Hidayatullah.com–Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL kembali digelar pada hari Kamis, 6 November 2014, di Aula INSISTS, Kalibata membahas tentang “Sejarah Syi’ah”.
Acara menghadirkan peneliti INSISTS Asep Sobari, Lc sebagai narasumber. Asep yang juga dikenal sebagai narasumber untuk Sirah Club Indonesia (SCI) yang digelar secara rutin pada setiap Rabu malam di tempat yang sama, membahas sejarah Syiah.
“Dari segi bahasa, ‘Syi’ah’ berarti pendukung atau pengikut. Di awal masa fitnah sahabat, kata ‘syi’ah’ digunakan dalam pengertian ini, sehingga ketika itu dikenal istilah ‘Syi’ah Ali’ dan ‘Syi’ah Mu’awiyah’,” papar Asep Sobari.
Asep juga menambahkan bahwa dalam terminologi aslinya, kata “syi’ah” tidak identik dengan pendukung Ali ra.
Syi’ah menjadi identik sebagai pendukung Ali ra sebagaimana Syi’ah di jaman sekarang ini karena terjadinya perubahan secara bertahap.
“Menurut Dr. Nashir al-Qafari, tidak dapat dipastikan betul kapan terjadinya perubahan terminologi ini. Kemungkinannya pasca pembunuhan Husain bin Ali ra, berdasarkan pernyataan al-Mas’udi,” ujarnya.
Namun sekarang ini, Syi’ah meyakini bahwa para sahabat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra dan Utsman bin Affan ra termasuk musuh Ali ra. Akan tetapi Syarik bin Abdullah al-Qadhi juga dikenal sebagai ‘Syi’ah Ali ra’, beliau justru memuliakan Abu Bakar ra dan Umar ra.
“Semua Syi’ah Ali ra (sejati) berkeyakinan seperti itu. Karena kami mendengar Ali pernah berkata, ‘Abu Bakar dan Umar adalah orang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.’ Lalu bagaimana mungkin kami tidak mengutamakan mereka?” ujar Asep Sobari mengutip kata-kata Syarik.
Adanya hal ini menunjukkan bahwa ajaran Syi’ah yang sekarang adalah hasil dari perubahan bertahap yang telah terjadi ratusan tahun lamanya.
Di akhir diskusi, Asep mengingatkan seluruh peserta SPI untuk memperkuat akidah.
“Jangan asal menghakimi Syi’ah, namun kita sendiri lemah akidah. Yang membuat Syi’ah mudah merekrut pengikut baru adalah karena keislaman masyarakat Muslim di Indonesia itu lemah. Maka, perkuatlah keislaman kita,” ujarnya.*/Ajeng Wismiranti