Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

M. Natsir Dan Pandangannya Tentang Kartini [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 April 2015 13:25 1:25 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 April 2015 13:25
Bagikan
Mohammad Natsir
Bagikan

Sambungan dari artikel PERTAMA

Oleh:  Sarah Mantovani

“SEBAGAI ibu, dialah pendidik pertama umat manusia. Di pangkuannya anak pertama-tama belajar merasa, berpikir, berbicara. Dan dalam kebanyakan hal pendidikan yang pertama-tama ini bukan tanpa arti untuk seluruh hidupnya. Tangan ibu lah yang pertama-tama meletakkan benih kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia, yang tidak jarang dibawa sepanjang hidupnya. Tidak tanpa alasan orang mengatakan, bahwa kebaikan dan kejatan diminum bersama air susu ibu dan bagaimana sekarang ibu-ibu Jawa dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak dididik? Peradaban dan kecerdasan bangsa Jawa dalam hal itu terbelakang, tidak mempunyai tugas.”[ J.H Abendanon, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (terj: Sulastin Sutrisno), (Bandung: Penerbit Djambatan, 1981), hlm. 368].

Setelah semangat politik etis berhasil dipertahankan oleh Belanda, antara lain oleh Van Deventer, mendapatkan kemenangan, maka pengajaran dan pendidikan Barat yang diberikan pada penduduk Indonesia, semakin bertambah banyak. Hal ini mengakibatkan kaum perempuan saat itu mengubah keadaan dirinya dari yang awalnya dianggap tidak mempunyai hak dan kekuasaan hingga menjadi seseorang yang oleh Natsir disebut orang yang mempunyai “kemerdekaan atas diri dan mata penghidupannya”, dalam waktu yang singkat.

Mereka, lanjut Natsir, tidak hanya merasa “merdeka dari perlindungan laki-laki” dan perlindungan tersebut dianggap merendahkan derajat perempuan, namun juga sampai pada kesimpulan bahwa dalam hal apapun, perempuan itu sebenarnya sama dengan laki-laki. Perasaan seperti ini diperkuat juga dengan berbagai pengajar dari pergerakan feminisme Barat yang menyampaikan cita-cita emansipasi, agar kaum perempuan bisa berjuang pada ranah laki-laki.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

 “Perasaan jang sematjam ini diperkuat oleh berbagai lektur dari pergerakan feministen Barat jang djuga sampai ke negeri kita ini. Jakni pergerakan feministen jang mengemukakan tjita-tjita emansipasi, supaja kaum perempuan bisa berdjuang di medan pekerdjaan laki-laki, bukan dalam dunia keperempuanannja sendiri di samping laki-laki itu.”[Mohammad Natsir, Capita Selecta Jilid I, (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1973), hlm. 51].

Kemudian Natsir menceritakan kembali pengamatannya bahwa ia pernah menemukan tulisan seorang perempuan dalam majalah Fikiran Rakyat yang memaparkan satu teori tentang keharusan perempuan untuk menuntut persamaan hak dan kesempatan yang sama di antara laki-laki dan perempuan.

“Salah seorang dari penulis perempuan dalam madjalah Fikiran Rakjat, pernah membentangkan satu teori jang menerangkan, apakah sebabnja maka kaum perempuan sekarang tampaknja kurang dari laki-laki, baik tentang kemadjuan djasmani maupun ruhani. “tubuh perempuan lebih lemah dari laki-laki, katanja, hanja lantaran perempuan tidak mempunjai kesempatan untuk sport seperti laki-laki. Dalam ilmu pengetahuan perempuan tidak banjak jang sepandai kaum laki-laki, katanja, lantaran kaum perempuan selama ini tidak dapat kesempatan untuk menuntut ilmu seperti laki-laki. Sekarang perempuan harus bergerak menuntut hak dan kesempatan jang sama dengan hak-hak jang ada pada laki-laki. Nanti kaum perempuan akan membuktikan bahwa dalam semua hal perempuan sama dengan laki-laki……….” Demikianlah kesimpulan dan keputusan jang diambil oleh penulis tersebut.”

Teori yang dipaparkan merupakan salah satu hasil dari berbagai pengajaran feminisme di Barat yang diterima dan dicontoh oleh kaum perempuan Indonesia tanpa filter sedikit pun.

“Walhasil teori jang sematjam itu ialah salah satu dari hasilnja pelbagai lektur feminisme di Barat jang sampai kenegeri kita ini, dan – sebagaimana djuga dengan hal jang lain – diterima dan ditjontoh dengan tidak memakai saringan sedikit djuga. Tumbuhnja pun amat subur, apalagi sebagai reaksi terhadap “minderwaardigheldcomplex” (rasa rendah diri), perasaan kurang-harga, jang telah dialami oleh kaum perempuan selama ini.”[ Mohammad Natsir, Capita Selecta Jilid I, (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1973), hlm. 51].*

Penulis mahasiswi S2 Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, tulisan ini juga dimuat  jejekislam.net

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminismeM NatsirNatsirwanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kualitas Individu dan Masyarakat Berbanding Lurus dengan Kesadaran Terhadap Ilmu yang Benar
Tulisan selanjutnya Hampir 6.000 Tenaga Medis Asing Dikirim ke Pelosok Saudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?