Hidayatullah.com–Salah satu pintu masuk pemahaman pro-Lesbian,Homoseksual, Biseksual dan Transgende (LGBT) ialah karena tersekulerkannya pemikiran. Dampaknya adalah kebebasan cara berpikir dan berperilaku.
Demikian diungkapkan Jumiatun Diniah, salah seorang alumnus Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Jakarta, hari Senin (22/02/2016) kemarin.
“Rata-rata mereka yang pro-LGBT memakai dalih mengatasnamakan HAM. Ketika seseorang sudah terjangkit virus sekularisme, pluralism dan liberalisme, maka sangat berkemungkinan untuk mendukung propaganda LGBT,” kata Jumi yang juga aktif di Yayasan Peduli Sahabat (PS), sebuah lembaga pendampingan dan konseling bagi mereka yang didera SSA (same-sex attraction – red.).
Menurut Jumiatun, kampanye pro-LGBT dilakukan melalui banyak jalur, mulai dari politik, budaya, teologis, hingga melalui lembaga internasional. “Bahkan mereka merangkul para intelektual, agar secara ilmiah seolah bisa dibuktikan bahwa homoseksual adalah sebuah kondisi ‘given’ (dari sananya – red.),” ungkap Jumi, seraya menekankan pentingnya menangkal kampanye gerakan homoseksual tersebut dari berbagai sisi.
Sarjana psikologi tersebut mengemukakan, dalam aktivitas pendampingan dan konseling, sebagai lembaga yang tergolong baru, pihaknya menghadapi cukup banyak tantangan dan kesulitan.
“Misalnya dalam hal ketersediaan jumlah resources, baik waktu, tenaga, maupun personil yang berkenan terlibat, demikian juga dengan pendanaan,” kata Jumi.
Ia juga menuturkan bahwa lembaga pendampingan serupa mungkin sudah ada, “tetapi kebanyakan mereka berbayar, dan tidak menyatakan diri secara terbuka menyediakan layanan ‘gratis’.”
Jumiatun bergabung dengan lembaga yang didirikan oleh Agung Sugiarto itu sejak awal-awal Peduli Sahabat menjelma jadi yayasan pada Maret 2015.
Di tengah berbagai tantangan pemikiran sekularisme, pluralism dan liberalism (SePILIS) serta kesulitan lainnya, Jumiatun dan kawan-kawannya terus bergerak memberikan pencerahan kepada masyarakat.
“Motivasi terbesar saya karena Allah saja,” ujar perempuan alumnus angkatan pertama dari SPI Fatahillah Jakarta itu.*/kiriman Zaki Fathurohman