Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Wakaf Bukan Budaya Kearifan Lokal, TOLAK!*  

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 31 Januari 2021 08:15 8:15 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 31 Januari 2021 08:09
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com |  Kenapa mencari uang mesti memakai konsep syariah segala. Bukannya syariah itu sebuah konsep menakutkan,  tidak luwes. Kenapa tiba-tiba konsep itu lalu jadi pilihan?

Bukannya konsep wakaf uang, yang syariah itu, jika dipakai nantinya akan menimbulkan “riuh” kepercayaan lain, yang alergi dengan apa saja yang berbau syariah?

Juga jelas-jelas wakaf syariah, yang dicetuskan pemerintah lewat Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU), itu bukanlah bagian dari budaya kearifan lokal.

Dimana mereka yang biasa membenturkan syariah (Islam) dengan budaya kearifan lokal itu, kok tidak bersuara. Harusnya wakaf syariah itu disikapi dengan penolakan.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Layak berkeberatan dan menolak konsep wakaf uang itu, karena itu konsep Islam, agama pendatang dari Arab yang arogan, kata Abu Janda. Kenapa mesti diberi panggung?

Mestinya ada yang berani berkeberatan dengan pencanangan GNWU itu. Keberatan dengan pencarian dana memakai konsep syariah itu.

Bukankah pencarian uang itu bisa dilakukan lewat budaya kearifan lokal. Maka ajukan saja apa yang sekiranya bisa menggantikan konsep syariah itu.

Konsisten menolak konsep syariah itu mestinya jadi sikap. Tidak cuma dimulut saja, atau cuma karena pesanan saja bacot lalu jadi tajam mengoreksinya.

Ajukan saja konsep yang bersandar pada budaya kearifan lokal, menggantikan wakaf uang itu, bukannya kita punya konsep model pendanaan yang pas untuk itu.

Jika digali dan dipikirkan oleh mereka yang bersandar pada konsep kearifan lokal, mestinya bisa ditemukan pengganti konsep wakaf syariah yang tidak plural itu.

Tidak perlulah segan dan irit pada ide, guna bisa membantu negeri ini keluar dari kesulitan keuangan, membantu Ibu Sri Mulyani, Menteri keuangan, yang cekot-cekot menjaga stabilitas keuangan.

Ajukan saja konsep pendanaan model budaya kearifan lokal, meski biasanya klenik irrasional. Terpenting negeri ini bisa keluar dari kesulitan keuangan.

Tidak tahu persis, apakah tuyul,  babi ngepet, pesugihan… dan lainnya, konsep mencari uang dengan cara-cara mistis, itu masuk budaya kearifan lokal?

Jika itu bagian dari budaya kearifan lokal, kenapa tidak konsep pencarian uang dengan media mistis itu jadi pilihan. Maka tanggalkan saja konsep wakaf uang itu. Monggo…!

*Tulisan ini dibuat dengan memakai pikiran mereka yang alergi pada konsep syariah

Kolumnis, tinggal di Surabaya

 

Opini lain Ady Amar

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BudayaGNWUkearifan localsyariahtuyulwakaf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Argentina Berlakukan Pajak Jutawan untuk Biayai Penanggulangan Covid-19
Tulisan selanjutnya Persis Sarankan Pemerintah Gunakan Dana Wakaf untuk Kepentingan Umat, bukan Penopang Infrastruktur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Berita
16 Oktober 2026 14:29
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?