Hidayatullah.com– Produksi opium Myanmar melonjak tajam, mencatat angka tertinggi kurun sembilan tahun terakhir.
Angkanya menyentuh 795 metrik ton pada 2022, hampir dua kali produksi 2021 – sebanyak 423 metrik ton – tahun ketika militer melakukan kudeta, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
PBB meyakini kenaikan didorong oleh kesulitan ekonomi dan gangguan keamanan, serta lonjakan harga global getah opium yang dipergunakan untuk membuat heroin.
Menurut laporan sebelumnya dari UN Office on Drugs and Crime (UNODC), lembaga PBB urusan narkoba dan kriminalitas, harga opium melambung di Afghanistan musim semi lalu setelah pemerintah Taliban mengumumkan larangan penanaman pohonnya.
Myanmar merupakan penghasil opium terbesar kedua dunia setelah Afghanistan. Kedua negara itu merupakan sumber sebagian besar heroin yang dijual seantero dunia. Nilai ekonomi opium Myanmar mencapai $2 miliar, berdasarkan perkiraan PBB, sementara perdagangan regional heroin bernilai sekitar $10 miliar.
Kurun dekade terakhir ketika perekonomian Myanmar membaik, penanaman opium poppy di negara itu mengalami penurunan.
Namun, laporan survei opium tahunan yang dilakukan PBB menunjukkan dua tahun terakhir produksinya naik kembali. Produksi opium pada tahun 2022 merupakan yang tertinggi sejak tahun 2013, ketika angkanya mencapai 870 metrik ton.
Laporan PBB yang dirilis hari Kamis (26/1/2023) itu menyebutkan perekonomian Myanmar dihantam masalah eksternal dan domestik pada 2022 – seperti perang Rusia-Ukraina, ketidakstabilan politik (kudeta) serta lonjakan inflasi – yang menjadi alasan bagi para petani untuk kembali bercocok tanam opium poppy.
“Gangguan ekonomi, keamanan, disrupsi pemerintahan menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada Februari 2021 terjadi bersamaan, sehingga petani di daerah terpencil, terutama di daerah konflik di bagian utara Shan dan negara-negara bagian di sepanjang perbatasan, tidak memiliki banyak pilihan kecuali kembali kepada opium,” papar Jeremy Douglas, perwakilan regional untuk UN Office on Drugs and Crime (UNODC), seperti dilansir BBC.
Sejak kudeta, PBB juga memantau adanya kenaikan produksi narkoba sintetik. Dalam beberapa tahun terakhir, narkoba jenis ini telah menggantikan opium sebagai sumber pendanaan bagi kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di daerah perbatasan Myanmar yang dilanda perang.
Produksi opium yang lebih banyak membutuhkan tenaga manusia dibandingkan narkoba sintetik menjadi peluang kerja bagi masyarakat.
Tahun lalu petani Myanmar memperoleh harga jual opium $280/kg. Mereka diuntungkan tidak hanya dari harganya yang mahal, tetapi opium juga banyak dicari sebagai bahan baku pembuatan beragam obat-obatan dan narkotika seperti heroin, morfin dan kodein.
Area budidaya opium poppy pada 2022 naik sepertiga menjadi 40.100 hektare. Hasil opium rata-rata juga meningkat ke angka tertinggi sejak UNODC mulai melakukan pencatatan pada tahun 2002.
Di kawasan Golden Triangle (Segitiga Emas) – di mana perbatasan wilayah negara Myanmar, Thailand dan Laos bertemu – sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil besar opium dan heroin.
“Pada akhirnya, budidaya opium benar-benar soal ekonomi, dan tidak dapat diselesaikan dengan sekedar menghancurkan tanaman yang justru hanya akan meningkatkan kerentanan,” kata Benedikt Hofmann, manajer UNODC untuk negara Myanmar.
“Tanpa alternatif dan stabilitas ekonomi, budidaya dan produksi opium kemungkinan akan terus berkembang,” imbuhnya.*