka justru kekeliruan-kekeliruan yang pasti terjadi.

Saat ini, sebagian politikus Barat dengan kekuasaan politiknya telah melegalkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), minuman keras, prostitusi, dan sebagainya. Ini contoh nyata jika politik diceraikan dari Islam, maka akan muncul nilai dan aturan yang bertentangan dengan ajaran Islam serta merusak kehidupan manusia yang beradab.

Politik yang terpisah dari ajaran Islam memiliki daya rusak yang tinggi dalam kehidupan kemanusiaan. Para politikus sekular bisa menyetujui berbagai undang-undang yang merusak nilai-nilai luhur dalam masyarakat.

Di Indonesia, undang-undang mengenai perbuatan homoseksual dan lesbian serta prostitusi masih abu-abu. Politik yang sekular memang menghalalkan segala cara. Semua menjadi halal demi meraih kekuasaan.

Dalam politik sekular, parameter baik dan buruk, adil dan zhalim, semuanya bukan karena berdasarkan ajaran syar’i, tapi karena nilai-nilai rasional yang hidup dan yang menjadi keinginan masyarakat. Politik sekular berpotensi menghapus ketetapan-ketetapan Wahyu.

Oleh karena itu, Islam yang memuat nilai-nilai luhur perlu mewarnai politik agar politik menjadi mulia dan bermartabat.

Baca:  Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan ‘Islam Politik’

Imam al-Ghazali menyatakan bahwa Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Menceraikan Islam dari politik akan melemahkan ajaran Islam.  Kata al-Ghazali, “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Dengan demikian, agama adalah fondasi, sedangkan penguasa adalah penjaga. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi akan hancur, dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang (musnah).”

Ungkapan al-Ghazali tersebut bukanlah politisasi Islam, tapi Islamisasi politik. Yakni menjadikan politik sebagai alat untuk menjaga ajaran Islam. Politik Islam berupaya agar undang-undang, peraturan, sistem sosial masyarakat tidak membawa manusia kepada kerusakan nilai kehidupan, tapi membawa kepada kehidupan yang adil dan beradab berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Politikus Muslim harus memperjuangkan nilai-nilai Islam supaya bisa berlaku dalam kehidupan sosial. Sungguh ironis jika politikus Muslim justru berperilaku seperti para politikus sekular.

Jika para politikus Muslim tidak mengubah perilaku politik sekularnya, maka masyarakat lambat laun akan muak dengan agama Islam. Contoh-contoh buruk perilaku mereka menyebabkan munculnya tuduhan politisasi Islam alias menggunakan Islam untuk kepentingan politik. Padahal, tujuan utama berpolitik adalah menegakkan ajaran Islam, agar terbentuk sistem sosial masyarakat yang adil dan beradab dalam berkah Allah Yang Maha Esa.*

Pemerhati politik dan pemikiran

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamIslam dan politikpolitikpolitik islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menumbuhkan Jiwa Saudagar
Tulisan selanjutnya pcr ‘Israel’ akan Vaksinasi Tahanan Palestina Mulai Minggu Depan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Berita
31 Agustus 2026 21:38
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Zaitun Rasmin Kembali Pimpin Wahdah Islamiyah, Terpilih untuk Periode 2027–2031
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?