Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Peran al-Qur’an dalam Pengislamisasian Bahasa Arab

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Juni 2013 05:10 5:10 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juni 2013 05:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Rahmat Hidayat Zakaria

MASYARAKAT Arab secara natural mempunyai kemampuan tinggi dalam bidang sastra—terutama puisi. Bakat ini telah diwarisi oleh nenek moyang mereka semenjak ratusan tahun sebelum datangnya Islam. Kualitas sastra yang mereka gunakan sangat tinggi dan mendalam, sehingga mampu membuat orang terpesona akan keindahan gaya bahasanya.

Dalam suasana masyarakat Arab yang begitu terkenal dengan bahasa dan sastranya, Allah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad sebagai dasar ajaran dan syari‘at untuk makhluk seluruh alam. Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab dan mempunyai kekuatan serta keindahan bahasa dan sastra sehingga ia mampu melampaui kehebatan bahasa dan sastra Arab ketika itu. Inilah yang membuat Prof al-Attas semakin menguatkan, bahwa bahasa Arab telah dibebaskan melalui proses Islamisasi. Bahkan, beberapa leksikologis dari Orientalis Barat berasumsi, bahwa pada saat al-Qur’an diwahyukan di tanah Arab, bahasa Arab akhirnya mengalami proses perubahan yang sangat drastis. (al-Attas, The Concept of Education in Islam, 1999, 8-9).

Islamisasi bahasa telah dilakukan ketika pertama kali al-Qur’an diwahyukan. Islamisasi tersebut akhirnya mempengaruhi Islamisasi pemikiran dan akal. Islamisasi bahasa Arab dengan tuntunan Allah dan wahyu, telah mengubah kedudukan bahasa Arab menjadi satu-satunya bahasa yang masih hidup di antara bahasa-bahasa manusia. Ia telah menjadikan bahasa Arab terpelihara dari perubahan serta tetap hidup dan kekal sebagai bahasa yang baku. Setiap makna dari perkataan-perkataan tersebut ditentukan oleh perbendaharaan kata semantik dari al-Qur’an, dan bukan ditentukan oleh perubahan sosial (Islam and Secularism, 46).

Bahasa Arab yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala sebagai bahasa wahyu tentunya mempunyai kekuatan dan keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Kenapa Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab? Karena Nabi Muhammad adalah berbangsa Arab dan berbicaranya pun dalam bahasa Arab.

Ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala; “Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. Ia dibawa turun oleh malaikat Jibril ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi perigatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS: al-Syu‘ara’ [26]: 192-195).

Sementara di ayat yang lain diegaskan, “Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS: al-Zukhruf [43]: 3). Begitu juga dengan surat Fuṣṣilat, Allah menyatakan, “Dan jikalau kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selalin Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasūl adalah orang Arab)? Katakanlah: “al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.” (QS: Fushshilat [41]: 44).

Peran al-Qur’an dalam Pengislamisasian Bahasa Arab

Berikut ini akan dijelaskan beberapa peran al-Qur’an dalam mengislamisasi bahasa Arab:

Pertama, menambah perbendaharaan kata Arab. Seperti kata munafiq. Sebelum kedatangan Islam, kata tersebut belum dikenal. Tetapi setelah Islam datang, munafiq mempunyai definisi tersendiri , yaitu orang yang mengaku Islam tetapi hatinya tetap kafir kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, memperluas pengertian beberapa perkataan Arab. Pada zaman jahiliyah, banyak kata-kata yang kemudian diubah maknanya oleh Islam. Seperti kata mu’min yang berarti aman, muslim berarti tunduk, dan shalat yang berarti doa. Setelah Islam datang, kata-kata tersebut tidak lagi menunjukkan pengertiannya dari segi bahasa. Mu’min menjadi orang yang percaya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan semua perkara-perkara yang wajib dipercayai, Muslim telah menjadi orang yang tunduk atau taat kepada perintah Allah Subhanahu Wata’ala (menunaikan segala perintahNya dan menjauhi segala yang dilarangNya), serta shalat menjadi ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dimulai dari takbiratul ihram dan ditutup dengan salam.

Ketiga, menyatukan pelbagai dialek kabilah (tribe) Arab.

Kaum Qudha‘ah mengubah huruf (ي) menjadi (ج). Seperti ungkapan penyair berikut ini:

خالي عويف وأبو علج المطعمان اللحم بالعشج

(Biarkanlah ‘Uwaif dan Abu Ali memberi makan daging di malam hari)

Kata (علج) sebenarnya (علي), demikian juga (بالعشج ) maksudnya (بالعشي).

Kaum Himyar mengubah ‘al’ al-Ma‘rifah menjadi (أم) di awal perkataan, seperti kalimat berikut: من أمبر أمصيام فى أمسفر

Sebenarnya yang dimaksud dari rangkaian kalimat di atas adalahهل من البر الصيام فى السفر
(Apakah puasa ketika sedang safar merupakan suatu kebaikan?)

Dan yang terakhir adalah kabilah Hudai, mereka mengubah huruf (ح) menjadi (ع). Seperti ucapan mereka: أعل الله العلال . Padahal sebenarnya yang mereka maksud adalah أحل الله الحلال (Allah telah menghalalkan yang halal).

Ucapan-ucapan mereka terkadang jarang didengar dan menyusahkan lidah ketika mengucapkannya. Namun, perkataan tersebut sedikit demi sedikit hilang seiring dengan datangnya Islam dan ditukar dengan bahasa dan penyebutan yang mudah sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an.

Keempat, al-Qur’an membantu penyebaran bahasa Arab ke seluruh dunia (khususnya negara-negara Islam). Tanpa disadari, bahasa Arab (bahasa al-Qur’an) banyak digunakan dalam aktivitas kita sehari-hari.

Pengaruhnya disebabkan oleh meresapnya bahasa ini ke dalam jiwa kita dan umat Islam, seolah-olah bahasa ini menjadi bagian dari bahasa kita sendiri. Seperti kata yakin, ilmu, beriman, bertaqwa, adil, adab, haq, batil, musyawarah, wakil, hikmah, faham, fikir, syair, ibarat, kursi, sultan, garis khatulistiwa, aman, nama-nama hari dalam seminggu dan seterusnya. (lihat ed. Mohd Radzi Othman dkk, Warisan al-Qur’an: Sosiobudaya, 2009,110-15).

Demikianlah peran al-Qur’an ketika mengislamkan bahasa Arab. Allah Subhanahu Wata’ala telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an disebabkan bahasa tersebut adalah bahasa saintifik.

Itulah yang membuat bahasa al-Qur’an pun sangat dikagumi. Melalui proses islamisasi terhadap bahasa Arab, worldview masyarakat pun akhirnya berubah menjadi Islam. Semua itu berangkat dari peran Al-Qur’an dalam pengislamisasian Bahasa Arab. Wallāhu a‘lam bishshawab.*

Mahasiswa Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation, Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM)

Baca juga: Bahasa Antara Islamisasi dan Sekularisasi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya IHH: Kami Tidak akan Terima Kompensasi Sebelum Blokade Gaza Diangkat
Tulisan selanjutnya Menag Ingin Bangun Sekretariat Bersama Negara Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Berita
15 Juli 2026 21:36
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?