Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Menjawab Pikiran-pikiran Penentang Kebenaran [2]

Ahmad
Terakhir diupdate: 28 Februari 2016 14:49 2:49 pm
Ahmad
Dipublikasikan 28 Februari 2016 14:00
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

Sambungan dari artikel pertama

Oleh: Imam Nawawi*

 

AKIBATNYA, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental iblis.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an: “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (7:146).

Ciri yang ketiga ialah, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Dalam kasus LGBT misalnya, pihak yang pro selalu berdalih bahwa LGBT adalah bawaan, tidak bisa diubah, mesti diakui sebagai kewajaran yang juga merupakan kecenderungan alamiah. Bahkan, Franz Magnis Suseno menulis, “Karena itu, mau ‘menyembuhkan’ atau ‘membina’ ke jalan yang benar mereka yang berkecenderungan alami adalah tidak masuk akal” (Kompas, 23/2).

Dengan kata lain, mereka ingin LGBT diterima sebagai kewajaran. Apalagi, WHO sejak 26 tahun silam telah mencoret homoseksualitas dari daftar penyakit mental.

Fakta Menarik

Fakta di atas menarik untuk dicermati. Di antaranya, anggapan bahwa LGBT itu normal jadi tidak perlu direhabilitasi dan andai pun mereka yang merasa normal tetap melihat LGBT sebagai ketidaknormalan bersikukuh maka upaya tersebut dinilai tidak masuk akal. Pemikiran seperti itu selain tidak ilmiah, cenderung mendahulukan stigmatisasi dan memaksakan kehendak. Pada saat yang sama, hal tersebut menolak fakta bahwa bahaya dari LGBT benar-benar nyata dan sangat mengerikan. Seperti, kasus-kasus pembunuhan pasangan sejenis yang dilanda cemburu.

Kemudian apa yang dilakukan oleh WHO sebagai badan dunia di bidang kesehatan, yang telah mencoret LGBT dari daftar penyakit mental, sama sekali tidak bisa dijadikan rujukan mutlak bahwa LGBT abnormal. Kalau pihak yang pro LGBT bisa berpikir kritis, mestinya mereka tidak begitu saja menerima keputusan WHO. Setidaknya ada beberapa aspek yang perlu kita ajukan sebagai nalar kritis terhadap keputusan WHO.

Pertama, bisa jadi keputusan WHO tidak benar-benar diambil atas dasar ilmiah alias ada tekanan-tekanan politik tertentu. Kedua, secara empiris LGBT cenderung menimbulkan masalah keluarga dan sosial. Ketiga, secara nalar awam, LGBT bisa menjadi sebab utama punahnya suatu bangsa. Keempat, LGBT tidak sesuai dengan adat ketimuran. Kelima, LGBT di dalam sejarah Islam adalah perilaku yang mengundang adzab langsung dari Allah Ta’ala. Apakah WHO sudah memperhatikan kelima aspek tersebut?

Dengan demikian, sebenarnya argumentasi pembela kebathilan sangat lemah, cenderung tidak berdasar dan menolak fakta kebenaran. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita tidak boleh takut, minder atau ragu mengambil keputusan bahwa LGBT itu abnormal. Seorang Mahatma Gandhi saja berkata, “Jika kamu benar, walaupun seluruh dunia memusuhimu, kamu tetap benar.”

Kebenaran memang tidak bisa semata-mata disandarkan pada kenyataan, lebih-lebih kenyataan yang didasarkan sekadar pada fakta yang boleh jadi direkayasa. Sungguh manusia akan semakin terjerumus pada ketidakbenaran. Oleh karena itu, sebagai Muslim fakta hendaknya tidak dipandang lebih unggul dari wahyu, apalagi dengan mempertentangkannya. Sebab, fakta hanyalah wilayah kerja indera. Sedang kebenaran adalah wilayah hati nurani dan akal sehat.

Dari sini kita bisa memahami dengan jelas bahwa kebenaran tidak mungkin kita capai dengan tidak mengindahkan kebenaran yang Tuhan ajarkan. Oleh karena itu, dalam Islam kita diperintahkan secara mutlak untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang beriman“ (QS. Al Anfal [8] : 1).

Secara spesifik, konteks ayat tersebut memang berbicara soal pengaturan segala hal dalam soal ghanimah (rampasan) perang. Tetapi secara global ayat ini juga menghendaki bahwa segala macam ketentuan yang telah Allah berikan mesti diikuti dengan penuh pengabdian, termasuk soal bagaimana menata keluarga, bangsa bahkan negara.

Kemudian, kita juga patut merenungkan apa yang Rasulullah pesankan kepada kita agar jangan sampai berpikir dan bertindak keluar dari apa yang Allah dan Rasul-Nya gariskan.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“”Aku telah tinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya. (Yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya“ (HR. Hakim dan Baihaqi).*

Penulis adalah aktivis Gerakan Indonesia Beradab

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:darurat LGBTDiabolisghazwul fikriiblislgbtpemikiran Islamperang pemikiran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Selamatkan Keluarga Berarti Selamatkan Bangsa dan Negara
Tulisan selanjutnya Komandan Senior Hizbullah Libanon Tewas di Aleppo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?