Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Menyoal Modul Pembelajaran PAI berbasis ‘Islam Damai’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2015 11:43 11:43 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Agustus 2015 11:43
Bagikan
Tujuan pendidikan Islam menjadikan manusia beradab (insan adabiy), mengenal Tuhannya. Bukan tambah bingung dengan ajarannya [ilustrasi]
Bagikan

Oleh: Masykur

BEBERAPA waktu lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pemblokiran beberapa situs Islam yang dilakukan sepihak oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).

Media-media Islam tersebut dianggap telah menyebarkan paham radikalisme melalui pemberitaan mereka. Meski akhirnya simpul pemblokiran dibuka kembali namun tetap saja asumsi “media radikal” terlanjur memasung pemikiran sebagian masyarakat Indonesia.

Meski definisi radikalisme agama masih dipertanyakan keabsahan dan penggunaannya, namun stigma negatif tersebut kadung melekat dan ditujukan kepada umat Islam.

Kini ibarat bola liar,  cap buruk itu terus menggelinding tanpa arah yang jelas. Bahkan jika mengurut dari sejarah, sejak dulu umat Islam telah beroleh cap tersebut. Mulai dari istilah Islam Pemberontak, Islam Fundamental, Islam Garis Kanan, Islam Radikal hingga kepada stigma teroris yang ditimpakan kepada umat Islam.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Baru-baru ini Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia juga meluncurkan standarisasi modul pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang disebutnya berbasis Islam Damai atau Islam Rahmatan lil Alamin. Dalam keterangan yang dilansir Harian Republika (Rabu, 12/08/2015), Menteri Agama Lukman Halim Saifuddin menyatakan harapannya agar dengan modul tersebut, paradigma terkait substansi materi ajar dan metodologi penyampaian akan diseragamkan.

“Ini salah satu cara Kemenag menyikapi paham yang cukup ekstrem yang sesungguhnya bukan merupakan cermin ajaran Islam,” demikian Lukman usai membuka kegiatan pentas seni PAI di Bekasi, seperti yang dimuat Republika lalu.

Menurut Lukman, setidaknya ada 47 juta anak Indonesia yang belajar agama Islam di sekolah. Diharapkan, dengan modul seragam ala Islam Damai tersebut, para siswa tersebut bisa mendapatkan materi tentang Islam yang menghargai perbedaan, damai, dan toleran.

Senada, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menguatkan, proses penyusunan modul ini telah dilakoni sejak tahun 2014.

Sebanyak 30 guru terbaik dari seluruh Indonesia lalu dikirim mengikuti Religius Education, Oxford University, Inggris. Tak hanya sampai di situ, lanjut Kamaruddin, sebab sekembali dari Oxford, masih terdapat sejulah workshop untuk menyempurnakan modul pelajaran PAI tersebut.

Bagi seluruh masyarakat Indonesia, terkhusus umat Islam, pendidikan yang mengajarkan kekerasan apalagi berbuat dzalim tentu saja tak diperbolehkan. Islam adalah agama wasathiwatermainah (pertengahan) yang mengedepankan perilaku adab dan berbuat adil. Hal itu ditegaskan dalam sejumlah tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh para ulama dan tokoh pendidikan Islam.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang beradab atau manusia yang baik (a good man). Manusia beradab atau insan adabiy adalah manusia yang mengenal Tuhannya, mengenal dan mencintai Nabinya, menjadikan Nabi sebagai uswatun hasanah, menghormati para ulama sebagai pewaris Nabi, memahami dan meletakkan ilmu pada tempat yang terhormat.

Ia juga bisa memilah dan memahami antara ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, antara ilmu yang bermanfaat dan yang merusak, serta sanggup menjalankan fungsi sebagai abdullah dan khalifah di muka bumi. (Lihat buku Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, Depok: Gema Insani, 2013).

Untuk itu, penulis berharap ada keadilan dalam menerapkan modul pembelajaran PAI tersebut, khawatir jika yang terjadi justru penggerusan nilai-nilai dan ajaran Islam. Alih-alih menjelaskan makna Islam dengan benar, nyatanya malah mengaburkan dan menjauhkan anak-anak dari pendidikan agama.

Terakhir, fakta di lapangan menyebutkan, tak sedikit umat Islam menjadi korban penganiayaan dan kedzaliman atas nama “cap teroris”. Padahal oleh aparat kepolisian,  ia masih berstatus dan dianggap sebagai “terduga” saja. Di saat yang sama, para pelaku kerusuhan yang menganiaya umat Islam terkesan didiamkan dan dibiarkan begitu saja oleh aparat terkait. Lalu kemana ajaran toleransi dan damai itu?

Mahasiswa Magister Pendidikan Islam UIKA Bogor, peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pelaku LGBT Seharusnya Diselamatkan, Bukan Dijerumuskan [2]
Tulisan selanjutnya Caisar: Dulu Saja Ajak Masyarakat Goyang, Sekarang Saya Ajak Mendekat pada Allah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?