Hidayatullah.com–Amerika Serikat dan Kuwait sepakat untuk memperdalam kerja sama dan integrasi militer, dengan fokus pada penangkalan serangan drone, penguatan pertahanan misil dan udara serta perluasan kerja sama keamanan maritim, kata Pentagon hari Jumat (21/8/2026) seperti dilansir Al Arabiya.
Sejumlah pejabat dari kedua negara bertemu di Pentagon pekan ini dalam acara 16th US-Kuwait Joint Military Commission, di mana mereka merumuskan peta jalan operasional baru guna mempererat kapabilitas pertahanan Kuwait dan interoperabilitas dengan pasukan AS.
Pembicaraan-pembicaraan itu dipimpin oleh pejabat tinggi Pentagon untuk urusan Timur Tengah Mike DiMino dan Kepala Staf Jenderal Kuwait Letnan Jenderal Khaled al-Shriaan. Para pejabat Amerika dari Komando Pusat AS (CENTCOM), Staf Gabungan, Departemen Luar Negeri, dan Garda Nasional Maryland juga ikut ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan itu.
Merebaknya penggunaan drone dan sistem pesawat tanpa awak dalam sebagai alat tempur menjadi topik utama dalam diskusi, dengan para pejabat menyoroti bagaimana teknologi tersebut telah mengubah peperangan modern dan meningkatkan kebutuhan akan integrasi militer yang lebih besar.
Awal tahun ini, Washington mengumumkan persetujuannya atas penjualan senjata senilai $1,98 miliar ke Kuwait, salah satu dari beberapa negara Teluk yang terkena serangan Iran selama perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS-Israel pada 28 Februari.
Penjualan tersebut memungkinkan Kuwait untuk membeli teknologi anti-drone dari perusahaan pertahanan Anduril.
Selama pertemuan-pertemuan pekan ini, AS dan Kuwait juga membahas peningkatan pertahanan udara dan rudal terpadu di kawasan Timur Tengah, perluasan kerja sama keamanan maritim, dan penyederhanaan pengiriman senjata AS ke Kuwait.
Secara terpisah, DiMino mengumumkan bahwa Kuwait sudah resmi bergabung dengan US State Partnership Program dan akan bermitra dengan Maryland National Guard, sehingga membuka jalan bagi kerja sama jangka panjang antara angkatan bersenjata kedua negara.
Kuwait merupakan salah satu sekutu utama non-NATO bagi Amerika Serikat dan di negara kecil itu ditempatkan ribuan pasukan Amerika, menjadikan negara Teluk kaya raya tersebut sebagai komponen kunci dari postur militer AS di kawasan itu.*




