Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Penggunaan Rahim Sintetis pada Manusia dan Kekacauan Nasab

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Februari 2022 14:43 2:43 pm
Ahmad
Dipublikasikan 2 Februari 2022 15:00
Bagikan
rahim sintetis
Bagikan

Karenanya, penggunaan teknologi rahim sintetis pada manusia kurang pas, sebab hal ini berpotensi pada timbulnya kekacauan nasab manusia

Oleh : Ayu Mela Yulianti, SPt.

Hidayatullah.com | PENDIRI uang kripto dan platform Ethereum, Vitalik Buterin, mengusulkan peran hamil perempuan diganti dengan rahim sintetis alias Rahim buatan. Menurutnya, hal ini bisa membantu mengurangi kesenjangan gaji antargender.

Ide ini dia utarakan setelah sebelumnya Elon Musk khawatir tentang populasi manusia yang akan punah. Terlebih lagi makin banyak manusia yang tak mau punya anak. (Jakarta, Detik .com, Januari 2022).

Rahim sintetik adalah rahim buatan yang berada diluar tubuh, terpisah dari tubuh induk. Digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin atau embrio.
Penggunaan teknologi rahim sintetik ini telah berhasil menumbuhkan dan mengembangkan embrio tikus dan domba. Sehingga menjadi harapan solusi bagi permasalahan pertumbuhan janin dan kelahiran pada manusia.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Akan tetapi banyak hal yang pada akhirnya mengundang polemik terhadap wacana penggunaan rahim sintetik ini untuk manusia, ada yang mendukung namun banyak juga yang menolak. Maka haruslah kita dudukan urgensi keberadaan rahim sintetik ini bagi manusia.

Sebab sejatinya manusia berbeda dengan hewan, pun manusia tidak bisa pula dianggap dan disejajarkan sama dengan benda, sebab manusia memiliki akal, hati dan perasaan yang sejatinya hal tersebutlah yang pada akhirnya membedakan manusia dengan hewan dan benda. Sehingga dalam memperlakukan manusia pun akan sangat berbeda dengan memperlakukan hewan dan benda, termasuk dalam upaya untuk memperkembangbiakannya.

Proses perkembangbiakan manusia pada dasarnya sama dengan hewan, butuh sel telur dan sel sperma untuk dikawinkan. Hanya saja dunia perkawinan hewan dan manusia sangat berbeda. Sebab manusia memiliki seperangkat aturan untuk proses perkembangbiakannya.

Proses perkembangbiakan manusia dilakukam melalui jalan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dengan ikatan penikahan yang memenuhi syarat dan rukun nikah. Sebab anak hasil dari pernikahan tersebut kelak akan bernasab pada kedua orang tuannya, bukan orang lain.

Dari ikatan nasab ini akan turun pula hak-hak yang akan diperoleh oleh anak berdasarkan nasabnya. Anak yang diperoleh dari hasil pernikahan tersebut secara alaminya akan tumbuh didalam rahim ibunya, bukan rahim orang lain.

Ini adalah proses dihasilkannya anak secara normal. Namun jika kondisi tidak memungkinkan untuk hamil secara normal, sebab rahim lemah atau sebab lainnya, maka diperbolehkan menggunakan rahim sintetis dengan syarat selama segala hal yang terkait dengan kebutuhan tumbuh kembang janin dalam rahim sintetis tersebut berasal dari tubuh ibunya, yang diambil melalui proses tertentu.

Semisal kebutuhan hormon penunjang tumbuh kembang janin dalam rahim sintetis dan segala hal yang bisa mendukung tumbuh kembang janin dalam rahim sintetis, semuanya harus berasal dari ibunya. Hal ini untuk menjaga nasab agar tidak tercampur dengan yang lain.

Dengan catatan rahim sintetis adalah sebuah wadah untuk tumbuh kembang janin di luar tubuh induk. Juga dengan catatan janin berasal dari bibit milik pasangan suami-isteri, bukan milik donor atau pihak lain.

