Hidayatullah.com – Pameran Buku Internasional Damaskus ke-57 resmi dibuka pada hari Kamis di ibu kota Suriah, menjadi edisi pertamanya sejak jatuhnya rezim Assad.
Pameran Buku Internasional Damaskus adalah salah satu pameran budaya tertua dan terbesar di dunia Arab dan akan dibuka untuk umum pada hari Jumat.
Presiden Suriah Ahmad al Sharaa, yang hadir dalam pembukaan pameran, menggambarkan pameran tersebut sebagai sebuah “pembebasan penuh” Suriah.
“Umat manusia telah lama mencari kebenaran,” kata al Sharaa dalam sambutannya. “Semakin banyak pengetahuan bertambah, semakin besar kesadaran, dan dengan itu kebutuhan akan pembelajaran berkelanjutan.”
Menurutnya, masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan pasti akan lemah, sedangkan masyarakat yang memperoleh dan menerapkannya akan menjadi semakin kuat. Apalagi, Damaskus secara historis merupakan salah satu mercusuar ilmu pengetahuan yang pengaruhnya pernah menyebar ke timur dan barat.
Damascus Book Fair tahun ini berlangsung dari tanggal 6 Februari hingga 16 Februari dengan slogan “Sejarah yang kita tulis… sejarah yang kita baca.”
Diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Suriah, pameran ini diadakan untuk pertama kalinya sejak runtuhnya rezim Assad.
Arab Saudi dan Qatar berpartisipasi sebagai tamu kehormatan, yang menggarisbawahi keterlibatan regional yang lebih luas dengan pembukaan kembali budaya Suriah.*




