Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pesantren Hidayatullah: Dari ’Sarang Laba-laba’ Hingga ‘Sarang Lebah’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2021 08:12 8:12 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Agustus 2021 14:38
Bagikan
pesantren hidayatullah
Peserta Munas VII Syabab Hidayatullah berhalaqah Qur'an setelah shalat subuh berjamaah di Masjid Baitul Karim, Jakarta Timur, Jumat (17/01/2020).
Bagikan

Oleh: KH. Muhammad Syakir Syafi’i

Hidayatullah.com | DALAM Pedoman Dasar Organisasi (PDO) disebutkan bahwa Hidayatullah adalah organisasi yang berbadan hukum perkumpulan, dan merupakan kelanjutan dari Pesantren Hidayatullah dan cabang-cabangnya yang didirikan pertama kali oleh KH Abdullah Said pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1393 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1973. (PDO  Bab I Pasal 1). Sehingga, pada bulan Muharram 1443 ini, Hidayatullah telah genap berusia 50 tahun.

Dalam sejarah perintisan dan penyebarannya, Hidayatullah identik dengan pesantren. Dapat dikatakan, eksistensi Hidayatullah di semua jaringan, baik di tingkat   pusat, wilayah maupun daerah, diawali dengan pendirian sebuah pesantren.

Pada umumnya, Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan penting moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. (Zamakhsyari Dhofier: Tradisi Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1994). Namun, bagi Hidayatullah, Pesantren memiliki makna historis dan sekaligus filosofis yang lebih luas. Lebih dari sekadar sebagai lembaga pendidikan sebagaimana dikenal pada umumnya.

Simbolisasi Gerakan

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Allahu Yarham KH Abdullah Said, dalam berkomunikasi dengan para santri atau pun masyarakat secara umum, dikenal sebagai sosok guru dan pemimpin yang sangat kaya dengan bahasa-bahasa simbolik. Beliau sering melontarkan istilah-istilah yang bukan dalam arti sebenarnya, tapi merupakan simbol dari makna lain yang beliau maksudkan.

Bahasa simbolik biasanya digunakan untuk memudahkan pemahaman bagi para pendengar dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pikiran dan kehidupan mereka.

Pada periode awal pendirian pesantren, beliau menyebut Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang laba-laba”. Sebutan tersebut merupakan bahasa simbolik yang diinspirasi oleh sejarah perjalanan hijrah Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah (Yatsrib).

Disebutkan bahwa dalam perjalanan hijrah, di mana beliau berada dalam target pengejaran dan pembunuhan oleh kaum Quraisy, beliau  bersembunyi di gua Tsur dengan ditemani oleh sahabatnya. Beliau berdua akhirnya selamat.

Para pengejar yang sudah berada di depan mulut gua tidak jadi masuk ke dalamnya, karena di mulut gua ada sarang laba-laba yang masih utuh dan tidak rusak. Para pengejar berkesimpulan, bahwa Rasul ﷺ  dan sahabatnya itu tidak mungkin bersembunyi di dalamnya karena adanya sarang laba-laba yang masih utuh itu. Dengan ijin Allah, sarang laba-laba telah menjadi sebab selamatnya beliau dari operasi jahat tersebut.

Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan sarang laba-laba, karena bentuk kelembagaan pesantren diikhtiarkan dapat menjadi sarana perlindungan (dariAllah) bagi misi gerakan beliau yang sebenarnya, yaitu upaya mewujudkan ajaran Islam secara kaffah, sebagai rahmat bagi segenap alam.

Pada dekade tahun 1970 dan 1980-an, sudah jamak dipahami bahwa rezim Orde Baru acapkali menaruh kecurigaan dan bertindak represif terhadap gerakan-gerakan keislaman yang muncul.  Aroma islamofobia dan stigmatisasi pada gerakan-gerakan keislaman, berhembus dengan kuat.

Keberadaan pesantren sebagai soko-guru lembaga pendidikan di Indonesia, serta kondisi sosio-politik yang berkembang pada dekade tersebut, telah menjadi salah-satu pertimbangan bagi Allahu Yarham KH Abdullah Said dalam mendirikan Pesantren Hidayatullah. Karena itulah, hingga akhir tahun 1990-an, Hidayatullah lebih dikenal sebagai pesantren daripada sebagai gerakan keislaman secara umum.

Hingga pada tahun 2000, Hidayatullah secara resmi mendeklarasikan diri sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, dengan visi gerakan “Membangun Peradaban Islam”. Transformasi gerakan dari lembaga sosial menjadi organisasi kemasyarakatan telah menempatkan Organisasi Hidayatullah sebagai organisasi induk, sedangkan Pesantren Hidayatullah menjadi salah-satu saja dari amal usahanya yang beraneka ragam.

