Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bom Bali, Konspirasi Intelijen Amerika dan Israel

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2002 07:30 7:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2002 07:30
Bagikan
Bagikan

Oleh Dr. Riza Sihbudi *

Setelah tragedi WTC 11 September 2001 pemahaman tentang teroris dan terorisme cenderung direduksi sedemikian rupa, sehingga setiap kali menyebut kata ‘teroris’ dan ‘terorisme’, yanf ada dibenak sebagian besar masyarakat adalah Al-Qaidah pimpinan Usama bin Laden dan kaum teroris Islam lainnya. Kemudian berkembang stigma yang menyamakan kaum fundamentalis (baca: anti-AS) sebagai teroris. Lalu, yang paling ironis, stigma yang menyamakan atau minimal mengidentikkan Muslim dengan teroris atau Islam dengan terorisme. Fenomena ini begitu mudah dilihat di sejumlah website di internet yang mengkhususkan kajian pada persoalan terorisme.

Padahal, teroris dan terorisme jelas tidak hanya monopoli kalangan Islam. Cukup banyak contoh teroris yang bukan Islam, seperti Aum Shinrikyo di Jepang, kelompok Basque di Spanyol, IRA di Irlandia/Inggris, Macan Tamil di Sri Lanka, Kahane Chai di Israel, kelompok November 17 di Yunani, Tupac Amaru di Peru, FARC di Kolombia dan kelompok ‘American Millitant Extremists’ di AS sendiri.

Tapi, itu tadi, stigma bahwa Islam identik dengan terorisme tampaknya cukup sukses dikembangkan melalui berbagai kampanye disinformasi jaringan intelijen Amerika (CIA) dan Israel (Mossad) yang didukung oleh media massa kelas dunia milik para konglomerat Yahudi (surat kabar New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, majalah Time, Newsweek, US News, World Report, stasiun CNN, ABC, CBS, NBC). Ketika mereka menyebut kata ‘teroris’, persepsi yang bekembang secara otomatis adalah bukan sekedar Al-Qaidah atau Usamah bin Laden atau Abu Bakar Ba’asyir, melainkan juga Islam secara keseluruhan. Ketika seorang pejabat negara bilang ‘jaringan Al-Qaidah berada di belakang kasus Bali’, masyarakat di bawah menangkapnya sebagai ‘orang Islamlah yang melakukan pengeboman’. Efek dominonya, ‘semua orang Islam harus diwaspadai’. Dalam kondisi hubungan sosial kemasyarakatan di republik ini yang masih rentan, pernyataan semacam itu jelas mengandung resiko yang tidak kecil.

Kasus bom Bali merupakan bagian dari skenario besar perang melawan terorisme, yang dalam realitasnya semakin mengarah pada kebijakan anti-Islam, yang tengah dijalankan Presiden AS George W. Bush.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Bali adalah dinas intelijen AS, CIA, yang berkolaborasi dengan dinas intelijen Israel, Mossad, yang bisa jadi juga melibatkan elemen-elemen tertentu di dalam negeri Indonesia. Adapun tujuan utamanya adalah sebagai berikut:

Pertama, untuk membenarkan asumsi yang sudah cukup lama dikembangkan bahwa Indonesia merupakan salah satu sarang terorisme Islam. Secara sistematis kampanye disinformasi mengenai hal ini bahkan sudah dikembangkan jauh sebelum terjadinya tragedi WTC.

Kedua, untuk menekan pemerintah Megawati agar segera membungkam gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang belakangan makin marak dan makin galak, terutama terhadap konspirasi AS-Israel. Abu Bakar Ba’asyir adalah target utamanya. Tapi, jelas ia bukan satu-satunya.

Ketiga, untuk memecah belah Negara Kesatuan RI menjadi Negara-negara kecil agar mudah dikuasai dan dikendalikan AS, terutama mengingat kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah yang ada di bumi Indonesia ini.

Keempat, untuk menekan pemerintah Megawati agar mendukung invasi militer AS ke Irak, yang sudah lama hampir pasti akan dilakukan mengingat besarnya ambisi perang Bush. Ini juga berkaitan dengan makin meluasnya aksi-aksi yang menentang rencana invasi militer AS ke Irak. Namun, dengan terjadinya bom di Bali justru akan semakin memperkuat legitimasi bagi Bush untuk menyerang Irak. Dengan kata lain, jika sebelum tragedi Bali banyak warga dunia yang menolak rencana perang Bush, kini hampir dipastikan keadaannya akan berbalik.

‘Doktrin Bush’ pasca tragedi WTC hanya memberi dua pilihan secara hitam-putih bagai bangsa-bangsa di dunia: untuk mendukung AS atau kaum teroris. Artinya, siapa pun yang tak mau mendukung perang melawan terorisme, secara otomatis akan dianggap sebagai berpihak pada kaum teroris. Tak ada wilayah abu-abu (grey area) di tengahnya. Tidak perduli dengan soal HAM dan demokrasi. Padahal seperti sudah disinggung, pengertian tentang teroris dan terorisme sudah direduksi sedemikian rupa.

Tidak terlalu aneh jika, dalam hitungan jam, pemerintah Australia sudah bisa memastikan bahwa yang berada di belakang bom Bali adalah kelompok Jamaah Islamiyah (= ‘umat Islam’?) yang merupakan bagian dari Al-Qaidah. Ketika AS sudah menyebut Al-Qaidah, dan Australia menyebut Jamaah Islamiyah, cepat atau lambat yang lain akan mengikutinya bagaikan koor paduan suara. Jadi, terserah apakah kita percaya atau tidak konspirasi licik yang dilakukan pemerintah dan dinas intelijen AS dan Israel (mungkin juga diikuti oleh intelijen Australia dan Inggris) terhadap Indonesia.

Jika pemerintah Megawati memang takut kepada Bush dan tak percaya telah terjadi konspirasi pemerintah dan intelijen asing ini, untuk apa menghabiskan dana guna menyelidiki siapa pelaku bom Bali? Toh, sudah jelas pelakunya, yaitu Al-Qaidah dan umat Islam. Habisi saja mereka seperti yang pernah dilakukan rejim Soeharto (Priok, Talangsari, Komando Jihad dan lain-lain), maka bantuan luar negeri akan segera membanjiri dan kita akan dianggap sebagai teman sejati Bush yang paling sukses membasmi terorisme. Tak usah pedulikan HAM dan demokrasi. Bukankah Bush pun sudah tak menghiraukannya lagi?

* Penulis adalah Ahli Peneliti Utama LIPI (Diambil dari Koran Tempo, 18 Oktober 2002)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menunggu Sikap Bijak Aparat
Tulisan selanjutnya Malaysia Perkarakan Penulis India Soal Tuduhan Terorisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?