Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Toleran yang Kebablasan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Januari 2016 16:49 4:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Januari 2016 14:27
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholila Ulin Ni’ma

 

DESEMBER 2015 lalu publik kembali dikejutkan oleh kelakuan mahasiswa PTAIN. Kali ini belasan Mahasiswa UIN DIY ikut merayakan Misa malam Natal di dalam sebuah gereja di Solo yang dipimpin oleh Pendeta Wahyu Nugroho.

“Pak Wahyu adalah dosen kami di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Beliau mengajar mata kuliah teks suci Al-Quran dan kitab agama lain. Kami ingin mengucapkan selamat Natal saja dengan datang ke sini,” beber Taufik, salah seorang mahasiswa yang turut hadir dalam perayaan tersebut. Para jemaat gereja menyambut mereka dengan hangat, bahkan usai acara, ada beberapa yang meminta foto bersama mahasiswa/i UIN tersebut dengan latar belakang pohon Natal.

Meski sang rektor sudah meralat acaranya sebenarnya, namun banyak kalangan mengkritik tindakan ini. Bagaimana mungkin mahasiswa perguruan Tinggi Islam yang lulusannya diharap melahirkan dadi oleh masyarakat, justru melakukan aktivitas pendangkalan aqidah?

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Bagaimana nasib aqidah umat kelak jika lulusan-lulusan seperti ini memimpin umat. Para ulama, termasuk MUI pun turut mengecam dan mengkritik tindakan ini. Namun mereka tidak mengindahkan fatwa haram dari MUI tersebut.  Mereka seolah-olah ingin menunjukkan, “Beginilah toleransi itu.”

Toleransi ala Liberal

Tak lama kemudian pihak UIN Sunan Kalijaga, melalui Wakil Rektornya, memberikan klarifikasi bahwa mahasiswa yang hadir dalam perayaan natal itu hanya ‘menyaksikan’ (‘bukan mengikuti’) prosesi Natal. Mereka adalah para mahasiswa/i prodi S2 Agama dan Filsafat Fakultas Ushuluddin, konsentrasi Studi Agama dan Resolusi Konflik pada mata kuliah Studi al-Qur’an dan Perbandingan Kitab Suci agama-agama. Mereka sedang melakukan observasi lapangan tentang prosesi Natal sebagai bagian dari proses akademis-ilmiah. Mereka juga melakukan kegiatan demikian pada prosesi Waisak, Nyepi dan Imlek.

Sebenarnya tak hanya di UIN Yogyakarta, Perguruan Tinggi lain yang berlebel Agama Islam pun juga melakukan hal yang sama yang membuat kita tercengang dan geleng-geleng kepala. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini sudah dianggap biasa oleh berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam, khususnya jurusan ushuluddin. Ada yang melaksanakan buka bersama di Klenteng, adapula yang membantu persiapan sampai mengikuti ritual perayaan hari raya Hindu Budha dengan ‘dalil’ toleransi beragama. Partisipasi yang mereka lakukan dalam berbagai perayaan itu dianggap bagian dari proses akademis-ilmiah dengan dalih ‘tidak ada dalil yang mengharamkannya’.

Tindakan tersebut jelas merupakan toleransi yang salah kaprah dan melanggar batas-batas syariah Islam. Yang dilakukan para mahasiswa itu, sesungguhnya bukan bentuk toleransi yang diajarkan Islam, melainkan toleransi liberal yang diajarkan Barat, yang memang tidak mengenal syariah Islam sebagai batas-batasnya.

Mengutip kitab Naqd at Tasaamuh al Libraali (Kritik Terhadap Toleransi Liberal) karya Prof. Muhammad Ahmad Mufti yang menyebutkan toleransi liberal didasarkan pada tiga ide pokok yakni sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan; relativisme, yaitu paham yang memandang kebenaran suatu agama itu relatif (tidak mutlak benar) dan pluralisme, yaitu paham yang memandang kebenaran semua agama yang bermacam-macam.

“Sesungguhnya ketiga ide pokok paham tersebut semuanya batil dan bertentangan dengan Islam!”

Bagaimana Islam Memandang Toleransi?

