Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Berkat “Kudeta” Itu, Berkah Bagi Partai Demokrat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Februari 2021 11:01 11:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Februari 2021 11:01
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | “Kudeta” dalam tanda kutip, adalah kudeta-kudetaan, atau dalam konteks tulisan ini, adalah rencana kudeta yang gagal. Itu yang terjadi pada Partai Demokrat, yang coba dikudeta.

Mungkin baru di negeri ini ada partai dikudeta, dirampas hak kepemimpinannya, diganti dengan pimpinan baru. Itu bisa pemimpin dari dalam, atau dari luar.

Bisa juga memakai pemain lawas yang tersingkir, dan yang masih punya “greget” di partainya. Sepertinya “kudeta” model demikian yang kerap dipakai.

Sejarah “kudeta” partai politik bukan hal baru, dan tulisan ini membatasi pada Orde Reformasi. Kudeta paling awal mengena pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dimulai dari pecat-memecat antara Suryadharma Ali (Ketua Umum) dan Muhammad Romahurmuziy (Sekjen).

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kubu Romahurmuziy mendahului mengadakan Muktamar Surabaya, 15-18 Oktober 2014, padahal kubu Suryadharma Ali jauh sebelumnya telah mencanangkan Muktamar 30 Oktober 2014, di Jakarta.

Sebelum Muktamar Jakarta diselenggarakan, keluarlah SK Menkumham mengesahkan hasil Muktamar PPP Surabaya, dengan Ketua Umumnya Muhammad Romahurmuziy.

Muktamar PPP Jakarta tetap dilaksanakan, dan mengangkat Djan Faridz sebagai Ketua Umum. Dan menolak SK Menkumham itu, dan lalu menuntutnya ke PTUN Jakarta, dan kalah. Maka “kudeta” PPP itu berhasil.

Tidak lama kemudian Suryadharma Ali meringkuk di penjara, tuduhan korupsi. Beberapa tahun kemudian ketua umum hasil kudeta, Romahurmuziy, juga ngalami hal sama, ditangkap OTT KPK di Surabaya. Diangkat sebagai Ketua Umum di Surabaya, dan ditangkap juga di kota yang sama.

Setelah itu “kudeta” dialami partai hasil reformasi, Partai Amanat Nasional (PAN). Dan itu di Kongres PAN V di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kongres kisruh dengan lempar-lemparan kursi antar kubu Zulkifli Hasan (Zulhas), Ketua Umum yang ingin maju lagi, dan kubu “God Father“, M. Amien Rais.

Muncul di kongres itu dua tokoh elit yang juga mantan ketua umum sebelumnya, Sutrisno Bachir dan Hatta Rajasa. Dua tokoh yang sebenarnya sudah lama tidak aktif di PAN. Mereka itu semua anak didik politik Amien Rais. Di Kendari mereka berhadap-hadapan untuk “menggulingkan” sang guru.

Mereka semua berpihak pada Zulhas, sedang Amien Rais mencalonkan figur Mulfachri Harahap untuk memimpin PAN. Zulhas sendiri adalah besan dari Pak Amien Rais. Perang antarbesan. Dalam politik semua bisa terjadi.

Lalu, Amien Rais yang memang bersikap kritis pada pemerintah tersungkur di Kendari. Bukan itu saja, Amien Rais “diusir” dari rumah yang didirikan dan dirawatnya, PAN. Akhir yang mengenaskan.

Maka “kudeta” terhadap tokoh kritis yang dianggap krikil tajam dalam sepatu kekuasaan, itu dianggap berhasil. Amien Rais sadar bahwa ada tangan kuat yang bermain dalam kongres itu, lalu ia memilih untuk tidak melawan.

Lalu permainan model kudeta itu juga akan dimainkan lagi, dan itu pada Partai Demokrat. Memakai para mantan pengurus yang sudah lama tidak aktif, dan tidak “bergigi”, baik di mata Pengurus Cabang/Daerah dan apalagi Pengurus Pusat.

Akan memasukkan, dan jika itu benar, adalah figur luar partai yang tidak ada hubungan historis dengan Partai Demokrat. Figur itu adalah Pak Moeldoko, kepala Kantor Staf Presiden (KSP).

