Hidayatullah.com—Hari Kamis, 5 Maret 2015, Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL mengadakan kelas perdana perkuliahannya untuk angkatan kedua. Setelah sukses dengan angkatan pertama di akhir 2014 lalu, SPI kembali hadir di Jakarta.
Kuliah perdana ini dibuka dengan materi “Ghazwul Fikri” yang disampaikan oleh Akmal Sjafril, salah seorang pendiri SPI yang juga penulis buku Islam Liberal 101. Asep Rizal M., alumni SPI angkatan pertama, memoderatori kuliah perdana yang bertempat di gedung GIP di Jalan Kalibata Utara II tersebut.
“Ghazwul fikri menyerang masyarakat Indonesia melalui banyak aspek. Budaya, sains, media, ekonomi, bahkan sejarah,” papar Asep kepada para peserta. Selain itu, ustadz Akmal menekankan bahwa ghazwul fikri harus disikapi bagai perang yang sesungguhnya. “Perang itu harus ada perlawanan dari kedua belah pihak. bukan diserang dan menjadi korban sia-sia. Ketika Islam diserang, umat Muslim harus melawan,” ujar pemilik akun Twitter @malakmalakmal ini.
SPI angkatan kedua ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan. Mahasiswa yang mengikutinya berasal dari berbagai kampus, antara lain LIPIA, UNAS, Universitas Trilogi, UNJ, IPB, dan lain-lain. Selain dari kalangan mahasiswa, tidak sedikit juga yang berasal dari kalangan pekerja dan ibu rumah tangga.
“Mengikuti kuliah di SPI membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak SMA saat mentoring. Jaman sekarang, apa yang mereka baca, informasi yang mereka terima, bebas datang dari mana saja. Sudah menjadi kewajiban kita meluruskan pemahaman-pemahaman melenceng yang disebarkan musuh-musuh Islam di kalangan remaja khususnya,” ungkap Ilma, mahasiswi LIPIA, alumni SPI angkatan pertama ketika ditanya pengalamannya bersama SPI.
Perkuliahan SPI Jakarta akan berlangsung selama tiga bulan ke depan setiap Kamis pukul 18.30-20.30 WIB. Salah satu tujuan diadakannya sekolah ini adalah mencetak para da’i penulis yang mampu melawan serangan-serangan pemikiran dengan ilmu yang memadai.*/Afifah Nusaibah (Jakarta)