Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Karamah dan Penyimpangan Agama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Oktober 2016 09:09 9:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Oktober 2016 09:09
Bagikan
Ilustrasi: Dimas Kanjeng saat ditangkap Polda Jatim. Banyak orang tertipu pria bernama Taat Pribadi dengan tipuan 'memiliki karamah' dan mampu menggandakan uang
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

ISTILAH karamah belakangan ini banyak dibicarakan di media. Hal ini menyusul, ramainya pemberitaan nasional tentang seseorang yang disebut-sebut memiliki ‘karamah’ tertentu. Atas ‘kemampuan luar biasa itu’, banyak masyarakat dari level pendidikan terendah sampai level intelektual tinggi tersedot hatinya untuk menjadi pengikut setianya.

Karamah merupakan istilah yang sering dikaitkan dalam dunia tasawuf. Kemunculan karamah dalam diri seorang sufi merupakan kemulyaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu, kemampuan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan manusia lain (khariq al-‘adah) ini terjadi pada orang shalih, orang yang telah sampai pada level kedekatan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, melalui pengamalan syariah pada tingkat puncak (ihsan) dan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) yang sempurna.

Jadi, karamah tidak diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang belum sempurna pengamalan syariahnya. Apalagi kepada manusia yang ingkar atau keyakinannya menyimpang dari batas-batas agama. Orang yang ingkar terhadap syariah Allah atau tidak sempurna dalam pengamalan perintahnya, bisa mendapatkan kemampuan luar biasa. Namun, istilahnya bukan karamah, tetapi istidraj.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Istidraj merupakan kemampuan luar biasa yang dilakukan oleh orang yang maksiat kepada-Nya, inkar terhadap syariah, orang kafir, atau para pelaku pelanggaran hukum-hukum agama.

Karamah itu wujud kemulyaan dari Allah. Maka, orang yang inkar pada syariahnya tidak mungkin mendapatkan kemulyaan. Istidraj bukan kemulyaan, justru merupakan wujud berlepas dirinya Allah terhadap hamba yang inkar tersebut.

Dalam dunia tasawuf, karamah ada dua; karamah hissiyah dan karamah ma’nawiyah. Karamah yang biasa disebut secara umum oleh manusia dengan ‘kemampuan luar biasa’ itu umumnya menunjuk kepada karamah jenis hissiyah.

Karomah jenis hissiyah termasuk kategori pemberian yang bersifat ‘bendawi’. Dalam dunia Islam, memang ada orang-orang shalih yang mendapatkannya. Biasanya karamah hissiyah itu datang secara tiba-tiba pada saat orang yang dikasihi oleh Allah (auliya’ Allah) itu membutuhkan.

Dalam al-Qur’an terdapat kisah-kisah tentang karamah jenis ini. Seperti yang dialami oleh Maryam, ibu Nabi Isa. Ketika Maryam menyendiri di mihrab ia selalu mendapatkan makanan-makanan lezat, tidak diketahui dari mana datangnya makanan tersebut. Difirmankan oleh Allah dalam al-Qur’an: “… Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisi Maryam. Maka Zakariya berakata: “Hari Maryam dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.

Mayam bukan seorang Nabi. Tetapi dia hamba Allah yang dikasihi-Nya. Maka, datangnya makanan secara ajaib di sisinya itu menurut para ulama adalah karamah dari Allah, bukan mukjizat. Maryam tidak berniat secara khusus untuk mengadakan makanan lezat itu, tapi karena dia sedang membutuhkan dan dalam hati berdoa, maka Allah secara langsung mengirimkan makanan kepadanya.

Apa yang dialami Ashabul Kahfi, seperti juga diceritakan dalam al-Qur’an, juga merupakan karamah jenis ini. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga banyak mendapatkan karamah–karamah jenis ini.

