Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

George Floyd Menjadi Martir, Apa Kabar Nasib 6 Laskar FPI yang Terbunuh?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Maret 2021 17:01 5:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Maret 2021 17:01
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Terbunuhnya George Floyd, 46 tahun, itu di Amerika. Dan terbunuhnya 6 Laskar FPI, di Tol Km 50 Jakarta-Cikampek. Mereka sama-sama terbunuh dalam aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian.

George Floyd, 46 tahun, ditangkap polisi Minneapolis, AS, karena dianggap membeli rokok dengan menggunakan uang palsu.

Derek Chauvin, seorang polisi di antara
empat polisi yang ada di tempat itu, menginjak Floyd dengan lutut kirinya di antara kepala dan lehernya. Floyd merintih dan mengatakan ia tidak bisa bernafas, dan lalu tubuhnya tak lagi responsif. Dalam hitungan menit Floyd meninggal.

George Floyd, ras Afro-Amerika, ini bukan siapa-siapa, sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi. Tidak banyak yang mengenalnya. Dia orang biasa saja, bahkan tergolong miskin.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Tapi setelah peristiwa 4 polisi kulit putih membunuhnya, maka namanya mengisi ruang publik begitu luas, yang menaruh simpati atasnya. Tagar #BlackLivesMatter lalu menggelora tidak saja di Amerika, tapi di belahan dunia lain.

Seluruh elemen masyarakat bergerak dan marah bersama atas perlakuan tidak manusiawi. Itulah pemantik atas kesewenang-wenangan, khususnya kepada ras Afro-Amerika.

Eskalasi menjadi meluas, dari protes atas kematian Floyd oleh aparat kepolisian, dan yang lalu menimbulkan kerusuhan di mana-mana.

Selanjutnya, pemerintah kota Minneapolis, memberikan kompensasi pra sidang 27 juta dolar AS, atau setara Rp 388 miliar kepada keluarga George Floyd. Tentu harga nyawah manusia tidak dapat dinilai dengan uang, tapi setidaknya ada pengakuan khususnya pihak kepolisian bahwa telah terjadi kesalahan atas terbunuhnya Floyd.

George Floyd terus dikenang sebagai martir, meski itu tidak diharapkannya, tapi mampu menggerakkan kesadaran baru, bahwa kesewenang-wenangan atas nama kekuasaan mesti diakhiri.

Nasib 6 Laskar yang Memprihatinkan

Mari kita tengok negeri sendiri, dan itu tentang terbunuhnya 6 laskar pengawal Habib Rizieq Shihab (HRS). Pembunuhan tragis yang sampai sekarang masih belum mendapat kepastian, kecuali Komnas HAM memutuskan bahwa itu hanya pelanggaran HAM biasa saja, bukan HAM berat. Tiga orang polisi yang dianggap eksekutor mulai ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan.

Tarik ulur pendapat tentang kematian anak-anak muda itu, usia antara 20 sampai 26 tahun, sepertinya tidak mendapat pemberitaan obyektif yang seharusnya. Media tidak banyak yang mengangkat peristiwa ini dengan semestinya. Bahkan kasus George Floyd yang nun jauh di sana, lebih dapat prioritas pemberitaan.

Aparat polisi menembak mereka layaknya bajingan kakap atau teroris yang membunuh banyak orang, dan yang dianggap membahayakan jika tidak dilumpuhkan, itu perlakuan diluar kemanusiaan. Perlakuan sewenang-wenang seolah nyawa anak-anak muda itu tidak berharga.

Apakah pembunuhan itu atas perintah atasannya, dan atau atasannya lagi. Itu yang perlu diungkap. Atau apakah itu cuma perlakuan spontanitas dari mereka yang ditugaskan nguntit HRS. Untuk apa sebenarnya aparat polisi itu menguntit, apa mereka dianggap membahayakan?

Maka muncul Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) atas 6 laskar FPI, yang tidak puas dengan kerja Komnas HAM yang menganggap itu pelanggaran biasa saja. Tim terdiri atas Amien Rais, Abdullah Hehamahua, Marwan Batubara dan lainnya. Melihat kematian para laskar itu, TP3 menghendaki kematian 6 laskar FPI itu dibawa ke Pengadilan HAM Berat.

Pembunuhan sadistis oleh aparat kepolisian, itu masih dianggap pembunuhan biasa saja. Bahkan muncul tuduhan, bahwa 6 laskar itu sebagai pihak yang memulai penyerangan terhadap aparat kepolisian. Ini versi kepolisian, yang seolah tidak beda jauh dengan hasil temuan Komnas HAM.

Ditemukan samurai, senjata api, yang dituduhkan milik para syuhada itu. Tentu itu bukan budaya laskar eks FPI, yang memang terlarang membawa senjata tajam dan sejenisnya. Laskar jika harus bertindak, itu hanya dengan tangan kosong saja.

Maka keluarga para syuhada itu, memang pantas disebut syuhada, menantang pihak kepolisian atas kebenaran tuduhan itu dengan sumpah mubahalah, dijatuhkannya kutukan kepada mereka yang berdusta. Sayang itu tidak disambut pihak kepolisian.

Setelah terbunuhnya 6 laskar FPI itu, maka dilanjutkan pembubaran organisasinya. Seolah jadi organisasi berbahaya. Padahal dalam sejarahnya, organisasi itu selalu hadir jika terjadi peristiwa bencana alam, dan aksi-aksi sosial lainnya. Mereka sigap membantu, dan selalu hadir terdepan.

Jasa-jasa yang diperbuat HRS bersama Ormas yang dirawatnya itu dilupakan, diperlakukan sewenang-wenang, dan lalu seolah dikubur bersama 6 para syuhada. Kisah ironis yang hadir di negeri bermazhab Pancasila.

George Floyd, yang disinyalir melakukan perbuatan kriminal dengan membeli rokok dengan menggunakan uang palsu, kematiannya menjadi sesuatu yang menggerakkan kesadaran baru tentang rasisme.

Bandingkan dengan kematian anak-anak muda eks FPI itu, yang bukan pelaku kriminal, tapi mesti terbunuh dengan amat sadis. Tidak cukup di situ saja, mereka pun di stigma sebagai pihak penyerang polisi tanpa adanya bukti yang sebenarnya. Ini seperti dibunuh tidak cuma dengan senjata api, tapi juga dengan tuduhan yang mustahil bisa dibuktikannya. Tidak adil, memang. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:FPIGeorge FloydPenembakan Laskar FPI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pekerja Lintas Batas Prancis Protes Pemeriksaan Covid-19 Jerman
Tulisan selanjutnya STIE Hidayatullah Wisuda Sarjana yang Siap Ditugaskan Berkhidmat ke Masyarakat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?