Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Perwira Intelijen Soviet Memilih Muslim dan Seorang Afghanistan

Ahmad
Terakhir diupdate: 17 Februari 2022 22:24 10:24 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 Februari 2022 07:00
Bagikan
"Saya telah berada di Afghanistan selama hampir 40 tahun. Saya orang Afghanistan sekarang. Saya memiliki kewarganegaraan Afghanistan. Saya sekarang seorang Muslim. Saya bukan orang Rusia. Saya bukan milik orang Rusia," kata Hakimov.
Bagikan

Sherefovic Hakimov bertempur untuk pasukan Komunis Soviet melawan mujahidin Afghanistan tahun 1980-an. Tapi hidupnya berubah total setelah menjadi tawanan perang

Hidayatullah.com | Sherefovic Hakimov yang berusia 56 tahun, mantan personel militer Soviet, kita tidak lagi mengidentifikasi dirinya sebagai orang Rusia. Kini, dia tinggal di kota Herat sebagai seorang Muslim dan seorang Afghanistan.

Saudaranya, Alexandre, adalah seorang wakil Rusia di parlemen negara itu, dan saudara perempuannya, Mabuba, bekerja sebagai penasihat militer Uni Soviet.

Orang tuanya seoprang pejabat tinggi di tentara Soviet. Ayahnya, etnis Armenia, adalah seorang jenderal dan ibunya, seorang Yahudi Ukraina, bekerja untuk intelijen Soviet.

Pada tahun 1984, Hakimov dikerahkan ke Afghanistan sebagai perwira intelijen militer Soviet. Setelah tiga tahun, dia mengalami luka parah dalam baku tembak dengan mujahidin Afghanistan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Terluka dan kehilangan semangat, ia akhirnya menjadi tawanan perang.  “Ada sekitar 120 tentara Soviet yang hilang, dan Hakimov adalah salah satunya,” kata Bilal Guler, koresponden Anadolu Agency di Kabul, yang melakukan wawancara ekstensif dengan Hakimov di Herat, Afghanistan barat.

“Tidak ada informasi konkret tentang tentara Soviet yang hilang itu, dan tidak satupun dari mereka tampaknya dapat kembali ke Soviet atau Rusia saat ini. Tidak jelas apa yang terjadi pada mereka,” kata Guler kepada TRT World.

Hakimov punya cerita unik, saat menjadi tawanan, para mujahidin mengajaknya memeluk Islam. “Mereka menyuruh saya untuk menjadi seorang Muslim. Mereka juga mendorong saya untuk mengatakan ‘La ilaha illallah Muhammad Rasulullah,'” kata Hakimov, yang kini juga menggunakan barunya, Sheikh Abdullah, yang diberikan kepadanya oleh Haji Sayyid Abdulvahab Katali, salah satu dari pemimpin mujahidin.

“La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”, yang artinya “tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah nabi-Nya”, dianggap sebagai tanda ucapan memeluk Islam. Dengan mengucapkan kata-kata ini, seorang non-Muslim dapat masuk Islam dan menjadi seorang Muslim.

“Saya pikir Muhammad akan datang dan menentukan apa yang harus dilakukan dengan saya, dan bahwa dia adalah seorang hakim atau pemimpin [Mujahidin] ini,” kata Hakimov mengatakan kepada Guler dari Anadolu Agency, mengingat perasaannya saat itu.

Anadolu Agency mewawancarai Hakimov pada tanggal 15 Februari, peringatan penarikan Soviet dari Afghanistan.

Bermimpi Islam

Hakimov belum menjadi seorang Muslim hingga suatu ketika ia bermimpi di mana seorang pria berjanggut putih menasihatinya untuk masuk Islam. Setelah itu, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam dan budaya Afghanistan.

“Saya telah berada di Afghanistan selama hampir 40 tahun. Saya orang Afghanistan sekarang. Saya memiliki kewarganegaraan Afghanistan. Saya sekarang seorang Muslim. Saya bukan orang Rusia. Saya bukan milik orang Rusia,” kata Hakimov.

Mantan tentara Soviet itu berpakaian layaknya warga Afghanistan dan fasih berbahasa Pashto dan Persia, dua bahasa dominan di Afghanistan. Hakimov juga berteman baik dengan mantan musuhnya, Katali.

“Kita saling bermusuhan  kami saat itu. Jika kami menangkapnya, kami akan mengeksekusinya. Jika kami jatuh ke tangannya, mungkin dia juga akan mengeksekusi kami,” kata Hakimov.  “Kami menjadi teman setelah saya masuk Islam … Saya menjadi staf dan menjadi anaknya. Dia menikahkan saya dan memberikan sebuah rumah,” tambahnya.

Ketika dia berusia 25 tahun, Hakimov menikahi seorang wanita Afghanistan, yang meninggal saat melahirkan seorang gadis bernama Menice. Istri keduanya juga meninggal karena kanker perut tahun lalu.

