Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

5 Tikungan Tajam Lembaga Pendidikan Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Mei 2022 10:17 10:17 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Mei 2022 10:15
Bagikan
Bagikan

Besarnya animo masyarakat tentu menjadi salah satu keinginan lembaga pendidikan Islam

Oleh: Rully Cahyo Nufanto

Hidayatullah.com | ADANYA lembaga pendidikan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan menyiapkan generasi yang unggul. Lembaga pendidikan Islam tercetus dari kebutuhan masyarakat, kemudian terkonsep dengan didasari, digerakan, dan dikembangkan oleh nilai-nilai Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah).

Alhamdulillah, perkembangan lembaga pendidikan Islam saat ini bisa dikatakan sangat pesat. Salah satu indikasinya adalah bermunculannya banyak lembaga pendidikan dengan menawarkan diferensiasi keunggulan masing-masing. Kondisi tersebut tentu patut disyukuri, terlebih lagi minat masyarakat amat tinggi.

Namun perkembangan amat baik ini bukan berarti tanpa meninggalkan cela. Jangan sampai hal ini sekadar menjadi euforia sesaat, seperti jamur yang sedang tumbuh di musim hujan, tapi dibiarkan dan tidak dirawat dengan baik.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Sering kita mendengar “dulu” ada lembaga pendidikan yang terkenal bagus kualitasnya, banyak santrinya, menjadi cita-cita para orang tua untuk mensekolahkan putra putrinya di sana. Tetapi saat ini tinggal “nama”.

Bahkan wujud fisik lembaganya tidak nampak lagi. Artinya, durabilitasnya tidak cukup lama untuk bisa berkiprah dalam rangka tarbiyah dan dakwah.

Beberapa hal perlu diantisipasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Ini merupakan tikungan tajam yang bisa saja membuat lembaga saat ini tumbuh dan berkembang, tiba-tiba menjadi redup dan padam.

Kuantitas belum diimbangi kualitas

Besarnya animo masyarakat tentu menjadi salah satu keinginan lembaga pendidikan. Jumlah santri yang besar akan mampu mengangkat banyak program strategis.

Jika lembaga semakin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, bahkan telah menjadi pilihan utama untuk mendidik anak-anak mereka, maka ini menunjukkan bahwa ada “sesuatu” yang memang lebih baik daripada lembaga lain.

Akan tetapi seharusnya tidak boleh berhenti sampai di sini. Lembaga pendidikan harus berorientasi pada kualitas, jika tidak ingin ditinggal oleh masyarakat.

Hal ini perlu diwaspadai, sebab kini banyak ditemui lembaga pendidikan yang santrinya banyak namun kualitasnya belum terlihat jelas. Besar di permukaan, keropos di dalam.

Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas, maka perlu dilakukan beragam upaya sungguh-sungguh untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Hal ini penting dalam rangka menjawab tantangan untuk bisa melahirkan pendidikan yang berkualitas, hingga daya survive-nya bisa bertahan sampai waktu tak terbatas, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Masih mengandalkan prestasi individu

Seringkali lembaga pendidikan menginformasikan keberhasilan meraih juara dalam berbagai kompetisi, baik melalui media sosial, banner, dan spanduk. Hal ini tentu satu kebanggaan tersendiri serta bisa menjadi sarana branding dan promosi.

Masyarakat akan melihat bahwa lembaga pendidikan tersebut berkualitas dan recommended bagi orang tua yang sedang mencari sekolah/pesantren.

Namun ada hal yang perlu diwaspadai. Yakni jika keberhasilan meraih juara itu bukan karena sistem dan culture yang dibangun, tetapi lebih karena kemampuan individu yang memang sudah dimiliki dari awal dan punya potensi besar menjadi juara. Biasanya hanya santri atau orang tertentu saja yang berprestasi, sementara yang lain belum mampu berkompetisi.

Lembaga pendidikan yang hanya mengandalkan kemampuan individual tertentu, bisa dipastikan ada masalah dalam sistemnya. Terkait manajemen misalnya, bukankah tidak semua hal bisa kita eksekusi sendiri?

Ada suatu masa dimana harus dilakukan pendelegasian suatu tugas kepada orang lain. Cara seperti ini akan mampu membuat tim yang bekerja merasa memiliki setiap keputusan.

Apalagi lembaga pendidikan yang masih mengandalkan kemampuan individu saja, sudah tidak popular lagi diterapkan di era disruptif seperti saat ini.

Program tanpa evaluasi

Banyak lembaga pendidikan yang mempunyai progam kerja yang bagus dan strategis, akan tetapi dampak dari program tersebut belum diketahui secara pasti. Program itu hanya sekadar program untuk memenuhi agenda kegiatan tahunan, sehingga lembaga ada aktivitas atau rutinitas, seolah-olah semua berjalan dengan baik.

