Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

PBB: Produksi Opium Myanmar Catat Angka Tertinggi

Ama Farah
Terakhir diupdate: 29 Januari 2023 23:10 11:10 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 29 Januari 2023 10:05
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Produksi opium Myanmar melonjak tajam, mencatat angka tertinggi kurun sembilan tahun terakhir. 

Angkanya menyentuh 795 metrik ton pada 2022, hampir dua kali produksi 2021 – sebanyak 423 metrik ton – tahun ketika militer melakukan kudeta, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.

PBB meyakini kenaikan didorong oleh kesulitan ekonomi dan gangguan keamanan, serta lonjakan harga global getah opium yang dipergunakan untuk membuat heroin.

Menurut laporan sebelumnya dari UN Office on Drugs and Crime (UNODC), lembaga PBB urusan narkoba dan kriminalitas, harga opium melambung di Afghanistan musim semi lalu setelah pemerintah Taliban mengumumkan larangan penanaman pohonnya.

Myanmar merupakan penghasil opium terbesar kedua dunia setelah Afghanistan. Kedua negara itu merupakan sumber sebagian besar heroin yang dijual seantero dunia. Nilai ekonomi opium Myanmar mencapai $2 miliar, berdasarkan perkiraan PBB, sementara perdagangan regional heroin bernilai sekitar $10 miliar.

Baca Juga

Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi
Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter dalam Perpres Pertahanan Negara
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah

Kurun dekade terakhir ketika perekonomian Myanmar membaik, penanaman opium poppy di negara itu mengalami penurunan.

Namun, laporan survei opium tahunan yang dilakukan PBB menunjukkan dua tahun terakhir produksinya naik kembali. Produksi opium pada tahun 2022 merupakan yang tertinggi sejak tahun 2013, ketika angkanya mencapai 870 metrik ton.

Laporan PBB yang dirilis hari Kamis (26/1/2023) itu menyebutkan perekonomian Myanmar dihantam masalah eksternal dan domestik pada 2022 – seperti perang Rusia-Ukraina, ketidakstabilan politik (kudeta) serta lonjakan inflasi – yang menjadi alasan bagi para petani untuk kembali bercocok tanam opium poppy.

“Gangguan ekonomi, keamanan, disrupsi pemerintahan menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada Februari 2021 terjadi bersamaan, sehingga petani di daerah terpencil, terutama di daerah konflik di bagian utara Shan dan negara-negara bagian di sepanjang perbatasan, tidak memiliki banyak pilihan kecuali kembali kepada opium,” papar Jeremy Douglas, perwakilan regional untuk UN Office on Drugs and Crime (UNODC), seperti dilansir BBC.

Sejak kudeta, PBB juga memantau adanya kenaikan produksi narkoba sintetik.  Dalam beberapa tahun terakhir, narkoba jenis ini telah menggantikan opium sebagai sumber pendanaan bagi kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di daerah perbatasan Myanmar yang dilanda perang.

Produksi opium yang lebih banyak membutuhkan tenaga manusia dibandingkan narkoba sintetik menjadi peluang kerja bagi masyarakat.

Tahun lalu petani Myanmar memperoleh harga jual opium $280/kg. Mereka diuntungkan tidak hanya dari harganya yang mahal, tetapi opium juga banyak dicari sebagai bahan baku pembuatan beragam obat-obatan dan narkotika seperti heroin, morfin dan kodein.

Area budidaya opium poppy pada 2022 naik sepertiga menjadi 40.100 hektare. Hasil opium rata-rata juga meningkat ke angka tertinggi sejak UNODC mulai melakukan pencatatan pada tahun 2002.

Di kawasan Golden Triangle (Segitiga Emas) – di mana perbatasan wilayah negara Myanmar, Thailand dan Laos bertemu – sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil besar opium dan heroin.

“Pada akhirnya, budidaya opium benar-benar soal ekonomi, dan tidak dapat diselesaikan dengan sekedar menghancurkan tanaman yang justru hanya akan meningkatkan kerentanan,” kata Benedikt Hofmann, manajer UNODC untuk negara Myanmar.

“Tanpa alternatif dan stabilitas ekonomi, budidaya dan produksi opium kemungkinan akan terus berkembang,” imbuhnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headline
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penjara Bagi Remaja Inggris yang Videonya Menginspirasi Pembunuhan Rasis di Amerika
Tulisan selanjutnya Tafsir Ayatul Ahkam Surat Al-Baqarah 258-260: Kisah Nabi Ibrahim dan Namrud (1)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Berita
2 Juli 2026 21:00
Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

Terbaru

  • Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi
  • Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter dalam Perpres Pertahanan Negara
  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan

4 Juli 2026 11:23
Berita

Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran

4 Juli 2026 10:20
Berita

Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas

4 Juli 2026 09:52
Berita

Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”

3 Juli 2026 23:58
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?