Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | Lucu juga tingkah pola mereka yang menamakan diri Partai Demokrat (PD) kubu Kongres Luar Biasa (KLB), yang mengangkat Jenderal (Purn) Moeldoko, sebagai Ketua Umum. Lucu bagaimana?
Menjadi lucu karena mengadakan konperensi pers memilih tempat yang tidak biasa, dan itu di Hambalang. Tampak mencoba membuka luka lama, yang sebenarnya tidak ada korelasi dengan sah tidaknya KLB PD itu.
Ternyata benar, salah satu pengurus dan penggagas aktif KLB itu, yang lalu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, Darmizal, menyampaikan keterangan pers, 25 Maret, “Di sana kita akan mengenang sejarah. Bangunan mangkrak hasil dari bapak mangkrak.”
Konperensi pers itu menunjukkan ketidakdewasaan mereka yang terhimpun dalam kubu PD KLB. Seolah mau limpahkan persoalan mangkraknya proyek Hambalang itu pada Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atau setidaknya pada Ketua Umum PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Apa hubungannya dengan Pak SBY? Bukannya beberapa pengurus PD saat itu juga ada yang sudah di proses hukum, dan bahkan menjalani hukumannya. Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum, dan Bendahara Umum Muhammad Nazarudin, adalah mereka yang diproses hukum. Dan M. Nazarudin sudah menjalani hukumannya, dan lalu ikut terlibat dalam KLB PD.
Baca: Merampas Paksa Partai Demokrat, Upaya Mengganjal Anies-AHY pada Pilpres 2024?
Mengadakan konperensi pers di Hambalang, itu seolah sama sekali tidak mengindahkan psikologis Nazarudin, seolah mengajaknya bernostalgia di Hambalang, itu sama saja membuka luka lama kawan sendiri. Harusnya jangan ingatkan lagi ia dengan proyek mangkrak yang itu juga karena ulahnya. Kasihan yang bersangkutan jika harus diingatkan lagi.
Benar ternyata Nazarudin memilih tidak hadir pada konperensi pers di Hambalang itu. Ia memilih untuk tidak mengenang peristiwa yang sampai membawanya meringkuk dalam tahanan.
Konperensi pers dibuat tampak ala kadarnya, diadakan di halaman depan Sport Centre Hambalang, Bogor, dengan tenda putih yang tidak terlalu besar. Hujan turun deras dan petir menyambar-nyambar. Saat petir keras berdentam, Max Sopacua menyebut, bahwa Tuhan sepertinya merestui. (Silahkan saja kalau ada yang mau ngakak dengar pernyataan Pak Max itu).
Sejarah yang pernah dibuat ramai-ramai dulu itu sebaiknya di kubur saja, karena itu aib bersama. Bukan lalu menimpakan sejarah kelam itu pada PD di bawah kepemimpinan AHY. Memangnya Pak Marzuki Alie, Darmizal, Max Sopacua, M. Nazarudin, Jhoni Allen Marbun dan lainnya, yang saat ini ada di kubu PD KLB, itu bukannya ada dalam satu kubu saat proyek itu berlangsung.
Kedewasaan berpolitik memang tidak bisa dilihat dari umur yang sudah lanjut, atau mereka yang sudah sepuh (senior), tapi lebih pada kualitas dalam laku dan sikap politiknya.
Membuat acara di Hambalang, itu ibarat mainan untuk anak-anak tapi dimainkan manusia sepuh dengan tanpa sadar, yang itu tidak selayaknya dimainkannya. Menggelikan.
Baca: KLB PD Seolah Mengulang Sejarah KLB PDI Medan, 1996: Noda Hitam Demokrasi
Cacing Kepanasan
Tahu lihat cacing kepanasan? Tubuhnya menggelepar-gelepar ingin menjauh dari sengatan terik, tapi tetap tidak dapat menggerakkan badannya. Intuisinya mandek, tidak mampu memerintah tubuh untuk bergerak.
Jika cacing kepanasan itu disambitkan pada manusia, maka itu bisa dimaknai hati panas dan lalu pikiran tidak terkontrol dalam bersikap. Lakunya jadi tidak biasa, tidak normal. Maka apa yang dilakukan itu hasil dari hati yang panas.
Jika sudah demikian, maka output-nya pastilah berantakan gak berbentuk. Dan jika itu kumpulan manusia, maka gerakannya akan sporadis, awut-awutan dan tidak terkontrol. Seperti robot error yang digerakkan, yang akan berkesudahan dengan kerusakan, sebelum merusak apa saja yang bisa dirusaknya.
Kehadiran sebagai pembuat kerusakan, tentu itu tidak disadarinya. Menganggap apa yang dilakukan itu memang seharusnya, meski menimbulkan persoalan. Lagak benar dengan tindakannya, meski banyak pihak yang menyayangkan laku di luar keadaban berpolitik.
Mencoba membuat malu pihak lain dengan melemparkan kesalahan masa lalu, dalam hal proyek Hambalang, pada PD AHY, itu aneh bin ajaib. Katanya AHY anak kemarin sore, yang baru ada di PD menjelang Pilkada DKI Jakarta (2017). Kok sekarang anak kemarin sore itu lalu harus menanggung aib pengurus lama. Aneh.
Sampai-sampai tagline iklan PD lama, “Katakan Tidak pada Korupsi”… lalu dipelesetkan pihak PD KLB, “katakan tidak, lalu korupsi”. Padahal tagline itu dibuat pada era Dalmizar cs ada di sana. Tagline kebaikan, yang diniatkan untuk kebaikan, lalu jika ada yang korupsi, lalu salah tagline itu di mana? Hal-hal absurd yang terus dimunculkan, amat tidak strategis.
Pak Moeldoko, Ketua Umum kubu PD KLB, tidak hadir pada konperensi pers itu. Dan memang beliau memilih tidak tampil di hadapan publik pasca KLB PD, entah kenapa. Soal itu tidaklah perlu berspekulasi. Mungkin saja Pak Moel belum perlu ngopi-ngopi, seperti yang dulu-dulu kerap ia lakukan… Wallahu a’lam. (*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya