Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Endemi Islamofobia dan Diskriminasi terhadap Muslim India

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Februari 2022 09:40 9:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2022 09:40
Bagikan
muslim india
Kekerasan kasus UU CAB New Delhi India yang banyak menyasar Muslim
Bagikan

Fenomena Islamofobia, yang kali ini berbentuk penistaan terhadap Muslimah India, bukan terjadi baru kali ini saja. Disayangkan, India sebagai “negara demokrasi” terbesar di dunia tapi diskriminatif dan intoleran

Oleh: Dr.Fadli Zon

Hidayatullah.com | GELOMBANG Islamofobia terus terjadi hingga saat ini di India. Baru- baru ini, penistaan kembali dialami umat Islam, khususnya muslimah yang menghadapi pelarangan jilbab di sekolah di negara bagian

Selatan India. Meluasnya tindakan intoleran bahkan brutal terhadap minoritas muslim di India, bukan saja menodai rasa kemanusiaan, tapi juga bentuk pelanggaran HAM yang tak bisa dibenarkan alasan apapun. Endemi Islamofobia dan diskriminasi terhadap kaum muslim menjadi wajah pemerintahan Narendra Modi.

Ada dua catatan penting kenapa Islamofobia di India harus disikapi secara serius oleh masyarakat internasional.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pertama, fenomena Islamofobia, yang kali ini berbentuk penistaan terhadap Muslimah India, bukan terjadi baru kali ini saja. Agustus 2021 lalu, misalnya, seorang tukang becak Muslim yang sedang membawa anaknya, dipukuli oleh kelompok Hindu garis keras di negara bagian utara Uttar Pradesh.

Begitupun insiden main hakim sendiri yang dilakukan sebuah kelompok garis keras Hindu terhadap Munawar Faruqui, seorang komedian Muslim pada Agustus 2021. Rentetan kejadian tersebut menandakan bahwa kekerasan yang dialami minoritas Muslim di India, bukan lagi sekedar fenomena gunung es. Namun, Islamofobia yang berpotensi menjadi endemi.

Bahkan jika tak disikapi serius oleh masyarakat internasional, kekerasan dan sikap anti-Islam bisa menjadi norma baru di India. Apalagi ternyata ada impunitas terhadap para pelaku karena mereka beroperasi dengan kedok agama. Kelompok-kelompok garis keras ini akan menjadi semakin berani melakukan serangan anti-Islam.

Kedua, meski kekerasan dan kebencian yang dilakukan kelompok garis keras Hindu tidak mewakili masyarakat India, namun tindakan tersebut berangkat dari adanya kebijakan pemerintah daerah dan bahkan pemerintah pusat India yang diskriminatif.

Meluasnya insiden penistaan terhadap kelompok Muslimah baru baru ini, dipicu adanya kebijakan larangan jilbab di perguruan tinggi dan sekolah di India oleh pemerintah negara bagian selatan. Pemerintah setempat menganggap jilbab sebagai pakaian yang mengganggu kesetaraan dan ketertiban umum.

Bukan itu saja, di level pemerintah pusat, sikap diskriminatif terhadap umat Islam juga terjadi setelah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi mengesahkan Undang-Undang (UU) Amandemen Warga Negara atau Citizenship Amendment Bill (CAB). Melalui UU ini India bisa memberi kemudahan hak kewarganegaraan kepada para imigran gelap dari tiga negara Muslim tetangganya, yaitu Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan.

Perdana Menteri Narendra Modi mengklaim UU ini akan memberi perlindungan bagi kaum minoritas yang mengalami persekusi agama.Namun faktanya, kemudahan itu hanya berlaku bagi mereka yang beragama Hindu, Sikh, Buddhist, Jain, Parsi dan Kristen. Hak yangg sama tak diberikan kepada imigran beragama Islam. Jelas sekali Modi bersikap diskriminatif.

Padahal, konstitusi India sebenarnya melarang diskriminasi berdasar agama terhadap warga negara, serta menjamin semua orang sama di hadapan hukum. Sehingga, agama dan kepercayaan seharusnya tak boleh dijadikan syarat untuk meraih kewarganegaraan.

Sangat disayangkan, India sebagai “negara demokrasi” terbesar di dunia tapi diskriminatif dan intoleran. Sebagai bagian dari masyarakat dunia yang memiliki peranan penting dan hubungan historis dengan India, saya berharap Pemerintah Indonesia, ikut menyuarakan aspirasi umat Islam Indonesia yang prihatin dengan politik diskriminasi yang mengancam saudara-saudara Muslim di India, baik secara bilateral maupun multilateral.

Secara bilateral, sebagai sesama negara demokrasi terbesar di dunia, pemerintah Indonesia bisa membangun proses dialogis dengan pemerintah India. Kedekatan kedua negara, baik secara historis maupun personal antara Presiden/Kepala Pemerintahan, sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk membahas isu yang sangat sensitif tersebut secara lebih terbuka.

Secara multilateral, Indonesia juga dapat mengoptimalkan perannya saat ini sebagai Anggota Dewan HAM PBB. Sehingga, baik secara bilateral maupun multilateral, Indonesia memiliki kapasitas memadai untuk berperan lebih aktif. Ini semua tentunya sejalan dengan konstitusi kita, yaitu ikut menciptakan perd amaian dunia.

Sebagai negara demokrasi muslim terbesar di dunia, dan Anggota Dewan HAM PBB, Indonesia memiliki kapasitass untuk turut merespon situasi yang terjadi di India hari ini. Bahkan situasi yang dialami muslim di Palestina, Rohingya, Uighur dan lain-lain.*

Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI, Anggota Komisi I DPR RI, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra. Artikel diambil dari akun IG penulis

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Perwira Intelijen Soviet Memilih Muslim dan Seorang Afghanistan
Tulisan selanjutnya Dakwah dan Proses Islamisasi di Lerang Merapi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Makin Banyak Warga ‘Israel’ Pergi, Hanya Sedikit yang Kembali

Berita
18 Agustus 2026 13:28
PM Anwar Ibrahim Upayakan Pencabutan UU yang Membatasi Kegiatan Politik Mahasiswa
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
Gaza Kembali Puncaki Daftar Wilayah Paling Mematikan bagi Pekerja Kemanusiaan

Terbaru

  • Sentuhan AI vs ‘Rasa’ Manusia: Mengapa Fotografer Profesional Kurang Menyarankan AI Generated Image?
  • Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional
  • Presidium BMIWI Tegaskan Sikap Penolakan terhadap Gerakan LGBT
  • BMIWI Gelar Seminar Kemerdekaan, Angkat Isu Ketahanan Keluarga dan Solidaritas Palestina-Sudan
  • Iran Bidik Aset AS di Eropa Jika Trump Perluas Konflik
  • Kemenhaj Usulkan BPIH 2027 Sebesar Rp107,34 Juta per Jamaah
  • 1.300 Dapur MBG Ditutup, DPR Tegaskan Keselamatan Anak Jangan Pernah Jadi Kompromi
  • LBH Hidayatullah Berikan Edukasi Hukum di Lapas Kembang Kuning Nusakambangan
  • Kiai Cholil Nafis Ajak Umat Islam Tak Terlena Medsos dan Kembali Membaca Buku
  • Gaza Kembali Puncaki Daftar Wilayah Paling Mematikan bagi Pekerja Kemanusiaan

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?