Hidayatullah.com–Suasana kepanikan dan duka menyelimuti Pondok Pesantren Al-Khoziny di Desa Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, setelah bangunan musala empat lantai di asrama putra ambruk pada Senin sore, sekitar pukul 15.00 WIB. Musibah ini terjadi saat ratusan santri sedang menunaikan shalat Ashar berjamaah di lantai dasar bangunan yang diketahui tengah dalam perbaikan dan pembangunan.
“Kala itu, para santri bersama para ustaz sedang melaksanakan shalat Ashar di musala. Namun tiba-tiba gedung musala ini runtuh dan santri yang ada di bawahnya itu tertimbun,” ungkap Lukman Rozak, jurnalis Transmedia yang melaporkan langsung dari lokasi.
Menurut kesaksian di lapangan, jumlah jemaah dan santri yang sedang shalat Ashar di lantai dasar bangunan tersebut diperkirakan mencapai ratusan orang. “Berdasarkan keterangan para santri dan keterangan dari pihak RT, diduga memang ada kurang lebih 100 santri yang saat itu sedang melaksanakan ibadah shalat Ashar,” tambah Lukman Rozak.
“Data dari Pemkab Sidoarjo maupun Pemprov Jatim belum bisa mengonfirmasi berapa jumlah pasti yang terjebak di dalam reruntuhan. Namun, saksi mata di sekitar lokasi mengatakan korban bisa mencapai puluhan bahkan ratusan,” kutip Nanang dikutip CNN.
Sesaat setelah kejadian, suara-suara minta tolong terdengar jelas dari balik reruntuhan bangunan. Kepala Kantor SAR Jawa Timur, Nanang Sigit, membenarkan adanya jeritan dari korban. “Kami memang masih mendengarkan jeritan-jeritan dari para santri yang ada di bawah reruntuhan,” ujarnya.
Upaya evakuasi segera dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan BAsharnas. Belasan ambulans disiagakan di halaman pesantren untuk mengangkut korban. Namun, proses evakuasi menghadapi kendala berat.
“Evakuasi ini agak berjalan sulit karena petugas harus menembus bangunan yang memang betonnya ini agak besar,” jelas Lukman Rozak.
Nanang Sigit menambahkan bahwa kendala utama adalah posisi korban yang tersebar di banyak sela-sela reruntuhan dan kondisi bangunan yang masih sangat rentan untuk runtuh kembali.
“Kami memang masih terkendala bahwa bangunan ini masih rentan sekali untuk runtuh kembali. Kami tidak bisa menggunakan peralatan yang bergetar karena akan membuat roboh bangunan-bangunan yang masih miring,” terangnya.
Hingga malam hari, tim SAR masih berjuang membuka akses ke lokasi santri yang tertimbun. Bantuan oksigen juga disalurkan ke rongga-rongga reruntuhan yang memungkinkan adanya korban yang masih hidup.*