Disebutkan oleh Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa ketika jenazah Abu Bakar al-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dibawa menuju tempat pemakaman di sisi makam Rasulullah, orang-orang yang  mengusungnya memberikan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Assalamu Alaika Ya Rasulullah, ini Abu Bakar sedang diluar pintu”. Ajaibnya, dari pintu makam Nabi tersebut terdengar suara, dan para sahabat sangat mengenali itu suara Nabi. “Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya”, bunyi suara dari makam Nabi tersebut. Inilah bentuk kehebatan Abu Bakar, setelah wafat pun, dia beri karunia oleh Allah.

Karamah seperti tersebut, menurut para ulama, juga berlaku pada orang-orang shalih, dekat dengannya yang disebut auliya’.Syekh Yusuf Nabhani menulis kitab Jami’ Karamati al-Auliya’ yang memuat banyak kisah-kisah karamah.

Akan tetapi, dalam dunia para sufi dan hamba Allah yang dekat dengan-Nya, karamah jenis hissiyah termasuk kategori pemberian Allah yang dianggap biasa-biasa. Tidak terlalu istimewa. Karena, para wali Allah itu merupakan orang yang hatinya terpaut hanya kepada Allah. Hal-hal yang sifatnya bendawi tidak dianggap keistimewaan. Ibnu ‘Athoillah al-Sakandari mengatakan: “Terkadang karamah diberikan kepada orang yang belum sempurna istiqamahnya”.

Karena itu, para wali bahkan menginginkan karamah bendawi itu dicabut karena bisa menjadi cobaan yang bisa mengganggu hubungan dia dengan Allah. Bukan malah bangga dengan khariqul ‘adah-nya, tetapi takut dengan kemampuan yang demikian. Bisa saja terjadi ke-wali-annya dicabut oleh Allah karena dia tergoda oleh ‘ujub, sombong dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Makanya, karamah ma’nawiyah merupakan karamah yang dianggap para wali sebagai karamah yang sesungguhnya. Karamah ma’nawiyah berupa kemampuan hebat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah (istiqamah) yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang pada umumnya.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Randi dalam syarah kitab al-Hikam berpendapat, karamah yang benar itu sesungguhnya berupa kemampuan istiqamah, sampai pada level kesempurnaan istiqamah. Dan landasannya ada dua; yaitu iman kepada Allah dengan benar, dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara dzahir maupun secara batin. Adapun karamah berupa khariq al-‘adah oleh para ahli tidak terlalu dianggap, sebab hal itu bisa saja terjadi pada orang yang tidak taat beribadah (Muhammad bin Ibrahim al-Randi,Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, hal.  214).

Karamah berupa istiqamah beribadah itu diakui oleh pembesar-pembesar sufi seperti Abul Hasan al-Syadzili, Abul Abbas al-Mursi, Ibnu Athoillah al-Sakandari, Abu Yazid al-Busthomi, dan lain-lain.

Kisah-kisah kehebatan ulama dahulu dalam ilmu dan beribadah juga dikategorikan karamah. Imam Syafii memiliki kebiasaan membagi waktu malamnya menjadi tiga. Malam pertama untuk menulis, malam kedua untuk ibadah (baca al-Qur’an, dzikir dan shalat) dan sepertiga malam akhir, untuk istirahat (Al-Dzahabi,Siyar A’lam al-Nubala/10, hal 35). Di bulan Ramadhan beliau khatam al-Qur’an sebanyak 60 kali. Berarti dalam sehari khatam al-Qur’an dua kali. Dalam satu kisah, ketika menginap di rumah imam Ahmad, muridnya, imam Syafi’i dalam waktu hanya separuh malam mampu menyelesaikan 72 masalah dalam ilmu fikih.

Seorang tabi’in bernama Aswad bin Yazid pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam saja. Tidak pernah tidur, kecuali pada waktu antara maghrib dan isya. Para kekasih Allah zaman dahulu jarang yang tidur. Jika tidur, biasanya bukan sengaja memejamkan mata, tetapi tertidur. Ada pula kisah ulama yang shalat sehari semalam seribu rakaat. Dalam ilmu, imam Nawawi selama hidupnya telah menulis kitab sebanyak 46 judul. Ada beberapa judul kitab yang berjilid-jilid tebal, juga dikategorikan karamah.

