Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

GAR ITB Itu Ngelunjak

Bambang S
Terakhir diupdate: 16 Februari 2021 16:23 4:23 pm
Bambang S
Dipublikasikan 16 Februari 2021 14:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | AWAL permintaan dari yang menamakan diri Gerakan Anti Radikalisme ITB (GAR ITB), adalah agar Pak Din Syamsuddin dicopot sebagai anggota Majelis Wali Amanat ITB (MWA ITB).

Melihat permintaan dan desakan itu, dan agar tidak ada kegaduhan Pak Din memilih mundur, bukan diberhentikan. Pastilah GAR ITB merasa pressure nya berhasil.

Alasan mereka diantaranya, Pak Din merongrong pemerintahan yang sah, karena sebagai inisiator terbentuknya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Itu karena Pak Din masih berstatus ASN.

Padahal KAMI bukan gerakan politik, tapi gerakan moral. Karenanya, sama sekali itu tidak bisa dianggap melanggar statusnya sebagai ASN. Tetapi GAR ITB mempermasalahkan statusnya sebagai ASN, yang tidak pantas menginisiasi lahirnya KAMI.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kepantasan diukur menurut ukurannya, yang sebenarnya tidak punya pijakan hukum. Justru yang dilakukan GAR ITB itu gerakan “politik” menyingkirkan Pak Din, semata karena sikapnya yang kritis pada pemerintah.

Karenanya, tidak salah jika GAR ITB, itu disebut gerakan buzzer yang diinstitusionalkan dengan memakai baju alumni. Menggeret nama besar ITB pada aksi-aksi politik pragmatis, pastinya cuma untuk kepentingan beberapa gelintir inisiatornya.

Mudah sekali melacaknya. Ada anggotanya eks dirut BUMN, yang mantan narapidana korupsi. Mungkin yang bersangkutan berharap bisa come back, dan GAR ITB dipakai sebagai kendaraannya. Boleh saja orang berasumsi demikian.

Banyak juga alumni tahun ’50 an dan ’60 an, yang namanya ikut dicantumkan. Tidak persis tahu, mereka itu faham akan misi GAR ITB, atau justru sebaliknya. Juga apa benar nama-nama mereka itu ikut dengan kesadaran, atau hanya dicatut saja.

Baca: Tuduhan Radikalisme pada Pak Din, Itu Lucu-lucuan yang Berbahaya

Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran itu, sangatlah pantas mengemuka. Pertanyaan bukan dengan nada takjub, tapi penuh heran, sudah aki-aki dan nini kok ya masih mikir duniawiah.

Bisa jadi tidak sekadar urusan duniawi semata, tapi lebih dari itu. Bisa juga ideologi agama yang ditiupkan dan coba diperhadapkan, seolah akan bangkitnya Islam radikal.  Masukan-masukan demikian, yang jadikan aki-aki dan nini lalu mengangkat “senjata” melawan fatamorgana nisbi. Kasihan.

Setelah berhasil membuat Pak Din mengundurkan diri dari anggota MWA ITB, maka langkah GAR ITB, makin ngelunjak dan nekat, dengan meminta Pak Din dipecat sebagai ASN, dengan tuduhan radikalisme. Ini tuduhan tidak main-main.

Pak Din Memilih Tidak Menanggapi

Menyesakkan dada setelah tahu, bahwa jubir Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman, terlibat dalam GAR ITB, bahkan sebagai anggota aktif. Namanya ada dalam grup WhatsApp GAR ITB.

Bahkan beredar jejak digitalnya, bagaimana saran darinya untuk “menyingkirkan” Pak Din dari MWA ITB. Pantas jika para aktivis diluaran terkaget-kaget, ternyata Fadjroel yang dulu aktivis moral, bisa melakukan hal demikian.

Berharap langkah Fadjroel Rachman ini cuma inisiatifnya sendiri, semacam Pak Moeldoko saat mencoba mengkudeta Partai Demokrat, yang itu tanpa sepengetahuan Pak Jokowi.

Belum ada bantahan dari Fadjroel, soal keterlibatannya itu, keterlibatan “mendongkel” Pak Din dari MWA ITB. Dan tentu keanggotaan aktifnya di GAR ITB.

Fadjroel memang mantan aktivis, maka ia lebih tenang tidak gegabah mengklarifikasi keberadaannya di GAR ITB. Tidak semacam Pak Moeldoko, yang tampak tergesa-gesa saat memberi klarifikasi atas isu kudeta Partai Demokrat. Jadinya, ya omongannya tidak runtut, dan gesturenya, meski ditenang-tenangkan, ya tetap tidak tenang.

Kita tunggu saja klarifikasi dari jubir Presiden Jokowi itu. Atau bisa jadi ia pakai cara Pak Jokowi, memilih tidak membalas surat resmi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat. Artinya, Fadjroel memilih tidak perlu melakukan klarifikasi.

Gerombolan GAR ITB itu pantas disebut ngelunjak, dengan langkah gegabah yang pandir. Tidak melihat jejak rekam kekuatan orang yang mau dihabisi. Juga tuduhan radikalisme yang disematkan pada Pak Din, itu tuduhan bahlul, bak ingin meyakinkan pada khalayak, bahwa gula itu asin rasanya.

GAR ITB itu telah melakukan fitnah keterlaluan pada tokoh muslim yang selama hidupnya mengagungkan sikap moderasi di tengah masyarakat. Bukan cuma masyarakat negeri ini saja, tapi masyarakat dunia.

Baca: Din Syamsuddin Dilaporkan GAR ITB, Bagaimana dengan yang Ini?

Gerombolan GAR ITB, itu gerombolan Islamofobia dan sekularis-ekstrim yang dihadirkan oleh kebencian pada tokoh-tokoh muslim, yang konsisten pada agama dan lurus pada sikap politik kebangsaannya. Polanya bisa dibaca, tampak itu-itu saja. Bisa jadi kelompok yang digerakkan.

Pak Din sih memilih tidak menanggapi aksi gerombolan itu, memilih diam. Seolah mempersilahkan yang lain saja yang berbicara. Maka kesaksian-kesaksian muncul beri testimoni.

Pak Mahfud MD, Menteri Polhukam, langsung memberi jaminan bahwa laporan gerombolan GAR ITB, itu tidak akan diproses. Juga mantan Wapres Jusuf Kalla, bahkan hampir semua tokoh Ormas Islam memberi testimoni tentang Din Syamsuddin. Tidak ketinggalan tokoh non-muslim, yang juga memberi kesaksian telak tentang apa dan siapa Din Syamsuddin itu.

Oh ya… ngelunjak itu bahasa lain dari melakukan hal diluar kepatutan, atau bisa dimaknai dengan “kurang ajar”. Silahkan mau pilih pakai kata ngelunjak, atau silahkan jika mau pakai kata kurang ajar. Sama saja maknanya.

Kata itu memang pantas disandingkan pada gerombolan itu. Gerombolan yang sebenarnya pantas disebut radikal sontoloyo. Ngelunjak!! (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Din SyamsuddinGAR ITBMWA ITBradikalWali Amanat ITB
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Atlet Australia Peraih Medali Olimpiade Mengelola Jaringan Narkoba
Tulisan selanjutnya Hukum Bayar Pakai Go-Pay, Apakah Haram Menurut Islam?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?