“Kudeta” itu untuk sementara gagal total, tapi tidak mustahil akan dipakai strategi lain yang lebih canggih, bisa dengan halus, atau bahkan kasar. Skenario itu bisa dibuat dengan model dan cara apa saja yang memungkinkan.

Berkah “Kudeta” Gagal

Bagaimana nasib partai-partai lainnya, apakah juga akan bernasib sama, diganggu oleh isu “kudeta”, tentu itu tergantung. Bisa dilihat dari seberapa pentingnya partai itu untuk bisa diganggu.

Dua partai yang berhasil “dikudeta” itu (PPP dan PAN), lalu menjadi partai penurut. Karenanya, akan sulit bersaing dalam pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2024. Bisa lolos dari electoral threshold parliament 4% itu saja sudah bagus. Malah prediksi pengamat mengatakan sulit untuk bisa lolos.

Sedang Partai Demokrat, yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak muda dengan pangkat Mayor, yang coba “dikudeta”, jika itu benar, oleh Jenhderal (Pur) Moeldoko, mendapat berkah.

Blessing in disguise… dan dari gagal kudeta itu, justru berkah yang diraup-didapat. Isu kudeta gagal itu bisa dikemas menjadi nilai tersendiri buat Demokrat. Menjadi iklan gratis yang hadir di benak publik.

Tidak perlu banyak narasi diumbar untuk menaikkan “bendera” partainya di mana-mana. Karena bendera atas nama “dizalimi” itu tercipta dengan sendirinya. Dan itu dibaca baik oleh publik.

Tampaknya AHY, bisa jadi secara kebetulan, mengulang sejarah Ayahanda Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memakai konsep “dizalimi”, dan itu oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Dizalimi” itu lalu mengerek nama SBY melambung di hati rakyat, dan pada tahun 2004, ia memenangi kontestasi Pilpres  mengalahkan Ibu Megawati. Soal mengemas “rengekan” demikian Pak SBY memang jagonya.

Hari-hari ini publik diajak AHY untuk menantikan balasan suratnya. Surat sebagai ketua partai, yang dilayangkan pada Presiden Jokowi. Mustahil surat resmi partai itu tidak dibalasnya.

Tapi balasan dari Presiden Jokowi itu mesti dipikirkan dengan cermat. Surat itu memang tampak menjebak dan politis sifatnya. Menjawab dengan “tidak tahu” dengan rencana Pak Moeldoko itu punya konsekuensi, setidaknya meminta pihak Kepolisian untuk menyelidiki kebenaran kabar itu. Mustahil juga jika menjawab, “tahu” atas rencana “kudeta” itu, pastilah punya konsekuensi hukum serius.

AHY dan Partai Demokrat dalam beberapa hari ini, dan bahkan sampai pekan-pekan depan, akan bisa memainkan isu “kudeta” ini dengan baik. Mencicil berita sedikit demi sedikit pola dari rencana “kudeta” gagal itu terus ditiupkan. Sah-sah saja jika itu didasari pada data-data yang dipunya.

Mengemas isu yang meski tidak mengenakkan, itu bisa jadi berkah tersendiri jika bisa memainkannya secara baik, terukur dan tanpa menambah-nambahkan hal yang tidak semestinya.

AHY bisa kokoh menghadapi itu semua, karena partai yang dipimpinnya itu solid, dari daerah sampai pusat. Karenanya, sulit ditembus kekuatan luar untuk merebut partainya dengan cara-cara yang diada-adakan.

Dan jangan lupa, Partai Demokrat itu masih punya begawan strategi politik yang tidak cuma bisa membaca kecenderungan politik yang ada. Tapi juga “jago” memainkan suasana batin publik… Pak SBY sulit dicari tandingannya. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kudeta partai demokrat Orde Reformasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Beratnya Fitnah di Akhir Zaman
Tulisan selanjutnya Wakil Ketua MUI: Negara atau Sekolah Harus Wajibkan Anak Didik Berpakaian Sesuai Ajaran Agamanya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?