Dengan kehilangan istri keduanya, Hakimov sempat kecewa dengan kehidupan. “Setelah istri saya meninggal, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Dia mengunjungi makam istrinya setiap hari untuk mendoakannya.

Rusia: Negeri Asing

Hakimov, yang menderita kehilangan ingatan dan penyakit lain akibat cedera masa lalunya, telah kehilangan paspor Soviet dan barang-barang miliknya, termasuk foto-foto anggota keluarganya. Bahasa Rusianya menjadi berkarat seiring waktu, dan karena kondisi kesehatannya, dia telah melupakan banyak kata dan frasa. Namun, dia masih menguasai bahasa Armenia asalnya dengan baik.

Kedua orang tuanya sudah meninggal. Jauh dari saudara-saudaranya selama beberapa dekade telah membebani mentalnya. Ia sangat merindukan kakak dan adiknya.

“Kami adalah manusia. Mustahil untuk tidak merindukan [mereka],” katanya, mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi mereka. Terakhir kali dia berbicara dengan saudara perempuannya melalui telepon adalah dua tahun lalu.

Meskipun dia sadar bahwa banyak penyakitnya dapat diobati di Rusia, dia masih tidak yakin bagaimana pemerintah akan memperlakukannya jika dia kembali.  Tapi Guler percaya bahwa jika salah satu saudaranya mengunjunginya di Afghanistan, dia mungkin merasa terdorong untuk pergi ke Rusia.

“Saya pikir dia merasa ditinggalkan oleh keluarga,” kata Guler.  “Kebijakan Rusia berbeda. Memang benar, mereka bilang mereka memaafkan kita. Tapi salah satu dari kami pergi ke Rusia dan ditangkap. Dia melarikan diri dari sana dan kembali ke Afghanistan. Jika Rusia tidak menangkapnya, kami semua akan pergi,” kata Hakimov.

Sherefovic Hakimov melihat foto-foto tentara Soviet yang hilang selama invasi Soviet ke Afghanistan di Museum Perang di Herat, Afghanistan. (AA)

Hakimov takut jika dia kembali ke Rusia, dia mungkin akan menghadapi pembalasan juga. “Saya tidak ditahan di sini. Mereka [Rusia] mengatakan mengapa Anda menyerah. Kami mengatakan bahwa kami tidak menyerah. Kami terluka dan tetap tinggal. Kami jatuh ke tangan mujahidin,” kata Hakimov.

“Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kami adalah tahanan dan tidak menyerah,” tambahnya.

Delegasi yang berbeda dari PBB ke Uzbekistan dan Rusia mengunjunginya berkali-kali untuk membantunya meninggalkan Afghanistan, tetapi dia menolak untuk melakukannya. Hakimov tidak yakin apakah pemerintah Rusia dapat memahami keadaan yang menyebabkan penangkapannya.

Dalam beberapa kesempatan, Hakimov bahkan melatih para mujahidin untuk berperang melawan Soviet. “Aku harus melakukan, aku takut. Untuk bertahan hidup, aku saya mengajarkan setiap keterampilan yang aku bisa kepada para mujahidin.”

‘Afghanistan’ yang netral

Pada tahun 1989, dua tahun setelah penawanan Hakimov, Soviet meninggalkan Afghanistan dengan segudang aib. Namun setelah itu, perebutan kekuasaan internal mencengkeram Afghanistan sampai Taliban muncul sebagai pemenang pada tahun 1995.

Namun, kekuasaan Taliban juga terputus pada tahun 2001 setelah serangan 11 September di AS dengan invasi Amerika.  “Sejak penarikan Soviet, Hakimov telah menarik diri dari konflik bersenjata tidak berjuang untuk kelompok Afghanistan mana pun,” kata Guler.

“Kesehatannya juga tidak memungkinkan dia untuk terlibat dalam pertempuran apa pun,” tambah Guler.

Hakimov, yang menderita kehilangan ingatan dan penyakit lain akibat cedera masa lalunya, sangat merindukan adik dan kakaknya di Rusia

Hakimov telah bekerja untuk museum perang Herat, di mana bekas persenjataan Soviet seperti tank dan senjata lainnya dipamerkan di samping foto-foto tentara Soviet yang hilang. Selama wawancara Anadolu Agency dengannya di museum, anggota Taliban yang berkuasa di Afghanistan berbaris untuk berfoto dengan Hakimov.

Tetapi ketika datang ke Soviet, Hakimov kembali ke posisi semula. “Saya dari Afghanistan. Jika Soviet [Rusia] menyerang dan menduduki Afghanistan lagi, saya akan menyerang mereka dengan tank buatan Rusia dari Uni Soviet ini,” katanya sambil menunjuk salah satu tank era Soviet di museum.

“Aku akan menyerang mereka dengan senjata mereka sendiri,” katanya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanMuslimpasukan RusiaPerwira IntelijenTalibanUni Soviet
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Pekan Aqsha Terbesar’ Akan Disambut Peserta dari 50 Negara
Tulisan selanjutnya muslim india Endemi Islamofobia dan Diskriminasi terhadap Muslim India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?