Kemampuan para ulama menyembunyikan amal shalih secara rapat hingga bertahun-tahun tidak ada orang yang mengetahuinya juga karamah. Seperti Sayid Ali Zainal Abidin yang tiap malam memikul gandum dibagi-bagi kepada fakir miskin. Para fakir yang menerima makanan dari Sayid Ali pun tidak mengetahui. Karena memberikannya secara sembunyi-sembunyi di malam hari yang gelap. Hal itu dilakukan selama empat puluh tahun. Ketika meninggal dunia, diketahui punggung Sayid Ali memar karena memikul gandum tiap hari selama bertahun-tahun.

Karamah seperti ini lah yang didamba oleh para wali Allah. Karena itu, para ulama sufi mengingatkan agar berhati-hati dengan orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Karena bisa saja itu dari setan, sulap atau yang lainnya. Tukang sihir Fir’aun dikisahknya juga hebat-hebat, mengubah kayu jadi ular, megubah batu jadi emas dan lain-lain. Tetapi kemampuan ini atas bantuan setan, bukan bentuk kemulyaan dari Allah.

Abu Yazid al-Busthomi ditanya oleh seseorang mengenai orang yang mampu berjalan dari Baghdad ke Makkah dalam sehari. Abu Yazid menjawab: “Setan pun bisa berjalan dari ujung timur bumi sampai ujung barat hanya dalam sekejap, tetapi ia (setan) tetap dalam laknat Allah” ((Muhammad bin Ibrahim al-Randi,Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, hal.  214). Dia juga pernah ditanya tentang orang yang mampu berjalan di atas air. Apa jawabnya? Dia tersenyum dan berkata: Saya tidak terkejut. Karena ikan itu berenang di atas air, dan burung terbang di udara.

Imam al-Qusyairi mengatakan: Orang yang merasa telah wushul (sampai) kepada tingkat tertentu kemudian meninggalkan aktivitas ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt itu lebih buruk dari orang yang mencuri dan berzina. Wali yang meninggalkan kewajiban syariat bukanlah wali tapi bodoh mengaku pintar (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya’, hal. 368). Imam Junaid al-Baghdadi, berpendapat: “Tidak setiap orang yang memiliki kekhususan, itu sempurna keikhlasannya”.

Arti dari penjelasan para ulama sufi tersebut adalah kehebatan melakukan sesuatu yang diluar jangkauan manusia pada umumnya itu bukan satu-satunya tanda kewalian, bukan pula tanda keshalihan. Karena bisa terjadi pada ahli maksiat dan orang kafir. Kewalian dan keshalihan ditandai dengan istiqamah. Bahkan, orang yang sesat bisa jadi menggunakan istilah-istilah Islam untuk menyimpangkan agama umat Islam.

Adapun orang yang memamerkan kehebatan itu bukan orang yang shalih apalagi bukan wali, tetapi orang yang terpacu oleh hawa nafsu dan atas anjuran jin dan setan. Karena sifat dasar setan adalah menipu untuk menyesatkan manusia. Sedangkan manusia awam mudah tertipu oleh keajaiban-keajaiban bendawi. Maka, biasanya pelaku penyesatan agama biasanya menggunakan bahasa-bahasa agama untuk menipu manusia. Seperti menggunakan istilah wali, karamah, imam, dan lain-lain yang disimpangkan maknanya. Mirip dengan orientalis atau pengikutnya yang membelokkan makna nubuwah, al-Islam,rahmatan lil alamin, dan lain-lain.*

enulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dukunKaramahkemampuan luar biasa yang diberikan Allah pada manusiapara normalstidraj
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tasamuh Ala Islam vs Toleransi Barat
Tulisan selanjutnya Serbuan Buruh Asing Dinilai Tak Bisa Dibendung karena Kebijakan Bebas Visa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?