Hidayatullah.com– Amerika Serikat menawarkan hadiah sampai $10 juta untuk informasi tentang keberadaan para pejabat militer dan intelijen Iran, termasuk pemimpin tertingginya yang baru Mojtaba Khamenei.
Hadiah itu ditargetkan untuk 10 pejabat yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Iran, menurut situs web Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Korps paramiliter itu dibentuk setelah Revolusi Iran 1979 dan loyal terhadap pemimpin tertingginya dan diberi tugas untuk melindungi para tokoh Syiah Iran.
Mojtaba Khamenei baru-baru ini menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah dia terbunuh bersama dengan beberapa petinggi Iran lain dalam serangan yang dilakukan bersama oleh AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Mojtaba Khamenei diyakini ikut terluka dalam serangan tersebut dan dia belum tampil ke publik sejak didaulat sebagai pemimpin tertinggi Iran, meskipun pada hari Kamis (12/3/2026) merilis pernyataan pertamanya.
Selain menarget Mojtaba Khamenei, AS juga mencari informasi tentang kepala keamanan Iran Ali Larijani, Menteri Intelijen Esmail Khatib, Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni dan dua pejabat lain di kantor Khamenei.Larijani muncul dalam video yang dirilis hari Jumat (13/3/2026) bersama dengan Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Aragchi yang menunjukkan mereka sedang menghadiri pertemuan umum di Teheran, meskipun menurut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth para pemimpin Iran ketakutan dan “bersembunyi di bawah tanah” sejak serangan dilancarkan. Video tersebut sudah diverifikasi Reuters.
Empat pejabat Iran lain yang namanya tecantum di dalam situs web Amerika itu termasuk komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sekretaris dewan pertahanan, tetapi nama atau foto mereka tidak dicantumkan.
“Para individu ini mengomandoi dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengorganisir, dan melaksanakan serangan terorisme di seluruh dunia,” kata Departemen Luar Negeri AS.
Washington sudah menyatakan Korps Garda Revolusi Iran sebagai sebuah organisasi teroris asing, menudingnya sebagai pelaku serangan-serangan yang menewaskan warga AS.
Washington juga menuduh Iran mengupayakan pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat AS lain sebagai balas dendan atas kematian komandan militer Iran Qassem Soleimani pada 2020.
Iran senantiasa membantah tuduhan sebagai sponsor terorisme. Para pejabat Iran selalu menyangkal tuduhan-tuduhan AS dan menyebutnya sebagai serangan politik tidak berdasar. Teheran mengatakan Washington sengaja mengarang klaim-klaim tersebut untuk membenarkan berbagai tindakan dan sanksi yang merugikan Iran.*