Kekacauan nasab

Namun, menjadi hal yang patut dan perlu dipertimbangkan adalah, bahwa hormon penunjang kehamilan dan tumbuh kembang janin dalam rahim hanya bisa diproduksi oleh ibu yang sedang hamil saja, tidak bisa diproduksi oleh selainnya. Maka menjadi polemik pada akhirnya ketika harus menjaga nasab agar tidak terjadi kekacauan nasab, sementara kondisi ini tidak didukung oleh kondisi ibu pemilik janin yang ditumbuhkan dalam rahim sintetis, sebab janin diperoleh melalui proses bayi tabung dan ibu pemilik janin tidak dalam kondisi hamil sehingga tidak dapat memproduksi hormon yang diperlukan untuk disuntikan dalam rahim sintetis tempat janinnya berada.

Jikapun bisa diperoleh dengan rangsangan suntik hormon yang diberikan pada ibu pemilik janin yang ada di dalam rahim sitetik tersebut, bukankah berpotensi pada akan menjadikan ibu menjadi tidak nyaman (sakit)? Sebab pertumbuhan janin tidaklah sama dengan pertumbuhan bayi yang telah lahir.

Janin tumbuh terikat dengan tubuh ibu sedangkan bayi yang telah lahir tidak.

Karenanya, penggunaan teknologi rahim sintetik, menjadi kurang pas jika diperuntukan bagi pertumbuhan manusia, sebab berpotensi pada timbulnya kekacauan nasab manusia. Dan teknologi rahim sintetik ini lebih cocok digunakan untuk proses perkembangbiakan hewan untuk menjaganya dari kepunahan, bukan pada manusia.

Manusia adalah makhluk yang memiliki akal, hati dan perasaan, yang suatu saat akan mempertanyakan asal usul kejadiannya. Yang berarti pula mempertanyakan keturunan dan nasab yang patut dimilikinya, sebab mempertanyakan nasab adalah sesuatu yang sangat alami dan naluriah saja, sebagai efek dari keberadaan akal pada setiap manusia.

Jikapun ada yang tertarik untuk menggunakan rahim sintetik untuk menjadi satu solusi permasalahan hidupnya, maka tetap perlu diperhatikan kaidahnya sehingga tidak menimbulkan masalah pada nasab dikemudian hari. Sebab produk akhir dari penggunaan rahim sintetik ini adalah lahirnya manusia baru yang perlu dijelaskan dan dijawab asal usulnya (nasab) dengan benar.

Jikapun terjadi penurunan jumlah populasi pada manusia sebab semakin banyak manusia yang tidak mau punya anak, solusi yang paling manusiawi mendorong setiap orang agar mau menikah.

Tentu ada satu dorongan kuat yang bisa merealisasikan hal tersebut adalah dorongan keimanan. Bahwa menikah adalah ibadah, memiliki anak adalah peluang mendulang pahala yang besar apalagi jika anak menjadi sholih, maka anak akan bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke Surga.

Dorongan sepertini menjadi tidak berfungsi jika tatanan kehidupan sangat didominasi oleh nilai-nilai materialistik saja. Menilai keberhasilan dari jumlah penghasilan (uang) yang diperoleh, semakin besar uang yang didapat, nilai sukses semakin tinggi.

Tatanan kehidupan materialistik ini akan menjauhkan minat manusia untuk menikah dan punya anak. Sebab menikah dan punya anak akan dipandang sebagai beban, apalagi untuk perempuan, sebab menikah dan punya anak berarti karir meredup dan sulit untuk mencapai penghasilan yang tinggi apalagi mimpi untuk mengungguli karir laki-laki.

Karena itu perlu mengembalikan kesadaran manusia akan pentingnya beragama dan menjadikan nilai-nilai agama dipakai dalam kehidupan. Sebab, hanya dalam agama saja dikenal nilai dan makna keimanan.

Nilai keimanan inilah yang akan menjadi kontrol dalam setiap perbuatan manusia, sehingga manusia akan menempuh jalan sesuai fitrah penciptaannya saat memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk dalam memenuhi keinginan untuk memiliki anak. Manusia akan menikah sesuai tuntunan agama, dan denga kesadaran keimanan ini manusia akan terhindar dari ancaman kepunahan dan kekacauan nasab. Wallahualam.*

Penulis pemerhati kebijakan publik

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:nasabTeknologiwanita hamil
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya radikalisme Cegah Radikalisme Demi Persatuan atau Ciptakan Perpecahan?
Tulisan selanjutnya tentara Iraq Sisa-sisa Jenazah 600 Tentara Iraq Ditemukan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Berita
28 Agustus 2026 09:20
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?