Hal yang menarik di awal periode ini ialah, bahwa upaya untuk menyukseskan program konsolidasi dan sosialisasi tentang eksistensi Hidayatullah sebagai ormas beserta amal-usahanya, Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan “sarang lebah”. Simbolisasi demikian dipandang memiliki pengaruh yang kuat dalam komunikasi untuk suatu agenda transformasi atau perubahan.

Al-Quran juga banyak menggunakan bahasa simbolik, yang salah-satu bentuknya disebut tasybih-tamtsiliy (perumpamaan). Kita mendapati perumpamaan-perumpaman yang sangat beragam dalam al-Quran.

Sehingga, sejumlah ulama ada yang menyusun kitab secara khusus dengan topik mengenai perumpamaan-perumpamaan dalam al-Quran. Misalnya “al-Amtsal fil-Quranil Karim”, karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Di antara bentuk perumpamaan dalam al-Quran ada yang kemudian dijadikan nama surah, yaitu Surah al-‘Ankabut (laba-laba) dan Surah an-Nahl (lebah).

Dalam al-Quran disebutkan, lebah adalah binatang penghasil madu yang sangat besar manfaatnya bagi manusia (QS. an-Nahl: 69). Bahkan, di surga nanti, orang beriman dan bertakwa akan mendapatkan balasan sungai-sungai yang airnya berupa madu (QS. Muhammad: 15).

Dengan simbolisasi sebagai “sarang lebah” berarti Pesantren Hidayatullah telah menetapkan positioning-nya yang otentik. Ia tidak hanya menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bagi perkembangan hati dan pikiran manusia, tapi sekaligus sebagai obat  yang membangun sistem imunitas dan membawa kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit kehidupan.

Dalam Hadis juga disebutkan tentang perumpaman orang mukmin sebagai lebah; bahwa  lebah hanya makan dari yang serba baik (saripati bunga), menghasilkan sesuatu yang serba baik (madu), dan ketika hinggap di dahan, ia tidak pernah mematahkan dan merusaknya. (H.R. Ahmad). Demikianlah perumpaman orang mukmin, dan demikian pula simbol dari sikap, peran dan kontribusi yang harus diperankan oleh Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang lebah”.

Visi, Misi dan Fungsi Pesantren Hidayatullah

Selain memiliki PDO, Hidayatullah juga menetapkan sejumlah Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur banyak hal demi terwujudnya tata kelola organisasi dan amal-amal usahanya secara profetik dan profesional. Salah-satu PO yang telah ditetapkan adalah PO tentang Pesantren Hidayatullah No. 3 Tahun 2015, yang merupakan perubahan dari PO sebelumnya.

Dalam PO tersebut disebutkan bahwa Visi Pesantren Hidayatullah ialah “Terwujudnya Miniatur Peradaban Islam”. Dan guna mewujudkan visi di atas, Pesantreh Hidayatullah menjalankan sejumlah misi, yaitu: (a) mewujudkan masyarakat berjamaah, bersyariah, unggul dan berpengaruh; (b) menggerakkan dakwah dan rekrutmen anggota; (c) menyelenggrakan pendidikan integral berbasis tauhid; (d) menyelenggakan pasar syariah dan ekonomi keummatan yang berdaya saing; (e) memberdayakan kaum dhuafa dan mustadhafin; (f) mengembangkan lingkungan kampus yang alami, ilmiah dan islamiah.

Selain visi dan misi Pesantren Hidayatullah di atas, PO No. 3 Tahun 2015 juga menetapkan fungsi Pesantren Hidayatullah, yaitu sebagai: (a) Kampus peragaan syariat Islam, (b) Kampus dakwah dan rekrutmen anggota, (c) Kampus pendidikan dan perkaderan, (d) kampus pemberdayaan ekonomi, (e) kampus peduli dhu’afa dan mustadh’afin.

Alhamdulillah, ratusan jumlah Pesantren Hidayatullah yang telah tersebar dari Aceh sampai Papua, telah turut berkiprah dan bersinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat,  dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dicita-citakan oleh para ulama dan tokoh-tokoh pendiri bangsa.*

Kadep Kepesantren DPP Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:50 Tahun Hidayatullahdakwah HidayatullahHidayatullahMilad Hidayatullahormas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya merdeka Merdeka
Tulisan selanjutnya mural grafiti kritik Penghapusan Mural dan Grafiti, LBH Jakarta: Pemerintah Anti Kritik, Polisi Tidak Bisa Proses Hukum Pembuatnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?