Rangkaian program mulai dari awal tahun ajaran baru hingga akhir, tidak diketahui apa manfaat dan hasil yang sudah dicapainya.

Ketidakjelasan seperti itu biasanya dikarenakan tidak pernah dilakukan evaluasi. Atau malah mungkin lembaga pendidikan ada semacam “ketakutan” melakukan evaluasi program atau memang belum biasa saja.

Evaluasi yang sering dipahami selama ini masih terbatas pada penilaian dan pengawasan saja. Padahal evaluasi program hadir untuk memberikan masukan, kajian, dan pertimbangan dalam menentukan apakah program layak untuk diteruskan, disempurnakan lagi, atau dihentikan.

Sesungguhnya istilah evaluasi program menjadi sesuatu yang lumrah di lembaga pendidikan, bahkan wajib dilakukan, jika ingin terus berkembang. Manfaatnya adalah adanya keputusan yang tepat terhadap program yang sedang atau sudah dilaksanakan.

Tanpa evaluasi, kita tidak akan bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan santri, dan tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik. Jadi secara umum, sesungguhnya evaluasi adalah suatu proses sistemik untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program.

Masalah yang sama terus berulang

Mengelola lembaga pendidikan sesungguhnya sama dengan lembaga-lembaga lainya. Artinya, tidak terlepas dengan berbagai permasalahan. Hal ini memang tidak bisa dihindari, dan harus dihadapi dan diselesaikan.

Permasalahan yang biasanya muncul seperti konsep lembaga yang belum jelas, jumlah santri yang masih di bawah batas minimal, proses KBM yang belum stabil, kompetensi SDM yang belum terstandarisasi dan sering keluar masuk, tingkat kepercayaan masyarakat masih rendah, fasilitas pendukung minim, pembiayaan yang masih belum optimal, dan sebagainya.

Permasalahan di atas secara umum sudah diketahui oleh pengelola lembaga pendidikan, tetapi hampir setiap tahun terus berulang. Kenapa itu bisa terjadi?

Bisa jadi lembaga pendidikan menganggap sepele masalah yang sedang dihadapi, belum mampu belajar dari kesalahan yang sama, belum menemukan solusi yang tepat dan mencoba melihat solusi dari sudut yang berbeda, atau belum mencoba melibatkan pihak-pihak yang lebih berkompeten untuk membantu menyelesaikan masalah.

Masalah harus diselesaikan sesegera mungkin. Jika tidak, ketika masalah yang lain datang dan semakin banyak, maka akan semakin rumit. Lembaga akan kesulitan menghadapinya.

Perubahan manajemen tanpa perencanaan

“Baru menjabat kepala sekolah 1 tahun, kok sudah diganti?” “Baru minggu lalu beliau presentasi program kerja, ternyata hari ini sudah harus pindah tugas”.

Komentar seperti ini terkadang sering kita dengar, dengan dalih perubahan atau pergantian manajemen itu lazim dalam sebuah lembaga pendidikan. Hari ini di sini, besok atau lusa bisa jadi di tempat yang berbeda, seolah menjadi biasa saja.

Tunggu dulu. Perubahan atau pergantian memang hal yang lumrah dan biasa, tapi menjadi masalah kalau terkesan mendadak dan dipaksakan. Apalagi jika sudah menjadi kebiasaan tanpa ada perencanaan yang jelas.

Perubahan atau pergantian semestinya dilakukan secara sistematis, sebab hal ini berdampak terhadap sarana dan sumber daya secara keseluruhan. Perubahan harus dilakukan dengan strategi yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang atau akan terjadi.

Akibat yang ditimbulkan oleh perubahan setidaknya ada dua hal, yaitu menuju perkembangan atau menuju decline. Kedua hal itu dipengaruhi oleh faktor dari dalam maupun luar lembaga pendidikan itu sendiri.

Perubahan juga akan berpengaruh pada tahapan kesinambungan ke depan. Oleh karena itu, rencanakanlah dengan sebaik mungkin.

Itulah 5 tikungan tajam lembaga pendidikan. Permasalahan ini harus dipecahkan bersama. Dan jangan pernah menganggap ketika sudah menyelesaikan semua tikungan, maka dianggap selesai.

Belum tentu. Mungkin hari ini selesai, besok bisa jadi masalah yang sama terulang kembali, karena tanpa ada pemecahan.

Memecahkan masalah memang mengandung arti menyelesaikan. Tetapi menyelesaikan tanpa memecahkan akar masalah, hanya menunda datangnya masalah yang lain. Ini sama saja dengan dengan menggampangkan masalah. Allahu a’lam.*

Pengajar di International Islamic Boarding School (IIBS) Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahGenerasi Unggulpendidikan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya JIS Bahasa Indonesia “Anies Hanya Fasilitasi Sholat Ied Dituduh Jualan Politik Identitas…”
Tulisan selanjutnya Idul Fitri Fil Fikri: Sebuah Refleksi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?