Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Ditanya Politik Identitas, Ismail Fajrie Alatas: Kita Tak Bisa Meninggalkan Identitas

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Februari 2023 10:17 10:17 am
Ahmad
Dipublikasikan 4 Februari 2023 10:14
Bagikan
Ismail Fajrie Alatas
Bagikan

Hidayatullah.com—Anthropologist dan dosen di New York University Ismail Fajrie Alatas mengatakan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari identitas. Adanya stigma dalam politik identitas, sebagaimana banyak dibicarakan akhir-akhir ini, menurutnya adalah problem dari asumsi-asumsi filsafat liberal atau filsafat politik liberal.

Ia mengutik Jurgan Habermas (sosiolog kawakan dari universitas Frankfurt, Jerman), katanya ada ranah publik yang seolah-olah seseorang bisa masuk atau menanggalkan itu semua pertalian primordial kita. Padahal menurut Fajrie, hal itu adalah sesuatu yang mustahil.

“It’s wishful thinking menurut saya,” ujar Fajrie Alatas saat diwawancarai oleh Wakil Ketua DPR RI Fadhli Zon di channel Youtube-nya dengan judul “Ismail Fajrie Alatas, Pakar Sejarah Islam yang Jadi Profesor di New York University”.

Suami mantan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany ini mengatakan, kultur itu adalah sesuatu yang bisa dimasuki dan bisa keluar. Bahwa kita itu bisa masuk dan keluar dari sebuah kultur dan dari sebuah identitas, yang disebutnya “something that you can exit or enter”.

“Kita nggak bisa keluar dari dari kultur (identitas, red). Oke saya kalau misalnya di rumah sebagai orang Jawa atau orang Arab atau orang Padang. Saya menggunakan kultur saya tapi pada saat saya masuk di gedung parlemen sebagai anggota dewan saya bisa meninggalkan kultur itu, termasuk bahasa yang kita gunakan dan lain-lain, semua adalah sesuatu yang membentuk kompleksitas bernama identitas,” ujar dosen Timur Tengah dan sejarah Islam ini.

Baca Juga

Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Nah sekarang tinggal clash antara banyak beragam konflik identity politic saja. Terkadang yang saya suka pikirkan itu, misalnya kita di sini mengatakan bahwa nasionalisme kita berbasis kebangsaan. Tapi juga ada yang bilang tanah air buat bagi kita itu penting.

Pria yang lahir Semarang, 18 September 1983, mengaku sangat kagum dengan gagasan para pendiri Indische Partij (Partai Hindia), partai politik pertama di Hindia Belanda yang berdiri di Bandung pada 25 Desember 1912. Partai yang didirikan tiga tokoh bersejarah yang juga dikenal sebagai Tiga Serangkai (E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Suryaningrat) ini dinilai telah memiliki pemikiran yang sudah jauh, meski usahanya dianggap tidak menang.

“Mungkin satu contoh yang yang saya sangat terkagum ya dari sejarah Indonesia itu adalah imajinasi politik yang sebenarnya kalah dalam sejarah Indonesia adalah imajinasinya Indische Partij (partai politik pertama di Hindia Belanda),” ujarnya.

Mereka (Indische partij), kata Fajrie, mencoba berbicara sangat serius tentang tanah air, meskipun usahnya dianggap kurang berhasil karena kalah. “Di mana orang Indo, orang China, orang Arab, nggak masalah karena masalahnya ini bukan orang asli atau non-asli. Masalahnya adalah tanah air kalau kita memang mau berkomit terhadap tanah air ini,” ujar dia.

Menurut dia, Douwes Dekker, R.M Soewardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoen Koesoemo sudah sangat revolusioner kala itu, yang sudah berfikir luas, tentang kebangsaan. Jadi menurut dia, intinya, kita semua tidak bisa keluar dari identitas.

“Berarti buttom line nya adalah kita tidak bisa keluar sebenarnya dari politik identitas. Itu (stigma politik identitas, red) adalah satu satu konsep dari politik liberal kiri yang mengasumsikan dan mengandaikan bahwa kita bisa keluar dari itu. Bahwa kita bisa menanggalkan itu semua,” tambahnya.
Menurutnya, pemikiran seperti itu khas pemikiran filsuf Jerman Immanuel Kant. “Kalau kita baca karya-karya politik dan etik-nya Immanuel Kant, misalnya, dia mengasumsikan seperti itu bahwa kita bisa menjadi manusia rasional yang tidak terikat dari sekat-sekat itu.”

“Tapi kenyataannya itu wishfull thingking. Faktanya, kita berpikir melalui bahasa dan bahasa itu adalah cultural entanglement (jalinan budaya), “ tambah dia.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinepolitik identitasstigma politik identitas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Belajar Bahasa Arab, Mulai dari Mana?
Tulisan selanjutnya Penyakit Mematikan Menyebar ke Amerika, Disebut Bisa Mengubah Pasien jadi ‘Zombie’?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

5 Juni 2026 05:00
Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

4 Juni 2026 21:20
Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

4 Juni 2026 14:01
Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

4 Juni 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?