Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Kerancuan Filosofi Islam Nusantara (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Oktober 2022 18:25 6:25 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Oktober 2022 19:00
Bagikan
Bagikan

Allah telah menurunkan Islam di Negeri Arab, dan Al-Quran berbahasa Arab bukan Indonesia, maka tidak sepatutnya membenturkan Indonesia dengan Islam dan Nusantara

Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi

Hidayatullah.com | PADA tulisan sebelumnya penulis sudah menyinggung tentang beberapa kerancuan isi buku Filosofi Islam Nusantara. Hanya saja, pada tulisan awal itu baru disinggung kerancuan yang ada dalam Pengantar Editornya.  Pada tulisan kali ini penulis mencoba memaparkan kerancuan isi (kandungan) buku tersebut.

Tanpa catatan kaki dan catatan akhir

Sebelum mengulik lebih lanjut mengenai kandungan buku ini, perlu dicatata bahwa penulis sendiri mengalami kesulitan ketika tidak mendapati ‘catatan kaki’ (foot-note) ataupun ‘catatan akhir’ (end-note) dari buku ini. Bahkan, penulisnya juga tidak mencantumkan ‘body-note’.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Sehingga, para pembaca akan kesulitan untuk merujuk buku dan pendapat siapa yang dirujuk oleh sang penulis. Karya sekelas tesis seperti ini tentunya akan lebih baik mencantumkan ‘catatan kaki’ atau ‘catatan akhir’ karena dapat membantu dan memudahkan para pembaca dan peneliti lain dalam membaca pikiran penulisnya. 

Tidak fokus

Pada Bab I (Pendahuluan) mulai disinggung mengenai perdebatan seputar proses pembumian Islam di Nusantara.  Penulisnya menyebut satu teori bahwa Islam Nusantara adalah Islam permukaan (Islam yang dipahami dan diartikan hanya sebatas kulit luar dari ajarannya, berupa syiar, dan hiruk-pikuk seremonial yang disandingkan dengan aktivitas ibadah formal Islam); dan Islam Fansurian (proses pengislaman yang dibungkus oleh Sufisme). (Mulyadi, Filosofi Islam Nusantara, 1).

Tentu saja ini dua teori ini amat asing jika dikaitkan dengan teori masuknya Islam ke Kepulauan Melayu-Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan Prof. SMN al-Attas. Penulisnya lebih tertarik menyinggung ‘Islam Nusantara’. Penulisnya tidak fokus mengawal idenya agar tetap padu dengan ide dan konsep kajian Prof. Al-Attas.

Lebih tidak fokus lagi ketika sang penulis menyatakan demikian: “Belum lama ini, sebelum argumentasi tersebut muncul setidaknya ada pengaruh dari Istana Negara Republik Indonesia yang mencoba memperkenalkan Islam bercorak Nusantara dalam bentuk lantunan ayat Al-Qur’an yang menggunakan langgam Jawa. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam Nusantara memiliki suatu sisi bangunan epistemologis tersendiri dalam menerapkan nilai-nilai Islamnya. Argumentasi tersebut memberikan pandangan bahwa corak Islam Nusantara dapat didefinisikan sebagai Islam yang dapat menyesuaikan diri dengan masyarakatnya.” (Mulyadi, Filosofi Islam Nusantara, 1).

Tentu menjadi sebuah pertanyaan: Islam yang menyesuaikan budaya lokal atau budaya lokal yang harus “di-Islamisasi-kan”?

Kasus baca Al-Qur’an denggan langgam Jawa jelas problematis. Ini bisa dilihat bagaimana respons para Qori’ internasional dan para pakar Al-Qur’an (seperti kritik KH. Muammar ZA dan Prof. Dr. Said Aqil Munawwar, dan yang lainnya). Artinya, ini bukan bagian dari Islam bukan pula bagian dari budaya. Ini hanya sensasi, bahkan cenderung merusak Islam dan budaya itu sendiri.

Pernyataan penulis Filosofi Islam Nusantara semakin menegaskan bahwa konsepsi ‘Islam Nusantara’ dalam pemikiran sang penulis bukan Islam dalam pandangan Prof. SMN al-Attas. Apalagi ketika sang penulis kemudian menekankan apa itu ‘Islam Nusantara’ dengan mengutip padangan Prof. Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa ‘Islam Nusantara’ adalah konsep filosofis, yang membentuk nilai, cara pandang, pola pikir dalam melihat tatanan budaya dan antropologis.

Pola Islam yang telah menyesuaikan diri dengan masyarakat Nusantara tersebut serta campuran berbagai latar belakang budaya, menyebabkan Islam yang datang mesti dapat menyesuaikan diri dengan budaya Nusantara. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Islam Nusantara lebih bersifat lembut, sosial, serta toleran dibandingkan dengan Islam orang Arab yang terkesan keras, panas, dan jauh dari toleransi. (Mulyadi, Filosofi Islam Nusantara, 2).

Sebagaimana penulis singgung di tulisan pertama, bahwa menyatakan Islam di Arab kelas (intoleran) dan Islam di Indonesia lembut merupakan bentuk ketidakpahaman tentang hakikat Islam itu sendiri. Karena jika merujuk dakwah para Wali Songo, faktanya menyebutkan bahwa budaya Indonesia “di-Islam-kan”. Artinya, nilai-nilai budaya di Kepulauan Melayu-Indonesia harus disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. (Lihat, Atlas Wali Songo).

Maka, pernyataan bahwa Islam di Indonesia ini menyesuaikan dengan budaya adalah pernyataan yang menyesatkan. Yang benar adalah sebaliknya: Islam datang dan “mengislamkan” nilai-nilai budaya agar sesuai dengan nilai-nilai agama.*

Dosen ‘Islamic Worldview’ di STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Aqidah dan Filsafat Islām Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ArabFilosofi Islam NusantaraIslamisasi Alam Melayu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bukti Cinta Nabi Muhammad
Tulisan selanjutnya TGIPF Bicara soal Orang Kuat di Balik Tragedi Kanjuruhan: Anda Sudah Bisa Menciumnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Syeikh Jarrah palestina
Berita

Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Berita
3 September 2026 19:12
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?