Dalam kamus al–munawwir, Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada. Jadi, toleransi umat Islam terhadap kaum Nasrani yang merayakan Natal, cukup dengan sikap membiarkan. Ya, cukup dengan membiarkan. Membiarkan di sini maksudnya bukan mengakuinya sebagai kebenaran, tetapi dalam arti arti tidak melarang atau tidak menghalang-halangi. Inilah toleransi yang diajarkan dalam Islam, karena Islam mengajarkan bahwa kaum non-muslim hendaknya dibiarkan untuk beragama dan beribadah menurut keyakinan mereka, mereka tidak diganggu dan tidak juga dipaksa untuk masuk Islam. (kitab Muqaddimah Al Dustur, 1/32 karya Syeikh Taqiyuddin An Nabhani)

Sedangkan toleransi diartikan sebagai “partisipasi” (musyarakah) yang dilakukan muslim dalam hari raya Natal, misalnya dengan mengucapkan selamat Natal, atau hadir dalam Natalan bersama, apalagi hadir dalam Misa Natal di gereja, jelas itu sudah melanggar syariah Islam, dan bukan seperti ini toleransi yang diajarkan syariah Islam.

Dua alasan utamanya. Pertama, karena perbuatan termasuk termasuk perbuatan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffar), yang sudah diharamkan dalam ajaran Islam. Yang dimaksud menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffar), adalah menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang merupakan ciri-ciri khas kekafiran mereka, seperti akidah, ibadah, adat istiadat, atau gaya hidup (pakaian, kendaraan, perilaku dll) kaum kafir. (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 4/175).

Menghadiri misa Natal jelas-jelas merupakan bagian dari menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffar) itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam  telah melarang menyerupai kaum kafir sesuai sabdanya,”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum). (HR Abu Dawud, no 4033; Ahmad, Al Musnad, Juz 3 no. 5114; Tirmidzi, no 2836).

Kedua, karena kehadian para mahasiswa dalam Misa Natal di gereja tersebut merupakan bentuk partisipasi (musyarakah) muslim dalam hari raya agama lain yang juga sudah diharamkan dalam Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya),”Dan [ciri-ciri hamba Allah di antaranya adalah] tidak menghadiri/mempersaksikan kedustaan/kepalsuan.” (walladziina laa yasyhaduuna az zuur). (QS Al Furqaan: 72). Imam Ibnul Qayyim meriwayatkan penafsiran Ibnu Abbas, Adh Dhahhak, dan lain-lain, bahwa kata az zuur (kebohongan/kepalsuan) dalam ayat tersebut artinya adalah hari raya orang-orang musyrik (‘iedul musyrikiin).

Berdalil dengan ayat ini, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa haram hukumnya muslim turut merayakan (mumaala`ah), menghadiri (hudhuur), atau memberi bantuan (musa`adah) pada hari-hari raya kaum kafir. (Ibnul Qayyim, Ahkam Ahlidz Dzimmah, 2/156).

“Berdasarkan dalil ayat tersebut, perbuatan mahasiswa muslim yang menghadir Misa Natal di gereja tersebut adalah haram,”.

Khatimah

Sudahlah, umat Islam tidak perlu latah terjebak dalam perangkap seruan toleransi yang diperalat sehingga justru terlibat dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Islam. Baik mengucapkan selamat, menghadiri, maupun ikut merayakan Natal. Hal yang sama juga berlaku pada momen Tahun baru ini, karena kita tahu bahwa merayakan Tahun Baru juga bukan dari Islam. Merayakan Malam Tahun Baru dengan cara apa pun adalah kebiasaan Kaum Penyembah berhala (Paganis) Romawi yang merayakan Hari Janus, dengan mengitari api unggun, meniup terompet berpesta dan bernyanyi bersama.

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” (Al Baqarah 120). Allahu a’lam bish shawaab.*

Penulis alumnus Pascasarjana IAIN Tulungagung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IAINmahasiswa UINmisamusyarakahnataltahun baru
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadilah Muslim Pemberani!
Tulisan selanjutnya Al Qassam Merilis Foto-Foto Masa Penahanan Ghilad Salit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?