Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Tautkan Hati Kita untuk Muslim India

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 9 Maret 2020 18:29 6:29 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 9 Maret 2020 18:29
Bagikan
Muslim Assam India, yang terus mengalami diskriminasi (Indiatommorrow)
Bagikan

Oleh: Dina Wachid

 

Hidayatullah.com | INDIA adalah sebuah negeri yang telah dibebaskan melalui tangan Muhammad Ibn al-Qasim ats-Tsaqafi yang dikirimkan oleh Khalifah Umawiyah Walid ibn Abdul-Malik sebagai pemimpin pasukan.

Peristiwa ini bermula ketika ada sekelompok kaum Muslim melakukan pelayaran di atas kapal di Samudera Hindia, dari daerah Ceylon dekat pesisir negeri Sind yang dirampok kemudian diculik. Sang khalifah kala itu kemudian mengirimkan pasukan untuk menolong kaum Muslim dan kemudian membebaskannya.

India terus menjadi bagian kekhilafahan selama lebih dari seribu tahun (abad 1-14 H). Pada masa Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M), pasukan Islam memperluas batas-batas negeri Sind ke arah barat sampai kota Gujarat.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Di daerah inilah pasukan Muslim menetap dan membangun kota-kota baru. Sejak saat itu sejumlah besar orang-orang India terselamatkan dari cengkraman kasta kafir dan masuk menjadi bagian dari persaudaraan Muslim sedunia di bawah naungan kekhilafahan. Mereka terbebaskan dari kebodohan dan kekufuran menuju cahaya Islam, menyembah Allah SWT saja. Pemerintahan Islam pada saat itu meliputi apa yang sekarang dikenal dengan nama India, Pakistan, Kashmir dan Bangladesh. Dan itu berlangsung selama seribu tahun lamanya.

India masih menjadi tetap menjadi bagian kekhilafahan selama kekuasaan Ratu Delhi (1205-1526 M) dan selama kekuasaan Mongol (1526-1857 M).

Di bawah naungan pemerintahan Islam, negeri India telah melahirkan ulama-ulama besar seperti Syeikh Ahmad Sir Hindi (1624 M) dan Syah Waliyuddin ad-Dahlawi (1703-1762 M).

Muslim India masih teraniaya

Kini India tengah menjadi sorotan dunia. Penyebabnya adalah sebuah tragedi kekerasan terhadap umat Muslim terburuk dalam beberapa dekade terjadi di sana. Lebih dari 46 orang meninggal dalam tragedi kekerasan bernuansa agama di Delhi, India, ketika oposisi mengecam pemerintah karena menjadi ‘penonton bisu’.

Kekerasan dipicu setelah aksi damai selama berminggu-minggu di New Delhi kelompok penolak Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan baru (Citizenship Amendment Act / CAA), diserang oleh gerombolan nasionalis Hindu. Mereka mengatakan bahwa CAA yang disahkan Desember lalu adalah suatu bentuk diskriminasi terhadap umat muslim sebagai kaum minoritas terbesar di India.

Beberapa bagian ibu kota juga mengalami kekerasan pada hari Ahad (23/2/2020) setelah seorang pemimpin Partai Bharatiya Janata (BJP) yang memerintah memperingatkan umat Islam agar tidak melanjutkan aksi damai tersebut.

Di hari-hari berikutnya, Karawal Nagar, Seelampur, Maujpur, Bhajanpura, Vijay Park di timur laut Delhi, Jafrabad, Chandbagh, Mustafabad, dan Yamuna Vihar menjadi saksi pertempuran sengit antara umat Hindu dan Muslim. Lebih dari 200 orang telah terluka selama empat hari kekerasan di daerah berpenduduk Muslim di timur laut Delhi, di mana polisi diduga mengabaikan kejadian buruk ketika massa (pada hari Ahad) mengamuk, membunuhi orang-orang, dan merusak properti, termasuk masjid.

Perdana Menteri India Hindu Narendra Modi, yang menjamu Presiden AS Donald Trump ketika kekerasan sedang berlangsung, telah dikritik karena tidak melakukan tindakan apa pun.

Sebelumnya pada  Agustus 2019 India telah mencabut status otonomi Kashmir hingga wilayah muslim yang diperebutkan Pakistan, India, dan Cina itu kembali alami konflik. Kejahatan Modi berulang kembali saat 12 Desember 2019, Amandemen UU Kewarganegaraan (CAA) disahkan.

Amandemen itu nyata-nyata mendiskriminasi muslim yang tak bakal mendapat kewarganegaraan sebagaimana imigran ilegal dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan yang beragama Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan Kristen.

Korban penguasa dari partai Nasionalis Hindu-Bharatiya Janata (BJP) jelas bukan hanya 200 juta Muslim saja. Kerusuhan di Uttar Pradesh Utara Desember tahun lalu memakan korban 30 tewas. Kenekatan Modi yang dituduh bakal mengubah India menjadi ‘Negara Hindu’ membuat kerusuhan kembali meletus di New Delhi sejak Senin (24/2/2020) dan mengakibatkan puluhan korban tewas, lebih dari 200 orang terluka, 2 masjid terbakar, berbagai fasilitas umum dan pribadi hancur.

Muslim India kini sendirian, tak ada pertolongan dari pemimpin muslim manapun.  Semoga hati-hati kita semua dipertautkan Allah untuk saling menolong dan membela saudara-saudara kita yang teraniaya. Di manapun itu berada.* 

Penulis pemerhati sosial

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HinduIndiamuslim IndiaNarendra ModiUndang-Undang Amendemen KewarganegaraanUU CAA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi Larang Aktivitas Sekolah dan Karantina Kota Qatif
Tulisan selanjutnya Bos Intelijen RD Kongo Gantung Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan

Berita
29 Agustus 2026 09:20
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?