Hidayatullah.com– Pemuda Islam hendaknya bersemangat dalam menjalankan ajaran Islam. Seharusnya mereka meniru para pemuda di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berlomba-lomba beribadah kepada Allah.
Namun sangat disayangkan, pemuda saat ini banyak yang berpaling dari agama, jauh dari ketaatan kepada Allah. Mereka melampiaskan syahwat bukan pada tempatnya, seperti melihat gambar-gambar tidak senonoh dan memakai narkoba.
Hal itu disampaikan oleh Syeikh Abu Abdillah Utsman bin Abdillah Al-Utmy As-Saalimi, Pengasuh Darul Hadits Dzamar*, Yaman, di Masjid Manarul Ilmi, kampus ITS Surabaya, Jawa Timur, Jumat (05/08/2016).
“Sungguh ini sangat menyedihkan. Padahal yang kita harapkan adalah pemuda-pemuda yang gagah berani membawa syariat Allah Subhanahu Wata’ala. Menanamkan agama Islam ke dalam diri mereka, kemudian menyebarkan risalah Islam kepada masyarakat,” ujarnya pada acara gelaran Yayasan Amal Islam Indonesia ini.
Kalau pemuda Islam mau mempelajari al-Qur’an dengan benar dan mengamalkannya, lanjutnya, maka mereka akan menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat. Menjadi orang baik dan bersemangat dalam menjalankan agama Allah.
Pesan untuk Ulama, Pejabat, dan Orangtua
Ulama yang juga ahli Hadits ini kemudian berpesan kepada para ulama, orangtua, dan orang-orang di pemerintahan agar bisa ikut andil mengawal para pemuda, supaya bersemangat dalam beragama.
Ia berpesan, para ulama dan orangtua hendaknya mengingatkan para pemuda agar meninggalkan hal-hal yang jelek.
Adapun para penguasa diimbau agar tidak membiarkan para pemuda bebas melakukan hal-hal yang merusak. Mereka semestinya menegakkan sanksi bagi para pemuda jika melanggar aturan; mencuri, berzina, mabuk-mabukan, membunuh, dan sebagainya.
“Kalau itu sudah mampu dilaksanakan, maka akan tercipta masyarakat yang aman dan sentosa,” tambahnya.
Di akhir tausiyahnya, Abu Abdillah berpesan kepada para pemuda agar senantiasa istiqamah di jalan Allah.
Sehingga mereka bisa masuk ke dalam salah satu golongan dari 7 golongan yang di akhirat nanti mendapatkan naungan dari Allah. Yaitu, pemuda yang tumbuh berkembang dalam keadaan beribadah kepada-Nya.*/ Luqman Hakim, pegiat komunitas menulis PENA Jawa Timur [*Update: revisi dari penulis soal nama narasumber, sebelumnya ditulis Muhammad Abdullah Bamusa]