Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kematian Terkait Cuaca Panas di Eropa Naik 30 Persen

Ama Farah
Terakhir diupdate: 23 April 2024 13:43 1:43 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 23 April 2024 13:43
Bagikan
Sejumlah orang bermain air di taman umum di Paris untuk menghalau hawa panas.
Bagikan

Hidayatullah.com– Data yang dipublikasikan dua lembaga Eropa hari Senin (22/4/2024) menunjukkan bahwa Eropa mengalami banyak hari-hari stres akibat panas ekstrem sepanjang tahun 2023, yang berkontribusi pada kenaikan angka kematian pada musim panas di benua itu.

Tahun lalu Eropa mengalami kondisi cuaca ektrem kontras. Benua itu mengalami banyak gelombang hawa panas, banjir besar, kekeringan berkepanjangan, badai besar, serta kebakaran hutan dan lahan terbesar sepanjang sejarah.

Dalam laporan yang disusun bersama oleh lembaga di bawah Uni Eropa Copernicus Climate Change Service dan lembaga di bawah PBB World Meteorological Organization, disebutkan bahwa bencana-bencana alam berkaitan dengan cuaca itu menimbulkan kerugian miliaran dolar dan berdampak kepada lebih dari dua juta orang.

Konsekuensinya terhadap kesehatan masyarakat akut. Penduduk di berbagai belahan Eropa mengalami banyak hari stres disebabkan hawa panas selama 2023, kata Rebecca Emerton, seorang ilmuwan iklim di Copernicus.

Untuk keperluan studi itu, Copernicus dan WMO menggunakan Universal Thermal Climate Index, yang mengukur efek perubahan lingkungan terhadap tubuh manusia. Faktor yang dilihat bukan sekedar suhu udara tinggi, tetapi juga bagaimana kelembabannya, kecepatan angin, sinar matahari dan panas yang muncul di lingkungan sekitar.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Stres panas ekstrem dirasakan ketika suhu udara melebihi 46 derajat Celsius, di mana orang berisiko mengalami heat stroke, kata Emerton.

Paparan suhu panas berkepanjangan sangat berbahaya teruta bagi kalangan rentan seperti manula atau mereka yang sudah memiliki masalah kesehatan, dengan efek panas ekstrem dirasakan jauh lebih kuat di daerah perkotaan.

Sebanyak 23 dari 30 gelombang panas terburuk yang tercatat di Eropa terjadi pada abad ini. Kurun 20 tahun terakhir angka kematian berkaitan dengan hawa panas naik 30 persen, kata laporan itu seperti dikutip RFI.

Musim panas 2023, meskipun dirasakan sangat panas oleh banyak orang, ternyata bukan waktu terpanas di Eropa. Kebanyakan wilayah Eropa justru merasakan gelombang panas yang menyengat di waktu ketika musim panas sebenarnya sudah lewat yaitu antara bulan Juni dan September, kata Emerton. Secara keseluruhan pada tahun 2023, bulan September merupakan yang terpanas.

Eropa mengalami kenaikan suhu duankali lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global. Di masa mendatang gelombang panas akan berlanjut pada masa yang lebih panjang dan terasa lebih panas, kata laporan itu.

Para ilmuwan sepakat emis gas rumah kaca sebagai penyebab menghangatnya suhu planet Bumi. Hal ini menyebabkan cuaca ekstrem terjadi lebih sering dan lebih intense.

Ditambah dengan masalah populasi dunia yang menua, masalah-masalah di atas menimbulkan konsekuensi buruk bagi kesehatan masyarakat.

Secara global tahun 2023 merupakan tahun terpanas, dan lautan – yang menyerap 90 persen panas yang ditimbulkan emisi karbondioksida – juga membukukan rekor suhu hangat baru.

Gletser di seluruh bagian Eropa mengalami penurunan jumlah salju, sementara Yunani mengalami kebakaran hutan dan lahan terbesar sepanjang sejarah Uni Eropa.

Kontrasnya, 2023 jiga merupakan masa paling basah bagi Eropa, di mana 1,6 jutaborang terdampak banjir dan 550.000 lain terdampak badai.

Cuaca ekstrem itu menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari €13 miliar, dengan 80 persen disebabkan banjir.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Eropa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perdana Menteri Australia Sebut Elon Musk Miliarder Arogan
Tulisan selanjutnya Tanaman Hutan Musnah Hewan di Uganda Makan Kotoran Kelelawar Mengandung Virus

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?