Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Misi Kebangkitan Islam

Bambang S
Terakhir diupdate: 31 Maret 2021 15:49 3:49 pm
Bambang S
Dipublikasikan 31 Maret 2021 15:49
Bagikan
KH Hasyim Asy'ari
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com | “BANGSA tidak akan jaya jika warganya bodoh. Hanya dengan ilmu suatu bangsa menjadi baik.” Demikian kalimat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang dikutip oleh Muhammad Asad Syihab dalam bukunya berjudul “Al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari, Awwalu Waadi’I Labinati Istiqlali Indunisiyya”.

Muhammad Asad Shahab disebut-disebut penulis pertama biografi Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Kiai Hasyim) merekam dengan baik gerak perjuangan Kiai Hasyim. Ketika di Makkah, Kiai Hasyim bersama para tokoh-tokoh dari berbagai negara Afrika dan Asia bersumpah di depan Multazam untuk memerdekan bangsanya masing-masing sepulang ke negerinya. Bertekad melawan penjajah untuk kejayaan Islam dan bangsanya.

Kiai Hasyim Asy’ari adalah ulama kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama. Ayahnya, Kiai Asy’ari adalah seorang ulama di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kiai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kiai Sihah, juga ulama, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah berguru kepada masyayikh di tanah haram. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh ‘Alawi dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis yang berasal dari Termas Jawa Timur.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Baca: KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’

Sepulang ke tanah air, ia memulai tapak perjuangan melalui pendidikan dan organisasi sosial. Di bidang pendidikan ia mendirikan pesantren bercorak tradisional di Tebuireng Jombang. Untuk mengkonsolidasi dakwah secara efektif ia mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, yang artinya organisasi kebangkitan ulama pada 31 Januari tahun 1936.

Ia termasuk penulis produktif. Karya yang dibukukan sekarang ini ada sekitar 19 kitab. Jumlah kitab tersebut belum risalah-risalah pendek yang belum dicetak. Menurut informasi, risalah-risalah itu masih tersimpan di perpustakaan keluarga di Jombang.

Sepertinya Kiai Hasyim Asy’ari ingin meneladani Imam al-Ghazali dalam berdakwah. Imam al-Ghazali dalam gerakan pembaharuannya dilakukan dengan membenahi ilmu dan ulama. Kiai Hasyim Asy’ari dengan berdirinya NU, berusaha membangkitkan ulama dan semangat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Ulama adalah ‘mesin’ dakwah Islam. Oleh sebab itu ketika terjadi krisis, ulama harus dibangkitkan, dibenahi keilmuannya dan diatur strategi perjuangannya.

Dalam kitabnya al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan terekam nasihat-nasihat penting yang disampaikan dalam pidato mu’tamar NU ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya.

Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjihad melawan akidah yang dikelirukan dan orang yang menghina al-Qur’an.

Baca: Sikap KH. Hasyim Asyari terhadap Perbedaan Mazhab

Dalam suatu pidato di Muktamar yang dihadiri para ulama, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari menyeru untuk meninggalkan fanatisme buta kepada satu kelompok. Sebaliknya ia mewajibkan untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur’an, dan sifat-sifat Allah SWT, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak. Usaha dalam bentuk ini wajib hukumnya. Ia mengatakan:

“Wahai para ulama yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” (al-Tibyan, hal. 33).

Menurut Syekh Hasyim Asy’ari, fanatisme buta berlebih-lebihan (ghuluw) dalam satu perkara yang remeh tidak dipernkenankan oleh Allah SWT, tidak diridlai oleh Rasulullah ﷺ (al-Tibyan, hal. 33). Oleh sebab itu ia menyeru untuk menyatukan shaf.

Jika menghadapi sesama aswaja, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang hikmah. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu.

Dalam kitab Risalah Ahlus Sunnnah Syekh Hasyim Asy’ari menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan menyebarkan ke dalam umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad, Rafidlah yang mencaci sahabat Nabi ﷺ dan kelompok Ibahiyyun harus diperangi dan dibenahi akidahnya.

Dalam kitab yang sama, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Ditulis dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Hadratus Seykh Hasyim Asy’ari mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah, yakni orang yang tenggelam dalam lautan fitnah, yaitu berdakwah mengajak kepada agama Allah akan tetapi dalam hati ia durhaka kepada-Nya.

Inilah karakter Syekh Hasyim Asy’ari yang patut diteladani umat. Beliau salah satu tokoh nasional yang berjasa besar terhadap umat Islam Indonesia. Beliau tak segan membenahi umat Islam yang dalam kekeliruan. Semuanya demi Islam, demi keagungan Allah, bukan demi manusia tertentu.*

Penulis adalah Dosen IAI Dalwa Bangil

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kebangkitan IslamKH Hasyim AsyariNahdhatul UlamaSyekh Ahmad Khatib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Partai Demokrat versi KLB Pemerintah Resmi Tolak Partai Demokrat Versi KLB, Komando Moeldoko
Tulisan selanjutnya Ramadhan 13 April 2021 Pusat Astronomi UEA Sebut 1 Ramadhan 1442 Jatuh pada 13 April 2021

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

Terbaru

  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?